CELAKALAH AKU, JIKA AKU TIDAK MEMBERITAKAN INJIL
Kata “celaka” keluar dari mulut seseorang ketika ada sesuatu hal terlambat untuk disadari, sudah berlalu, belum tentu bisa terulang, dan ujungnya akan merugikan dan tidak sesuai harapan kita.
“Celaka, dompetku ketinggalan di warung makan!”
“Celaka, kita bisa malu kalau gagal menyelesaikan tugas ini.”
“Celaka, aku lupa memperingatkan dia kalau di depan ada jembatan putus”
Suatu ketika, Paulus pernah berkata, “celaka”. Ucapan itu keluar dari mulutnya bukan karena Paulus melupakan barang bawaannya, bukan pula karena ia telah melakukan dosa tertentu. Paulus berkata “celaka” jika ia dengan sengaja memilih untuk tak peduli dengan dunia yang terhilang. Paulus tahu bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi jika panggilan hidup setiap orang percaya tidak dikerjakannya dengan sungguh-sungguh, yaitu pemberitaan Injil. Injil menjadi mutiara yang terlampau berharga di tengah dunia yang tenggelam dalam lumpur dosa. Injil bagaikan air yang segar bagi orang-orang yang kehausan di tengah gurun pasir.
Injil adalah kabar baik, berita pembebasan, berita pemulihan, ungkapan cinta Allah kepada setiap manusia. Injil merobek klaim-klaim palsu yang dibangun oleh dunia:
Dunia menolak kita, tetapi Injil berkata kalau kita dikasihi oleh Allah, bahkan sebelum dunia diciptakan.
Dunia menganggap kita hina, tetapi Injil berkata kalau kita adalah biji mata-Nya.
Dunia menganggap kita bodoh, tetapi Injil berkata kalau kita adalah ciptaan-Nya yang sempurna.
Dunia berkata “tak ada pengampunan” bagi manusia yang jatuh dalam dosa, tetapi Allah memilih untuk memeluk kita yang berdosa dan membawa kita hidup bersama-Nya.
Untuk tujuan inilah kita ada sebagaimana sekarang ini. Allah mempercayakan pemberitaan kabar baik itu kepada Saudara, kepada kita semua. Kerinduan hati Allah adalah segala suku, bangsa, dan bahasa di segala zaman dan tempat, mengenal Dia dan menjadi anak-anak-Nya.
Tuhan Yesus sendiri pernah berkata kepada tujuh puluh murid-Nya di dalam LUKAS 10: 2, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.” Siapakah para pekerja itu? Kita lah salah satunya. Ya. Kita. Saudara yang sedang membaca tulisan ini, adalah pekerja-pekerja yang pernah didoakan oleh ketujuh puluh murid Yesus. Saudara adalah jawaban bagi doa-doa mereka.
Jadi, mari kita bersinergi bersama agar Injil terus diberitakan tanpa henti. Ingatlah, bahwa ladang pelayanan kita sampai ke ujung bumi. Memang, saat ini kita sedang mengerjakan satu dua hal tanggungjawab di dalam gereja, tetapi itu bukanlah titik akhir. Melalui hal tersebut, pelayanan kita sedang berangkat menuju ujung bumi.
Agar orang tahu, mendengar, dan sepakat tentang betapa luar biasanya Injil itu, maka hidup kita harus berpadanan dengan Injil. Segala tingkah laku, keputusan, perlakuan kita pada orang lain, cara berelasi, ucapan, dan segala sesuatu yang bersumber pada diri kita jangan sampai bertentangan dengan nilai-nilai Injil yang Allah singkapkan melalui firman-Nya. Saya percaya, ketika murid-murid Kristus menjalani kehidupan seperti ini dengan sungguh-sungguh, Injil akan semakin tersebar luas, bahkan di tempat-tempat paling gelap sekalipun.
(Pnt. Bobby Widya A.)