BUKAN SEKEDAR PUASA

  •  Sujud Swastoko
  •  

RENUNGAN HARIAN

GKI COYUDAN SOLO

Rabu, 22 Januari 2025


Bukan Sekadar Puasa

Lukas 5:33-39


Renungan hari ini membahas tentang puasa. Menurut seorang teolog terkenal, Dr. William Barclay, bagi orang-orang Yahudi yang amat disiplin, berpuasa merupakan praktek sekuler. Dalam agama Yahudi, puasa wajib sebenarnya hanya satu kali dalam setahun, yaitu pada Hari Penebusan. Berpuasa pada Hari Penebusan dipercaya bisa membuat dosa kita diampuni sehingga kembali suci.


Namun, orang-orang Yahudi yang sangat disiplin menambah puasanya, yaitu dua hari setiap Minggu, yaitu hari Senin dan Kamis, mulai pukul 6 pagi hingga 6 petang. Sebenarnya puasa itu baik agar kita bisa mengendalikan diri dan menghargai berkat-berkat Allah. 


Namun, orang-orang Yahudi melakukan puasa untuk pamer diri. Mereka berpuasa untuk menarik perhatian orang terhadap kebaikan mereka. Saat hari-hari puasa, mereka memutihkan wajah mereka dengan bedak seolah pucat dan mengenakan pakaian kusut supaya setiap orang yang melihat mereka akan segera tahu, bahwa mereka sedang berpuasa. Karena itulah mereka akan disanjung sebagai orang yang saleh.


Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat mempersoalkan murid-murid Yesus yang tidak berpuasa seperti layaknya orang Farisi maupun murid Yohanes. Terhadap hal itu, Tuhan Yesus menjawab, ”Dapatkah sahabat mempelai laki-laki disuruh berpuasa pada waktu mempelai itu bersama mereka?”


Apa yang dikatakan Tuhan Yesus itu karena memang dalam tradisi Yahudi, pada saat pernikahan maka sahabat mempelai tidak berpuasa karena dalam mereka sedang bersukacita. Tuhan Yesus tidak melarang berpuasa, namun perlu melihat situasi dan motivasinya. Kalau puasa hanya untuk sekadar pamer kesalehan dan rutinitas, tanpa memaknainya dengan benar yaitu untuk memuliakan nama Tuhan, maka puasa itu tidak berguna.


Tuhan Yesus hendak mengajarkan hal yang baru, bahwa beribadah tidak hanya sekadar ritual dan rutinitas, apalagi agar dianggap sebagai orang saleh. Beribadah, yang dalam hal ini adalah berupasa, harus benar-benar dipahami tujuan dan maknanya. Hal baru yang dilakukan Tuhan Yesus dan para murid-murid-Nya ternyata tidak mudah diterima oleh orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena mereka lebih suka memegang tradisi dan aturan lama yang menjebak mereka pada ritual yang hanya untuk kepentingan sendiri.


Melalui renungan ini kita disadarkan bahwa saat melakukan ibadah maka jangan terjebak pada rutinitas tanpa mengetahui maknanya. Kita harus terbuka dengan hal-hal baru yang dinyatakan Tuhan melalui kuasa-Nya dalam kehidupan kita, tidak terjebak pada ritual seolah kita orang saleh dan baik, namun ternyata hati kita kotor.


Sebagai anak Tuhan, maka hidup kita harus terus dipimpin Roh Kudus dan melakukan firman Tuhan dengan taat, karena kita tahu apa yang diajarkan Kristus adalah kebenaran yang sejati, yang membuat hidup kita berkenan di hadapan Allah. Kiranya Tuhan menyertai dan memberkati kita semua. Amin.


Pokok Doa

1. Perdamaian dan keamanan dunia.

2. Persidangan Majelis Jemaat (PMJ) nanti malam.

3. Pelayanan GKI Coyudan.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.