BUKAN HANYA UNTUK MEREKA YANG MUDAH DIKASIHI

  •  Rizki Listya Survinda
  •  

Renungan Warta, 23 Februari 2025


Bukan Hanya untuk Mereka yang Mudah Dikasihi

Lukas 6:27-38

Kasih, satu kata yang rasanya tidak pernah habis untuk dipelajari seumur hidup. Berbagai sisi kehidupan seperti relasi dengan pasangan, keluarga, sahabat, rekan sekerja, teman, masyarakat bahkan negara, tidak luput dari gesekan-gesekan yang bisa menimbulkan luka dan kecewa—yang daripadanya mengajarkan kita kembali apa itu arti mengasihi orang-orang yang sulit untuk dikasihi.

Tapi, bukankah orang-orang yang nganyelake (menjengkelkan) itu tidak bisa kita kendalikan keberadaannya, tidak bisa kita kendalikan bagaimana responsnya terhadap kita? Kendalinya justru hanya ada pada diri kita, yang sebenarnya selalu bisa memilih untuk hidup dalam perdamaian dengan semua orang, bukan?

Sebab, gesekan dalam relasi sangat mungkin adanya, dan konflik yang menimbulkan luka pasti memang menyakitkan. Namun, sekalipun menyakitkan, kita selalu punya pilihan agar gesekan dan konflik itu tidak berakhir destruktif. Ibarat pisau yang diasah, gesekan ini yang rasanya justru bisa menajamkan kita untuk semakin berempati, berani menyatakan apa yang benar, dan dengan rendah hati serta sabar membuat kita bisa mengampuni orang-orang yang sulit untuk dikasihi.

Kalau kita bisa akui, secara naluri, barangkali kita inginnya mengasihi dengan egois. Hanya mau mengasihi orang-orang yang mudah untuk kita kasihi. Tapi, Tuhan Yesus ingatkan kita "Jika kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Sebab orang berdosa pun mengasihi orang yang mengasihi mereka" (Lukas 6:32). Artinya, panggilan dan perjuangan untuk mengasihi yang dikehendaki Yesus adalah memang bagi orang-orang yang selama ini sulit untuk kita kasihi. Hanya pengalaman bersama dengan Tuhan Yesuslah yang bisa mengubah cara kita mengasihi (bila sebelumnya hanya ingin mengasihi yang mudah-mudah saja untuk dikasihi).

Kasih, pada akhirnya jadi satu kata yang tidak hanya membuat kita menyadari panggilan dan perjuangan untuk mengasihi mereka yang sulit untuk dikasihi. Tapi semestinya juga membuat kita menyadari, bahwa kita pun sebenarnya juga orang-orang yang sulit dikasihi oleh Allah, bukan? Tapi, Allah, tidak pernah berhenti mengasihi kita "...Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita dalam hal ini: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita" (Roma 5:8)

Kiranya, kasih sejati dari Allah yang kita alami, memampukan kita untuk mengasihi mereka yang mudah dikasihi dan mereka yang sulit untuk dikasihi. 

(Sdri. Rizki Listya Survinda, S.Fil)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.