BIJAK MENGHADAPI KONFLIK

  •  Sujud Swastoko
  •  


Yohanes 4:1-6

”Ia pun meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea” (ay.3)

Melalui firman Tuhan hari ini kita belajar dari Tuhan Yesus saat menghadapi persoalan yang bisa menimbulkan konflik antara diri-Nya dengan orang-orang Farisi yang menentang ajaran-Nya. 

Saat mengetahui bahwa orang-orang Farisi telah mendengar, bahwa Ia memperoleh dan membaptis lebih banyak dari pada Yohanes, maka Tuhan Yesus meninggalkan Yudea dan kembali lagi ke Galilea. Yudea dengan kota Yerusalem yang ada di wilayah itu merupakan daerah basis orang-orang Farisi, karena Yerusalem menjadi pusat agama orang-orang Yahudi.

Apabila Tuhan Yesus tetap berada di wilayah Yudea dan memberitakan Injil Kerajaan Allah bisa dipastikan semakin banyak orang yang dibaptis menjadi murid-Nya. Tuhan Yesus sendiri tidak membaptis, tetapi murid-murid-Nya, namun mereka yang telah dibaptis menjadi murid Kristus. Bila itu terjadi, maka orang-orang Farisi akan semakin panas hatinya dan itu bisa memicu konflik yang besar di Yudea.

Sebelumnya, orang-orang Farisi sudah berhadapan dengan Yohanes Pembaptis yang membuat banyak orang bertobat dan dibaptis. Tindakan Yohanes Pembaptis ini sangat berpengaruh terhadap kewibawaan para pemimpin agama Yahudi pada saat itu, karena orang banyak menganggap Yohanes adalah nabi yang diutus Allah. Apalagi Yohanes pernah melontarkan teguran yang keras kepada orang Farisi dan orang Saduki dengan menyebut  mereka keturunan ular beludak, saat mereka datang minta dibaptis.

Akhirnya Yohanes Pembaptis ditangkap dan dimasukkan penjara oleh Herodes, dan ini bisa membuat lega orang-orang Farisi. Tetapi sekarang mereka mulai mendengar bahwa Tuhan Yesus ternyata membaptis lebih banyak orang daripada Yohanes. Tentu mereka tidak akan tinggal diam dan berusaha untuk menghalang-halangi aktivitas Tuhan Yesus dan para murid, bahkan bisa menimbulkan konflik yang tajam di antar para pengikut. 

Oleh karena itulah, Tuhan Yesus memilih untuk menyingkir ke ke daerah utara, yaitu Galilea. Di daerah Galilea inilah Tuhan Yesus dan para murid lebih leluasa dalam mengabarkan Injil dan banyak melakukan mujizat. Galilea lokasinya jauh dari Yudea, dan jika dari Yudea mau ke Galilea harus melewati Samaria, wilayah yang dihindari orang Yahudi karena orang Samaria dianggap kafir.
 
Melalui peristiwa tersebut kita diajarkan untuk bersikap bijak dan meminta hikmat Tuhan saat berhadapan dengan kondisi yang berusaha menekan kita karena iman kita di dalam Tuhan Yesus. Jangan sampai kita terjebak pada konflik yang sebenarnya bisa dihindari, karena masih ada tempat lain yang menerima kita dengan baik. Konflik yang dipicu persoalan agama biasanya akan berkepanjangan dan melelahkan, walaupun ada yang menganggap itu sebagai ‘perjuangan iman’, namun lebih bijak jika energi kita disalurkan ke hal-hal lain yang bisa menjadi berkat rohani bagi orang lain.   

Kiranya Tuhan menolong dan memperlengkapi kita sehingga kita juga memiliki hikmat dari Tuhan dan bersikap bijak dalam menghadapi persoalan di dunia ini. Amin.

Pokok Doa: 
1.Ibadah Minggu Pra-Paska 3 besok pagi
2.Pergumulan setiap keluarga, agar tetap mengandalkan Tuhan.
3.Pelayanan di GKI Coyudan.

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.