BERTEKUN DALAM PENGAJARAN

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Bacaan: Kisah Para Rasul 2:42-47

 

Konsisten bukanlah satu hal yang mudah. Apalagi untuk sesuatu yang belum pernah kita lakukan sebelumnya. Bahkan seorang binaragawan yang melakukan pembentukan otot selalu menekankan bahwa latihan mereka harus dilakukan secara konsisten. Dengan konsisten maka hasil yang ingin dicapai akan terpenuhi. Tetapi perlu digarisbawahi yaitu bahwa konsisten adalah sebuah proses yang harus dijalani dan bukan hanya menunggu hasil akhirnya. Sehingga dapat dikatakan bahwa konsisten harus dijalani dan dinikmati sekalipun kita belum dapat melihat hasil akhirnya.

Setelah Yesus bangkit dan naik ke sorga, turunlah Roh Kudus seperti yang sudahdijanjikan oleh Yesus kepada murid-murid dan semua orang yang percaya kepada-Nya. Setelah itu para Murid berkumpul dan Petrus mulai berkhotbah. Ia berkata bahwa hendaklah setiap orang percaya memberi diri dibaptis untuk pengampunan dosa yang Yesus lakukan (2:38). Lalu akhirnya sekitar 3000 jiwa bertobat dan dibaptis pada hari itu.

Orang-orang percaya baru ini memulai sebuah komunitas pengikut Kristus yang pertama. Beberapa hal yang dapat kita temukan dalam bacaan kita yaitu bahwa mereka bertekun dalam pengajaran, saling berbagi dan bersekutu, dan juga saling mendoakan. Bahkan melalui kesaksian hidup dari komunitas orang percaya ini, banyak orang yang kemudian menjadi percaya kepada Kristus. Apakah yang menjadi dasar dari ini semua?

Kita dapat melihat bahwa hal pertama yang disebutkan oleh Lukas - sang penulis Kisah Para Rasul -, yakni bahwa mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul. Ini adalah satu hal yang penting. Melihat dari bagaimana mereka datang untuk bertobat bukan secara tiba-tiba, tetapi Roh Kudus menggerakkan hati mereka melalui khotbah atau pengajaran Petrus. Jelas bahwa mereka diperkenalkan kepada Kristus melalui pengajaran. Hal ini yang menjadi dasar bagi mereka dalam menjalani kehidupan mereka khususnya juga dalam kehidupan komunitas mereka.

Kita fokus pada kata bertekun, jika kita kembali lagi di awal kita membahas sebuah kata konsisten. Hal ini selaras, tekun dan konsisten. Jika saja orang-orang  percaya yang pertama pada waktu itu tidak konsisten dalam pengajaran dan mereka mengabaikan pengajaran iman-iman Kristen, mungkin kekristenan juga tidak akan sampai pada hari ini. Sekalipun kita tahu bahwa rencana Tuhan tidak akan pernah gagal, tetapi menariknya di sini Tuhan menunjukkan sebuah pelajaran berharga bagi kita di masa kini. Tuhan menunjukkan kegigihan orang-orang percaya terdahulu yang selalu bertekun dalam pengajaran sehingga kita pun seharusnya menyadari bahwa percaya dan mengikut Yesus bukan sekadar ucapan belaka namun perlu tindakan nyata; dan bukan hanya sekadar kasih dan mengasihi saja melainkan perlu sebuah "ketekunan" khususnya dalam pengajaran. Sehingga dapat kita simpulkan bahwa pertobatan yang murni dari orang-orang percaya terdahulu adalah menjaga hati mereka dengan bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, sehingga mereka dapat menerapkan iman-iman Kristen tersebut dalam kehidupan sosial mereka yakni berbagi, bersekutu, dan saling mendoakan.

Tidak mudah untuk konsisten, apalagi untuk sesuatu yang tidak biasa kita lakukan. Tidak perlu membaca buku-buku tebal tentang teologi untuk belajar tentang iman Kristen dan mengenal Kristus. Bacalah Alkitab sebagai Firman yang mutlak dan hidup yang telah diberikan Allah sebagai Wahyu Khusus yang memperkenalkan siapa diri-Nya dan apa saja yang dilakukan-Nya, secara teratur. Konsisten dan ketekunan dalam pengajaran harus terus kita jaga sekalipun kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan dalam mengenal Tuhan kita, tetapi teruslah lakukan hal itu sampai Tuhan Yesus datang kedua kali. Tuhan menolong kita. Amin.

Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja-pemuda GKI Coyudan
2. Pergumulan keluarga-keluarga Kristen dan relasi pasutri
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia

Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.