BELAJAR MEMAKNAI KEINDAHAN DARI KESEMENTARAAN HIDUP

  •  Rizki Listya Survinda
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan Solo

Senin, 24 Februari 2025


Belajar Memaknai Keindahan dari Kesementaraan Hidup


Mazmur 103:15-16

"Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, dia tidak ada lagi, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi."


Seperti halnya rumput, juga bunga yang bertumbuh, berbunga, dan kemudian layu, demikian pula kehidupan kita sebagai manusia yang sementara di dunia ini, bukan? Kesementaraan hidup ini tentu bukan untuk kta takuti, tetapi mengajak kita untuk merenungkan: dengan makna seperti apa kita telah dan akan mengisi hidup yang sementara ini di dunia?


Alam sendiri mengajarkan kita tentang perubahan yang tidak dapat terhindarkan, misalnya seperti:  matahari yang terbit dan lalu terbenam, musim yang terus berganti, ombak laut yang datang lalu pergi, dan lain sebagainya. Irama dari alam ciptaan Tuhan ini menjadi pengingat bagi kia bahwa kehidupan memiliki siklusnya tersendiri. Ketika kita belajar menyelaraskan diri dengan ritme alami ini, kita akan belajar kapan kita perlu bergerak dan kapan kita perlu diam, kapan kita perlu mengejar dan kapan kita perlu berserah, dan seterusnya.


Ada satu filosofi di Jepang yang selaras dengan renungan kita kali ini, yakni Wabi-Sabi. Dalam filosofi ini, kita diingatkan pula tentang adanya keindahan dalam ketidaksempurnaan dan perubahan kehidupan, seperti : daun yang menguning di musim gugur, retakan pada tembikar yang sudah tua usia pemakaiannya, ataupun pohon yang tetap berdiri tegak meskipun ia diterpa angin. Semuanya itu mengajarkan pada kita bahwa kehidupan adalah tentang menerima proses yang ada dengan kesadaran penuh.


Melalui renungan dari Mazmur, juga Wabi-Sabi kali ini, kita diajak dan diingatkan untuk hadir dalam setiap momen hidup kita. Ketika kita memperhatikan bagaimana musim berganti dan perubahan lainnya pada alam ini, kita belajar bahwa memang tidak ada yang abadi, termasuk hidup kita. Tetapi, setiap fase kehidupan selalu memiliki keindahannya sendiri. Oleh karenanya, kita dipanggil untuk menjaga keseimbangan kehidupan kita, kita dipanggil untuk memaknai perubahan hidup dengan syukur, dan menghargai setiap momen dalam kehidupan kita. Kiranya, Allah Sang Maha Pencipta Karya Ajaib Alam ini mengizinkan kita untuk mengalami-Nya dalam setiap karya ciptaan-Nya, agar kelak dari hidup kita pun, kita dapat menghadirkan pengalaman dan makna yang indah bagi sesama ciptaan-Nya yang lain.


Doa : Ya Bapa, trimakasih untuk alam yang telah Kau ciptakan, yang mengajarkan dan mengingatkan kami kembali tentang siklus kehidupan kami yang juga sementara ini. Selidiki setiap hati dan diri kami ya Tuhan, apa saja yang belum benar dalam kami memaknai, mengerjakan hidup yang Kau anugerahkan kepada setiap kami di dunia ini. Kiranya, hikmat-Mu menuntun setiap niat dalam hati dan pikiran kami, setiap ucapan dari mulut kami, dan setiap tindakan hidup kami. Demi Kristus, kami berdoa. Amin.


Rizki Listya Survinda

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.