BELAJAR DARI ALAM

  •  Rizki Listya Survinda
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Rabu, 12 Februari 2025


Amsal 30:24-28

Ada empat binatang yang terkecil di bumi, tetapi yang sangat

cekatan: semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan

makanannya di musim panas, pelanduk, bangsa yang lemah, tetapi

 yang membuat rumahnya di bukit batu, belalang yang tidak

mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur, cicak yang dapat kau tangkap dengan tangan, tetapi yang juga ada di

istana-istana raja"


Belajar dari Alam


Dalam fase-fase kehidupan, seseorang pasti mengalami pergumulan. Mulai dari yang sederhana hingga yang begitu

kompleks. Dalam perjalanan melalui pergumulan tersebut, seseorang

pasti juga sedang belajar. Bisa belajar dari pengalaman diri sendiri,

pengalaman orang lain, bahkan alampun dapat memberikan

pelajaran berharga.


Penulis Amsal menemukan hal menarik di alam yang dia sebut

sebagai keajaiban. Tidak banyak orang yang tertarik untuk

memperhatikan kehidupan seekor semut. Binatang yang kecil,

bahkan terlalu kecil untuk ukuran otaknya, ternyata bijaksana luar

biasa ketika mereka mengumpulkan makanan pada musim tertentu

untuk persediaan pada musim yang lain.

Pelanduk, binatang lemah namun memilih sarang di batu yang keras.

Naluri untuk mempertahankan diri telah membuat mereka tinggal di

batu yang keras, dengan celah sempit sehingga pemangsa akan

kesulitan untuk menemukannya. Belalang, binatang hama yang

tanpa pemimpin. Namun dalam perjalanan mencari makanan dapat

berbaris rapi secara bergantian berpindah dari satu tempat ke

tempat yang lain dengan saling melindungi.Cicak, binatang yang

paling mudah dijumpai namun istana raja bisa menjadi tempat

tinggalnya. Binatang lemah tidak berdaya namun tinggal di istana.

Belajar dari empat binatang tersebut, membawa kita pada

pencerahan bahwa Allah selalu menyediakan hikmat-Nya dalam setiap

pergumulan. Tuhan Yesus juga pernah mengingatkan kita untuk

belajar dari alam : bagaimana burung-burung gagak diberi makan

oleh Allah dan bunga bakung yang tetap tumbuh indah (Luk 12: 24 &

27). Kelemahan apapun tidak Dia biarkan ada tanpa ada penopangnya.


Justru dalam kelemahan, sikap kreatif akan terpicu untuk

berkembang dengan lebih baik. Maka, Tuhan yang telah menyediakan hikmat-Nya juga di alam, mari kita gunakan dan temukan itu.

Alam dapat mengajarkan banyak hal ketika kita melihatnya dalam

kaca mata Tuhan. Perhatikan dengan langkah iman, bahwa Allah

berkarya sedemikian ajaib pada alam.

Pertanyaan refleksinya, maukah kita merendahkan hati untuk

belajar dari alam ciptaan-Nya?


Doa:

Bapa, terimakasih untuk alam yang Kau ciptakan dan percayakan pada kami untuk mengelolanya. Ajari kami dengan hikmat-Mu untuk menjaga dan merawatnya, juga ajari kami untuk lebih peka belajar untuk menemukan hikmat-Mu, bahkan melalui alam ini, melalui hal-hal sederhana yang tadinya mungkin kami anggap sebagai hal yang biasa. Demi Kristus, kami berdoa. Amin


Rizki Listya Survinda

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.