BARA API
Roma 12:20
Revenge is sweet (balas dendam itu manis) sebuah istilah yang menggambarkan bahwa balas dendam kepada orang yang menyakiti kita itu memuaskan. Tetapi benarkah memang semanis itu atau justru menimbulkah rasa pahit yang menggelisahkan? Jika demikian apa bedanya kita dengan mereka yang jahat?
Rasul Paulus mengingatkan tentang kasih yang harus terwujud bagi sesama manusia, termasuk juga bagi musuh kita. Daripada memukul genderang perang, Tuhan menghendaki kita mengupayakan jalan perdamaian dengan tetap menunjukkan perbuatan baik bagi musuh kita. Jika ia lapar, berilah makan; jika ia haus, berilah minum. Dengan perbuatan baik itu, kita “menumpukkan bara api” di atas kepalanya. Kalimat tersebut jangan diartikan secara harafiah bahwa kita membakar kepala musuh. Arti dari kalimat itu adalah ritual pertobatan. Nabi Yesaya pernah diberikan “bara api” oleh malaikat di mulutnya sebagai perlambang penyucian dosa. Maka artinya, saat kita membalas perlakuan jahat musuh dengan kasih, kita sedang menunjukkan pada dia tentang dosanya yang harus ditobatkan. Sekaligus kasih yang menyucikan dendam kita menjadi pengampunan.
Dunia memang terbiasa dengan balas dendam, tetapi hal itu bukanlah standar kasih yang Tuhan ajarkan. Kasih yang kita perjuangkan justru menyucikan dendam dan amarah menjadi sejahtera. Di tengah dunia yang tidak ramah ini. Kita hendaknya perlu terus menerus memperjuangkan kasih yang mengalahkan musuh dengan perbuatan baik, bukan dengan kekerasan.
Doa pribadi:
Ya Tuhan biarlah amarah dan kebencian kami padam dengan cintaMu dan sejahterahMu. Amin
Pdt Daniel K Gunawan