ANGKUH MEMBAWA KEJATUHAN
Yehezkiel 28:1-10
Keangkuhan sudah menjadi masalah dari abad ke abad. Penulis CS Lewis menyebutnya sebagai “kanker jiwa” yang membuat seseorang sama sekali tidak bisa mengasihi, merasa puas, atau bahkan menggunakan akal sehatnya.
Melalui Nabi Yehezkiel, Allah memperingatkan raja negeri Tirus yang kuat itu tentang keangkuhannya. Dia mengatakan bahwa keangkuhan sang raja akan membawanya kepada kehancuran: “Karena hatimu menempatkan diri sama dengan Allah, maka, sungguh, Aku membawa orang asing melawan engkau” (Yeh. 28:6-7). Lalu ia akan menyadari bahwa dirinya bukanlah Allah, melainkan hanya manusia biasa (ay.9).
Lawan dari keangkuhan adalah kerendahan hati, yang disebut CS Lewis sebagai sifat luhur yang kita terima melalui pengenalan akan Allah. Lewis mengatakan bahwa karena kedekatan kita dengan Allah, kita akan “bahagia dalam kerendahan hati.” Kita merasa lega karena terbebas dari pandangan omong kosong tentang harga diri kita sendiri yang sebelumnya membuat kita gelisah dan tidak bahagia.
Pencapaian apa yang sudah kita raih hingga saat ini? Apakah kesuksesan dalam bidang usaha, studi, keluarga, atau pelayanan? Atau mungkin kita telah memperoleh berbagai hal, seperti kekayaan, jabatan, atau IPTEK yang luar biasa. Patut untuk direnungkan apakah semua pencapaian itu membuat kita bersyukur kepada Tuhan, atau sebaliknya membuat kita merasa tidak lagi membutuhkan Tuhan? Jangan sombong! Sesungguhnya segala yang ada pada kita adalah anugerah Tuhan; milik Tuhan.
Pokok doa pribadi
1. Ketabahan dalam pergumulan
2. Mohon agar Roh Kudus menuntun dan mengingatkan agar hidup rendah hati
Pdt. Daniel K. Gunawan