ALLAH YANG MURKA

  •  Gerald Raynhart Stephen
  •  

Renungan Harian GKI Coyudan

Kamis, 26 Maret 2026

Bacaan: Roma 1:18-24


Allah yang Murka


Tema ini sepertinya kurang enak untuk dibahas. Apalagi ditengah-tengah kondisi dunia yang semakin rusak. Bukankah sudah seharusnya kita bergandeng tangan untuk peduli dan menguatkan serta menghibur sesama kita? Bukankah seharusnya Allah yang ditampilkan adalah Allah yang penuh kasih yang merangkul semua orang? Kepedulian dan kasih yang sejati adalah mengungkap kebenaran dibalik penderitaan yang ada sekalipun tidak nyaman.


Dunia sekarang ini semakin enggan untuk berbicara mengenai satu masalah paling serius, yaitu DOSA. Banyak orang-orang yang mulai meninggalkan penjelasan-penjelasan tentang dosa. Hal itu dianggap kuno dan tidak lagi relevan. Berbicara soal dosa dianggap menjadi sebuah tuduhan-tuduhan yang tidak masuk akal. Lebih parah lagi banyak orang-orang Kristen sendiri yang enggan untuk berbicara mengenai dosa. Gereja-gereja tidak lagi membahas dosa karena dianggap dapat mengurangi jumlah jemaat. Pada akhirnya yang selalu dimunculkan hanyalah "Allah yang penuh kasih."


Rasul Paulus mengawali pengajaran suratnya kepada jemaat di Roma tentang murka Allah. Paulus menyatakan bahwa murka Allah itu nyata, yang artinya ada sifat murka pada Allah. Tetapi hal itu memang ditujukan kepada orang-orang fasik dan lalim yang menindas kebenaran (ay. 18). Tetapi jika kita perhatikan lagiĀ  orang-orang yang menerima murka Allah juga adalah orang-orang yang sudah mengenal Allah, tetapi mereka menolak untuk memuliakan Allah (ay. 19-21). Ini menunjukkan bahwa semua orang tidak akan terlepas dari murka Allah, jika mereka tidak memuliakan Allah. Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita sungguh mengenal dan memuliakan Dia?


Lebih lagi Rasul Paulus kemudian menunjukkan bagaimana hidup orang yang akan mendapat murka Allah. Mereka adalah orang yang merasa dirinya berhikmat, atau paling mengerti tentang Tuhan, padahal mereka telah dibutakan oleh kesombongan mereka (ay.22). Mereka adalah orang yang menggeser posisi Allah sebagai Tuhan yang layak disembah, dan menggantinya dengan gambaran yang lain (ay. 23). Manusia seringkali lebih senang menyembah apa yang terlihat, misalnya simbol-simbol yang mungkin terlihat rohani seperti gambar Yesus, kalung salib dan segala yang berbentuk salib kemudian menjadi barang yang harus dibawa kemana-mana bagaikan jimat. Lalu salahkah jika kita memiliki itu semua? Tidak, jika kita tetap menyembah Tuhan yang benar, dan bukan simbol-simbol itu.


Murka Tuhan yang nyata itu lebih mengerikan dari gambaran api neraka yang selama ini digambarkan. Murka Tuhan yang sebenarnya adalah "pembiaran", "ketidakpedulian", dan "meninggalkan" (ay. 24). Allah yang murka itu kemudian membiarkan orang fasik itu dalam kefasikannya. Allah meninggalkan orang berdosa dalam dosanya. Menariknya Rasul Paulus berkata "Allah menyerahkan mereka pada keinginan hati mereka..." Yang artinya bahwa Allah yang telah menyatakan diri-Nya, memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, tetapi manusia lebih memilih melakukan apa yang dinginkan hatinya. Itulah dosa! Murka Tuhan akan jatuh pada orang berdosa yang lebih senang menuruti keinginan hatinya daripada memuliakan Tuhan.


Dunia yang semakin bertikai, dunia yang semakin meninggikan derajat manusia, dunia yang lebih menekankan pada kecintaan pada diri sendiri, dunia yang mengatakan bahwa kita semua layak dicintai dan dikasihi Tuhan, dunia ini sudah semakin buta akan dosa. Semua dimulai oleh dosa. Karena dosalah kita akhirnya menanggung semua akibat kerusakan ini. Lalu solusi apa yang dapat ditawarkan ditengah-tengah dunia yang kacau ini? Hanya Anugerah Tuhan yang mampu menjawabnya. Ini bukan sekadar Allah yang penuh kasih. Tetapi sebuah pengakuan dosa manusia yang membuatnya tunduk terhadap anugerah Tuhan.


Kita tidak bisa menghidupi anugerah Tuhan tanpa mengakui keberdosaan kita. Maka jangan terburu-buru lompat pada Allah yang penuh kasih, sadari dulu status keberdosaan kita, sadari dulu bahwa tidak ada satu kebaikan pun yang mampu membuat kita layak dicintai oleh Tuhan. Semua hanya karena anugerah Tuhan. Demikian juga murka Allah itu tidak akan terjadi pada orang-orang yang menerima anugerah Tuhan.


Kita hidup dan tinggal ditengah-tengah manusia berdosa, dan kita pun juga adalah manusia berdosa. Maka berdoalah agar Tuhan selalu menguatkan kita untuk menghadapi hari-hari kita yang penuh dengan pergumulan. Demikian juga mintalah kepada Tuhan untuk terus mengingatkan kita bahwa kita tidak mampu melakukan apa-apa tanpa Tuhan. Akhirnya, kabar baik bagi kita yang sungguh-sungguh percaya dan memuliakan Tuhan, yaitu murka Allah bagi kita telah diredakan oleh Anugerah Tuhan dalam kematian dan kebangkitan Yesus Kristus. Selamat terus menjalankan puasa dan pertobatan kita sebelum memperingati Jumat Agung dan Paskah.


Pokok Doa:

1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan

2. Kondisi dunia (perang, bencana alam, kerusakan moral, dll)

3. Persiapan rangkaian kebaktian Jumat Agung dan Paskah

4. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia


Gerald Raynhart Stephen

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.