SUNGGUH-SUNGGUH MENGAKUI KESALAHAN
Renungan Harian GKI Coyudan
Rabu, 19 Maret 2025
Sungguh-sungguh Mengakui Kesalahan
Matius 27: 3-4 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman, ia menyesal lalu mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua. Ia berkata, “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Jawab mereka, “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”
Siapa pun bisa melakukan kesalahan—anak-anak, remaja, muda-mudi, orang tua, bahkan orang yang dekat dengan Tuhan. Yudas Iskariot, salah satu murid Yesus, adalah contohnya. Namanya berarti “Allah Dipuji”, tetapi ironisnya, ia dikenang sebagai pengkhianat. Ia menjual Yesus seharga 30 keping perak, lalu menyesal ketika sudah terlambat. Ia mencoba memperbaiki keadaan dengan mengembalikan uang itu, tetapi para imam dan tua-tua tidak peduli.
Ini mengingatkan kita bahwa setiap manusia punya kecenderungan untuk berbuat salah dan dosa. Namun, bukan berarti kita boleh berkompromi atau terjebak dalam rasa malu dan takut. Allah adalah Allah yang penuh kasih dan pengampunan.
Jadi, ketika kita salah, beranilah mengakuinya dengan sungguh-sungguh. Bukan sekadar menyesal, tetapi memiliki komitmen untuk berubah. Meskipun sulit, Tuhan melihat dan menghargai setiap usaha kita untuk bertobat. Jangan menyerah, karena kasih-Nya selalu ada bagi kita!
Pokok Doa
1. Pergumulan anak dalam tumbuh-kembang rohani dan jasmaninya.
2. Pelayanan misi di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.
3. Kondisi politik dan sosial di Indonesia.
Yohana Jessica