SOURDOUGH DAN PENGHARAPAN
Renungan warta 26 Juli 2026
Sourdough dan Pengharapan
Roma 8:18–30
Beberapa waktu lalu, media sosial sempat diramaikan dengan tren membuat roti sourdough. Berbeda dengan roti pada umumnya, sourdough dinilai lebih sehat. Roti ini tidak bisa dibuat secara terburu-buru. Adonannya harus dirawat, difermentasi, dan menunggu waktu yang tepat hingga mengembang dengan baik. Prosesnya mengajarkan satu hal sederhana: sesuatu yang baik seringkali membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketekunan.
Demikian pula kehidupan kita. Tidak semua proses yang Allah izinkan terasa mudah atau menyenangkan. Ada doa yang belum dijawab, usaha yang belum membuahkan hasil, pergumulan yang seolah tak kunjung selesai, bahkan penderitaan yang membuat kita bertanya-tanya, "Tuhan, mengapa harus selama ini?"
Firman Tuhan tidak menutup mata terhadap kenyataan hidup seperti ini. Seperti yang tertulis dalam Roma 8:18–30, kehidupan orang percaya memang tidak lepas dari yang namanya proses. Kita belum melihat seluruh karya Allah digenapi. Kita masih terus bertanya-tanya atas pengalaman hidup yang diizinkan Allah terjadi. Karena itu, Paulus mengajak kita untuk tetap berpengharapan. Pengharapan bukan berarti kita sudah mengetahui bagaimana semuanya akan berakhir, tetapi tetap percaya kepada Allah di tengah proses yang masih berlangsung.
Pengharapan itu tidak dibangun di atas angan-angan, melainkan di atas keyakinan bahwa Allah turut bekerja. Ketika Paulus berkata bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya (Rm. 8:28), ia tidak sedang mengatakan bahwa semua pengalaman hidup bersama Allah akan menjadi mudah atau menyenangkan. Setiap peristiwa dalam hidup sebenarnya dipakai oleh Allah untuk membentuk orang percaya semakin serupa dengan Kristus.
Di tengah perjalanan hidup yang tidak selalu mudah, pengharapan menjadi kesaksian yang sangat dibutuhkan dunia. Kesaksian itu dimulai dari keluarga dan gereja, tempat setiap orang belajar berpengharapan kepada Kristus. Di sanalah anak-anak belajar dari ketekunan iman orang-orang dewasa, sementara orang-orang dewasa pun terus diingatkan oleh iman anak-anak yang sederhana dan tulus. Bersama-sama kita belajar percaya bahwa tidak ada proses yang sia-sia ketika hidup kita berada di dalam tangan Tuhan. Seperti adonan sourdough yang memerlukan waktu untuk mengembang sebelum menjadi roti yang baik, demikian pula Allah sedang membentuk kita melalui setiap musim kehidupan. Tetaplah teguh dalam pengharapan!
(Sdri. Yohana Jessica, S.Fil.)