SABAT BAGI MANUSIA
Markus 2:27-28
”Lalu kata Yesus kepada mereka, “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat. Karena itu Anak Manusia adalah Tuan juga atas hari Sabat.”
Bagi
orang Yahudi, hari Sabat adalah hari sakral karena mereka berusaha melaksanakan
hukum Tuhan yang keempat, yaitu “Pelihara dan kuduskanlah hari Sabat”. Namun
para pemimpin agama Yahudi telah menambah-nambahi hukum Taurat tersebut dengan
berbagai aturan yang semakin membebani umat. Bahkan mereka juga menetapkan
berapa langkah orang boleh berjalan pada hari Sabat. Yang semakin memberatkan
adalah, aturan-aturan tersebut kemudian dianggap setara dengan firman Tuhan.
Lalu,
darimana hari Sabat ini muncul? Apabila mengacu pada Kitab Kejadian, yaitu saat
Allah menciptakan alam semesta, termasuk manusia. Allah menciptakan alam
semesta selama enam hari. Allah melihat semua ciptaannya sungguh baik. “Lalu
Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya karena pada hari itulah Ia
berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya.” (Kejadian
2:3) Hari ketujuh itulah yang kemudian menjadi hari Sabat.
Sedangkan
mengacu pada Kitab Ulangan 5:12-15, umat Tuhan diminta untuk memelihara dan
menguduskan hari Sabat. Setelah enam hari bekerja, maka pada hari ketujuh orang
Israel tidak boleh bekerja. Hal ini mengingatkan bahwa mereka pernah menjadi
budak dan telah bekerja keras, sehingga harus ada waktu istirahat untuk
beribadah kepada Tuhan. Namun, aturan tersebut kemudian ditambah-tambahi,
sehingga hari Sabat bukan lagi menjadi hari beristirahat dan merayakan
Persekutuan dengan Tuhan, tetapi menjadi beban kewajiban agama.
Hal
itulah yang kemudian diluruskan oleh Tuhan Yesus. Pada saat para murid sedang
lapar, mereka memetik gandum supaya bisa makan. Namun saat itu Hari Sabat
sehingga mereka dianggap tidak menguduskan hari Sabat. Tuhan Yesus mengatakan
bahwa hari Sabat diadakan untuk manusia, bukan manusia untuk hari Sabat.
Sehingga, seharusnya hari Sabat menjadi hari yang istimewa bagi umat Tuhan.
Selama enam hari mereka bekerja, berusaha, dan pada hari ketujuh mereka
beristirahat dan menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan.
Oleh
karena itu, pada hari Sabat jika ada orang yang lapar atau sedang sakit dan
membutuhkan pertolongan, harus segera dibantu sehingga mereka bebas dari
penderitaan dan bisa ikut merasakan sukacita. Sebagai umat Tuhan, tentu kita
juga harus memelihara dan menguduskan hari Sabat, yang saat ini kita rayakan
setiap hari Minggu. Caranya dengan beribadah kepada Tuhan dan merayakannya
bersama keluarga. Rasa syukur pada hari Sabat juga ditunjukkan melalui
kepedulian kita terhadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Itulah Sabat
bagi manusia.
(Sujud Swastoko)