PEMILIHAN BERDASAR ANUGERAH
Renungan Harian GKI Coyudan
Jumat, 31 Juli 2026
Bacaan: Roma 6:1-16
Pemilihan Berdasar Anugerah
"Memilih" adalah sebuah kata kerja aktif. Dan kita pasti setuju bahwa pilihan-pilihan itu dibuat oleh diri kita sendiri. Jika pilihan kita salah, maka kita harus menanggung akibatnya sendiri. Sehingga jelas bahwa setiap pilihan itu ada ditangan sang pemilih, atau sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh pemilih. Sekalipun memang ada juga orang-orang yang dipaksakan memilih kehendak orang lain, tetapi jelas itu keliru. Lalu bagaimana dengan pemilihan yang dilakukan Tuhan? Apakah itu kehendak pribadi-Nya? Atau harus dipengaruhi oleh orang lain?
Rasul Paulus memberitahukan tentang pemilihan yang dilakukan oleh Tuhan terhadap umat yang akan memperoleh keselamatan. Jelas sekali bahwa pemilihan itu tidak bergantung pada satu kriteria khusus, melainkan hanya anugerah semata. Paulus juga menjelaskan dengan berkata "tidak semua orang Israel berasal dari Israel" . Kita perlu melihat dalam penjelasan sebelumnya bahwa Israel menjadi umat yang menurunkan Mesias dalam keadaan manusia (ay. 5), berarti maksud ungkapan Paulus adalah bahwa tidak semua orang berhak mendapatkan jabatan sebagai umat Tuhan hanya karena mereka orang Israel, semua karena pemilihan Tuhan. Lebih lagi, Rasul Paulus juga menyebut "tidak semua keturunan Abraham akan disebut anak Abraham" merujuk pada kisah Abraham yang melahirkan anak bukan hanya dari isteri sahnya yakni Sarah, melainkan juga dari Hagar, budak dari Sarah. Dalam kisah ini Tuhan jelas hanya menghendaki keturunan dari Ishak yakni anak dari isteri sahnya. Sehingga jelas semua bukan karena jabatan Abraham, atau karena status sebagai orang Israel, melainkan karena pemilihan yang dilakukan oleh Tuhan.
Bukan hanya anugerah, pemilihan itu adalah kemurahan hati Allah (ay. 16). Ini juga menunjukkan bahwa Tuhan berhak untuk memilih siapa yang ingin Ia selamatkan. Selain itu "murah hati" disini menjelaskan bahwa memang pemilihan yang dilakukan Allah adalah inisiatif dari Allah sendiri, dan menunjukkan sebuah kondisi dimana manusia yang terpilih seharusnya bersyukur atas pemilihan itu. Lalu bagaimana dengan yang tidak terpilih? Kemurahan hati bukan berbicara soal adil atau tidak adil, melainkan fokus pada sang pemilih yang memilih oleh kehendaknya. Ini juga menjelaskan bahwa kenyataan kondisinya adalah manusia berdosa berada dalam murka Allah, sehingga semuanya harus menanggung murka tersebut. Tetapi kemurahan hati Allah lah yang kemudian memilih sebagian manusia-manusia berdosa itu untuk diselamatkan. Ini murni kemurahan hati Tuhan, bukan perbuatan manusia.
Maka dari itu melalui pemilihan yang dilakukan Tuhan, seharusnya setiap kita yang percaya kepada Tuhan meresponinya dengan penuh rasa syukur. Kita tidak perlu menyombongkannya, tetapi teruslah jadi saksi. Terus juga setia mengikut Tuhan karena kita sudah mendapatkan jaminan hidup kekal dari Tuhan sejak semula. Ia sudah lebih dulu memilih kita, bahkan sejak kita masih berdosa. Apalagi yang membebani kita untuk mengikuti Dia dengan setia?
Pokok Doa:
1. Pergumulan studi dan pekerjaan remaja pemuda GKI Coyudan
2. Kondisi rakyat Indonesia
3. Pergumulan jemaat yang sakit dan lanjut usia
Gerald Raynhart Stephen