MENJADI PRIBADI YANG LEBIH PEDULI

  •  Maria Sampyuh
  •  

Renungan warta 19 Juli 2026


MENJADI PRIBADI YANG LEBIH PEDULI 

LUKAS 10:25-37


Era serba cepat adalah zaman dimana teknologi membuat segala sesuatu  bergerak lebih instan. Tentu saja ada dampak- dampak yang ditimbulkan, baik dampak positif maupun dampak yang negatif. Dampak positifnya antara lain: hidup menjadi lebih mudah dan efisien, pekerjaan jarak jauh bisa dilakukan dengan cepat, informasi bisa didapatkan dengan sangat cepat dan mudah. Namun, dampak negatifnya pun juga ada; ritme hidup yang serba cepat membuat manusia menjadi mudah lelah dan stress, banyak orang merasa tertekan karena dikejar target kerja secepat mungkin. 

Karena tuntutan dan tekanan yang dialami, manusia kerap kali menjadi kurang memiliki kepedulian terhadap sesama yang ada di sekelilingnya. Manusia hanya fokus untuk memenuhi tuntutan-tuntutan pekerjaannya, kepentingan pribadinya, tuntutan gaya hidupnya. Manusia kurang memiliki kepekaan terhadap penderitaan sesama yang memerlukan kehadiran, sapaan, dan uluran tangannya.  "Sibuk dan tidak ada waktu" adalah kalimat yang seringkali terucap menjadi alasan. 

Dalam Injil Lukas 10:25-37, Yesus menceritakan tentang seseorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho membutuhkan kehadiran dan uluran tangan dari sesamanya, karena kondisinya yang sangat lemah setelah ia jatuh ke tangan perampok yang bukan hanya mengambil hartanya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya, dan kemudian meninggalkannya dalam keadaan tidak berdaya. Sesamanya yang melihatnya, masing- masing memiliki kesibukan dan kepentingan. Seorang imam, ia melihat orang itu, tetapi ia memilih untuk melewatinya dari seberang jalan, demikian pula dengan seorang Lewi. Mereka melihat, mereka tahu, tetapi mereka tidak hadir untuk menjadi sesama yang peduli kepada orang yang lemah. 

Tetapi, Yesus mau menunjukkan bahwa tidak semua orang kehilangan kepedulian di tengah kesibukan, tuntutan, tekanan dan kepentingan hidup. Seorang Samaria yang sedang  dalam perjalanan, datang ke tempat itu. Ia melihat ada seseorang yang tidak berdaya, memerlukan kehadiran dan pertolongannya. Maka yang ia lakukan adalah mendekati orang itu, membalut luka-lukanya sesudah menyiram dengan minyak dan anggur, dan menaikkan ke atas keledainya, serta dibawa ke penginapan untuk dirawat. Tidak cukup sampai disitu, Ia juga memberi jaminan uang kepada pemilik penginapan itu agar dirawat sampai sembuh.  Orang Samaria ini rela untuk berhenti karena ia peduli terhadap sesama yang tak mungkin dia biarkan dan dia tinggalkan terus berjalan. Dia tidak hanya datang untuk melihat, namun dia hadir sebagai sesama yang menopang dan menolong. 

Setiap orang memiliki kesibukannya, setiap orang memiliki kepentingan dan kebutuhan yang mesti dipenuhi, setiap orang memiliki tuntutan dan tekanan yang dihadapi, tetapi ingat bahwa dalam perjalanan menghadapi semua itu, kita juga sering dipertemukan dengan sesama yang lemah dan membutuhkan kehadiran kita. Berhentilah sejenak, hadirlah sebagai sesama yang penuh belas kasih, berikanlah pertolongan dan topangan sebagai bentuk kepedulian. Era yang serba cepat, hendaknya tidak membuat kemanusiaan kita luntur, hanya fokus terhadap diri sendiri, hati yang beku terhadap pergumulan sesama, dan mata tertutup terhadap kesukaran orang lain. Maka , jadilah pribadi yang semakin peduli sebagaimana sabda Kristus: "Pergilah dan perbuatlah demikian!"


Selamat Hari Minggu

Tuhan Yesus memberkati.


(Ibu Maria Sampyuh)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.