KESATUAN IMAN DALAM PANGGILAN
Renungan Warta
1 Juni 2025
KESATUAN IMAN DALAM PANGGILAN
Yohanes 17:20-26
Dalam sebuah acara retreat remaja pemuda GKI Coyudan tahun 2017 silam, ada satu sesi bertemakan “Light It Up”. Pada sesi ini, perwakilan dari setiap kelompok usia bergantian menyalakan lilin, mulai dari yang pemuda hingga pra-remaja. Lilin itu merupakan simbol dari doa, harapan, dan pesan untuk terus menghidupi teladan serta menyebarkan kasih Kristus, termasuk dalam komunitas persekutuan. Sekalipun orang-orang yang ada didalamnya silih berganti, namun esensi persekutuan sebagai anggota tubuh Kristus harus senantiasa dihayati dan diupayakan.
Injil Yohanes 17 berisi doa Yesus yang disampaikan kepada Bapa untuk para murid dan seluruh umat yang percaya kepada-Nya. Dia menyadari bahwa waktu-Nya di dunia tidak akan lama lagi sebab kematian telah mendekat. Peristiwa ini juga terjadi tepat sebelum Yesus akan melangkah menuju Taman Getsemani. Setelah perjalanan selama 3 tahun bersama para murid, Yesus harus meninggalkan mereka, tetapi misi-Nya di dunia belum berakhir. Oleh karena itu, Yesus sungguh rindu para murid maupun umat yang telah percaya kepada-Nya memiliki ikatan kesatuan yang menyatu seperti relasi Trinitas Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Sebuah relasi yang otentik dan memiliki visi-misi yang sama.
“supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku” (Yohanes 17 : 21)
Frasa “supaya mereka menjadi menjadi satu” dalam bahasa latin dibahasakan “Ut Omnes Unum Sint.” Frasa ini juga ditulis menjadi Ensiklik oleh Paus Yohanes Paulus II sebagai sebuah peringatan Jubileum Sakral / Sacred Jubilee yaitu peristiwa penjelmaan Allah menjadi manusia untuk karya keselamatan dan penebusan dosa manusia. Ini menunjukkan bahwa Doa Yesus mengandung misiologi, yaitu misi umat sebagai gereja serta saksi-saksi Kristus harus terus dijalankan hingga Maranatha. Yesus mengerti bahwa manusia tidak layak dan tidak memiliki kemuliaan yang sama dengan-Nya. Namun, karena kasih-Nya tersebut, kemuliaan yang dimiliki-Nya telah dianugerahkan supaya setiap orang pada akhirnya memiliki kesempatan untuk bersaksi kepada mereka yang belum percaya. Kemuliaan yang dimaksud adalah kesempatan melayani dan menderita bagi Kristus. Kemudian, melalui kesaksian yang diberitakan dengan setia, orang lain akan melihat dan percaya bahwa identitas serta kasih Kristus itu nyata dan tidak terbagi.
Dalam menjalani panggilan kehidupan dan pelayanan, apa bentuk komitmen kita sebagai bagian dari kesatuan tubuh Kristus yang didalamnya kita diutus sebagai saksi di tengah dunia yang penuh dengan dinamika ini? Dengan landasan apakah persatuan itu dibentuk? Apakah Self-Centered atau Christ-Centered? Sekalipun kita pribadi yang berbeda satu sama lain, marilah kita mengikis ego–menyatukan komitmen–mengerjakan panggilan-Nya dalam bentuk bersaksi, bersekutu, dan bermisi untuk mempersaksikan Kristus bagi dunia dan mengalami harmoni kehidupan yang senantiasa melekat kepada Kristus.
Tuhan menolong dan memampukan kita semua. Amin.
(Sdr. Oliver Kurniawan Tamzil)