KERENDAHAN HATI YANG MELAMPAUI KEBENARAN DIRI

  •  Sdr. Oliver Kurniawan Tamzil
  •  

Renungan Warta, 26 Oktober 2025


KERENDAHAN HATI YANG MELAMPAUI KEBENARAN DIRI

Dalam sebuah Ibadah Minggu, ada satu kutipan yang disampaikan oleh pengkhotbah mengenai kerendahan hati, beliau berkata seperti ini ”Tidak ada satupun manusia di bumi yang kebal terhadap kesombongan, bahkan kami para pendeta sekalipun.” Disitu saya berefleksi bahwa seringkali kita menafsirkan kesombongan identik dengan hal-hal materiil, namun kesombongan juga bisa masuk ke dalam sisi spiritual manusia.

Setiap perikop dalam Injil Lukas 18 tidak linear, artinya dari perikop yang tertulis bukan merupakan kejadian yang berkelanjutan. Namun sebagian besar berisi sabda yang disampaikan melalui perumpamaan. Secara khusus ayat 9 – 16 Yesus memberikan gambaran mengenai orang Farisi dan pemungut cukai (pada masa sekarang bisa disebut debt collector). Orang Farisi adalah orang yang sangat menjunjung tinggi agama dan semua peraturan Yahudi, sedangkan pemungut cukai adalah orang yang bekerja bagi pemerintah Roma untuk meminta pajak dari orang-orang Yahudi sehingga naturnya baik kaum umat Yahudi dan umat Farisi saling bermusuhan.

Suatu waktu orang Farisi dan pemungut cukai berdoa di bait Allah, keduanya sama-sama berdoa kepada Tuhan namun ada perbedaan kata. Kalimat pertama dalam doa orang Farisi adalah ucapan syukur, namun selanjutnya adalah membenarkan diri sendiri dan merendahkan orang lain. Tidak dipungkiri mereka melakukan kegiatan spiritual yang sebenarnya melebihi ketentuan hukum Yahudi (berpuasa dua kali seminggu dan memberikan sepersepuluh dari total kekayaannya). Semua kebaikan dipaparkan untuk membuat Allah terkesan. Berbeda dengan si pemungut cukai yang menyadari bahwa dia bukan orang yang berkelakuan baik. Dia berdiri jauh-jauh. Yang dimaksud mungkin adalah menjauhkan diri dari posisi ruang kudus atau maha kudus. Dia merasa tidak layak untuk menjumpai Allah yang kudus.

Dalam doanya dia bahkan tidak berani menengadahkan wajah ke langit. Kesedihannya terhadap dosa-dosa yang dia telah lakukan diungkapkan melalui pemukulan dada. Isi doanya pun sangat sederhana: “Ya Allah, kasihanilah aku orang yang berdosa ini”. Yang dia minta hanyalah kemurahan Allah. Tidak ada dalih yang dia ucapkan untuk membenarkan atau membela diri. Hanya sebuah permohonan yang tulus. Permohonan yang lahir dari ketidaklayakan diri di hadapan Allah.

”Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 8 : 14b) – ”Dan kepada beberapa orang yang menganggap dirinya benar dan memandang rendah semua orang lain, Yesus mengatakan perumpamaan ini:” (Lukas 8 : 9)

Ungkapan ”menganggap dirinya benar” dalam Kata dasar peithō bisa berarti “meyakinkan” (16:31) atau “mengandalkan” (11:22). Dari doa yang dipanjatkan oleh orang Farisi terlihat bahwa dia bukan sekadar meyakini kebenarannya sendiri, melainkan memegahkan kebenaran itu di hadapan Allah dan orang lain. Ini bukan sekadar menganggap diri benar tetapi menyombongkan kebenaran diri. Meyakini sebuah kebenaran tidaklah salah. Bukankah Yesus sendiri mengungkapkan bahwa si pemungut cukai pulang dalam posisi dibenarkan oleh Allah (ayat 14a)? Yang penting kita tahu darimana dan bagaimana kita bisa mempunyai kebenaran itu. Kebenaran bukan sesuatu yang kita raih (earned), tetapi kita terima (given). Kita pasif, Allah yang aktif.

Dalam konteks masa kini, kita sepatutnya menunjukkan sikap yang sama. Kebenaran yang kita miliki di dalam Kristus adalah anugerah, bukan upah. Anugerah ini kita terima melalui iman yang sejati: menyadari keberdosaan, ketidaklayakan, dan ketidakmampuan kita untuk merasa paling benar di hadapan Allah. Demikian juga dalam keluarga, setiap kita adalah pribadi yang sangat berbeda baik sebagai suami, istri, kakak maupun adik. Keluarga adalah komunitas pertama setiap orang untuk dididik dan bertumbuh, termasuk mengajarkan arti dari kerendahan hati. Kerendahan hati setiap pribadi dalam penerapannya sifatnya vertikal dan horizontal, artinya rendah hati di hadapan Allah dan kerendahan hati terhadap sesama anggota keluarga. Kerendahan hati juga menjadi kunci pertumbuhan iman untuk hidup dalam anugerah-Nya. Semua yang kita miliki bukanlah pencapaian kita, melainkan pemberian dari Allah. Sudah sepantasnya kita menjaga hati kita untuk tetap rendah di hadapan Allah dan sesama. Soli Deo Gloria. 


(Sdr. Oliver Kurniawan Tamzil)

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.