KEBAHAGIAAN SEJATI

  •  Sujud Swastoko
  •  

Lukas 11:27-28

”Setelah Yesus berkata begitu, seorang wanita dari antara orang banyak itu berkata kepada Yesus, “Sungguh berbahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Engkau!”. Tetapi Yesus menjawab, “Lebih berbahagia lagi orang yang mendengar perkataan Allah dan menjalankannya!” (Lukas 11:27-28 BIMK)

Ibu mana yang tidak bangga apabila anaknya menjadi orang yang baik dan sukses? Perasaan seorang ibu ketika menyaksikan anaknya tumbuh besar, selalu setia dan taat melakukan firman Tuhan, patuh pada orang tua, rajin belajar, bahkan saat sudah bekerja juga menampakkan sikap yang rendah hati, tentu membawa sukacita tersendiri baginya. Karena semua itu menunjukkan keberhasilannya dalam mendidik anak.

Demikian halnya yang dipikirkan seorang wanita ketika menyaksikan bagaimana Tuhan Yesus dengan penuh kasih menolong orang-orang sakit, mengusir setan, memberitakan Injil Kerajaan Allah, dan mengajar dengan penuh kuasa. Tuhan Yesus memiliki pengikut yang banyak dan berpengaruh kuat di kalangan orang-orang Yahudi pada saat itu.

Oleh karena itulah, wanita itu mengatakan kepada Tuhan Yesus, ”Sungguh berbahagia wanita yang melahirkan dan menyusui Engkau!” Perkataan Perempuan tersebut menunjukkan kekaguman dan emosi seorang ibu yang menyaksikan anak muda yang begitu berpengaruh dan berwibawa. 

Dalam tradisi Yahudi, garis keturunan merupakan hal yang sangat penting. Terlebih mereka termasuk umat pilihan Allah, yaitu keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub yang telah dijanjikan pemeliharaan dan keselamatan oleh Tuhan. Seorang laki-laki akan dilihat dari nenek moyangnya, dan nilai seorang perempuan dilihat dari anak laki-laki yang dilahirkannya. Dengan demikian keberhasilan seorang perempuan dinilai dari kehidupan anak-anaknya.

Namun, melalui peristiwa tersebut, Tuhan Yesus memberikan pengajaran yang sangat penting. Kebahagiaan seorang ibu bukan hanya diukur dari keberhasilan dalam mendidik anak-anaknya, tetapi yang lebih penting lagi adalah orang tersebut mendengar perkataan Allah dan melakukan firman tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Itulah yang disebut kebahagiaan sejati, yaitu saat ia taat melakukan perintah Tuhan.

Dalam kehidupan umat Tuhan, kita juga akan merasa kebahagiaan pada saat mampu melakukan firman Tuhan, walaupun banyak sekali hambatan dan tantangan yang harus dihadapi. Untuk mendapatkan kebahagiaan sejati, kita tidak bisa mengandalkan kekuatan dunia atau hal-hal lahiriah, seperti memiliki jabatan tinggi, sukses dalam pekerjaan atau berkarir, memiliki kekuasaan dan pengaruh besar di masyarakat. 

Namun, kebahagiaan sejati hanya kita peroleh pada saat kita berserah sepenuhnya kepada Tuhan dan bersedia melakukan segala perintah-Nya dengan taat melalui pimpinan Roh Kudus. Maka, pada saat itulah kita akan merasakan damai sejahtera, memiliki kebahagiaan yang sejati. Kiranya Tuhan terus memampukan kita dalam menaati firman-Nya. Amin.


Pokok Doa

1. Pelaksanaan Bulan Budaya di GKI Coyudan.

2. Workshop dan Festival Pujian dalam rangkaian Youth Creative Zone.

3. Misi penginjilan di daerah-daerah terpinggirkan.


Sujud Swastoko

Kami menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda.