BERSAKSI MEMBERITAKAN PENGHARAPAN

Menjadi saksi bukan hal yang mudah dan ringan. Ada beban tersendiri sehingga tidak semua orang berani. Dalam sebuah peradilan, menjadi saksi berarti bisa saja kesaksian kita memberatkan atau membebaskan seseorang dari hukuman; yang berarti bisa saja sebagai saksi seseorang mendapat ancaman baik dari pihak penuntut maupun yang terdakwa.

Dalam hal menjadi saksi Injil, kita pun memiliki risiko yang tidak ringan, sebab tidak semua orang mau mendengar kebenaran tentang Yesus dan Injil Kerajaan Allah. Tidak semua orang siap menerima terang firman Tuhan sebab masih nyaman dengan dosa mereka, masih menikmati kegelapan hati mereka sendiri. Mereka tidak sadar bahwa dosa yang mereka simpan itu tidak akan mampu menyelamatkan mereka dari kematian, dimana semua orang pada akhirnya akan menghadapinya. Continue reading

PERGILAH DENGAN SUKACITA

Siapakah yang pertama kali mengabarkan tentang kebangkitan Yesus Kristus? Apakah para murid-murid Yesus? Bukan. Alkitab menyatakan bahwa yang menjadi pembawa berita tentang kebangkitan Yesus adalah malaikat Tuhan sendiri, yang “wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.” (Matius 28:3).

Mengapa demikian? Karena kematian Yesus di Golgota telah menggoncang iman para murid-Nya sehingga mereka pun melepaskan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pembawa kabar baik (Injil); ada yang kembali ke profesi semula sebagai nelayan dan ada pula yang menyembunyikan diri. Itulah sebabnya Tuhan mengutus malaikat-Nya memberitakan kabar sukacita ini. Dan kalau malaikat yang menyampaikan sudah tentu beritanya adalah benar. Jadi tidak ada alasan untuk ragu, apalagi tidak percaya. Continue reading

TAAT DALAM PENDERITAAN

Bacaan: Matius 21:1-11; 27:11-31

Minggu ini kita memasuki minggu Pra Paska VI yang biasa kita kenal sebagai minggu Palmarum dan yang juga disebut sebagai minggu sengsara. Ada dua bacaan Injil Matius dalam liturgi Pra Paska VI yaitu Matius 21:1-11 dan Matius 27:11-54. Dua teks itu berbicara hal yang ironis yaitu Yesus yang masuk ke kota Yerusalem dengan sorak sorai untuk bersiap diri menjalani sengsara menuju salib. Yesus tahu bahwa di ujung Yerusalem adalah penderitaan, tetapi Ia tetap masuk ke sana. Karena itulah minggu Pra Paska ke VI bermakna ganda yaitu tentang penyambutan Yesus sebagai Raja dan masuknya Yesus dalam jalan sengsara. Continue reading

HIDUP YANG DIPIMPIN OLEH ROH ALLAH

Bacaan: ROMA 8:6-11

Hidup yang dipimpin oleh Roh Allah adalah hidup yang berada dalam pembaharuan, tidak dikuasai oleh keinginan dan hawa nafsu pribadi (keinginan daging) melainkan hidup seturut dengan Kehendak Allah. Dalam Roma 8:14 mengatakan “Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah”. Setiap orang yang yang telah menyerahkan diri kepada Allah maka menjadi milik Allah dan disebut sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah maka kita harus hidup dalam kebenaran Allah serta menjaga kesucian hidup. Setiap orang percaya yang dipimpin oleh Allah maka hidupnya juga bersandar pada Roh Kudus supaya menuntun pikiran, kata-kata, dan perbuatannya (Roma 6:11–14).

Orang percaya tidak akan hidup melakukan keinginan daging, sebab hal itu merupakan perseteruan dengan Allah, dan sebagai bentuk ketidaktaatan seseorang terhadap Allah. Namun, orang percaya harus menghasilkan buah Roh dalam hidupnya yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22–23). Hidup dalam Roh sama dengan mengijinkan Firman Tuhan tinggal dalam hidup kita, sehingga melalui Firman itu maka hidup orang percaya menghasilkan ucapan syukur, puji-pujian, dan sukacita dalam kehidupannya.

“Hidup dalam Roh” berbicara mengenai taat dalam pimpinan Roh sehingga orang percaya “berjalan bersama Roh”, dan mengijinkan Roh Kudus menuntun langkah kita serta mencocokkan pikiran kita. Marilah sebagai anak-anak Allah kita hidup dalam pimpinan dan kehendak Allah. Berjuang untuk menguasai diri kita agar tidak jatuh dalam keinginan daging dan terus peka untuk mendengar suara Allah yang memimpin hidup kita. Amin. (DA)