KEADILAN DAN DAMAI SEJAHTERA

Bacaan: I Timotius 6:6-19

Keadilan dan damai sejahtera. Dua kata ini sangat sering kita dengar dan didengung-dengungkan sebagai tujuan yang mulia dari hidup umat manusia. Seringkali dua kata ini juga digunakan oleh negara sebagai sesuatu yang hendak dicapai bagi rakyatnya. Namun pada kenyataannya seakan-akan keadilan dan damai sejahtera tersebut hanya ada pada tataran wacana dan idealisme yang tidak tersentuhkan di negeri utopia yang jauh di sana. Apalagi di zaman sekarang ini, individualisme dan materialisme menjadi tujuan dan slogan baku yang mendarah daging di hampir sebagian besar manusia, khususnya bagi mereka yang tinggal di kota-kota besar. Jurang kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin juga tidak dapat dipungkiri menjadi semakin lebar dan akhirnya membawa dunia pada persoalan ekonomi dan sosial. Kriminalitas yang meningkat, kejahatan yang semakin merajalela, dan ketakutan akan rasa aman yang merongrong hidup setiap kita. Masih adakah harapan akan keadilan dan damai sejahtera? Continue reading

DOA: BAGIAN DARI MISI

“Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan. Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (I TIMOTIUS 2:1-4)

Yerusalem adalah kebanggaan orang Israel, sebab di sanalah diyakini bahwa Tuhan Allah hadir dan melindungi umat pilihan-Nya. Tetapi dalam bacaan kita Yeremia menyerukan ratapan atas keruntuhan Yerusalem yang disebabkan oleh kejahatan umat yang menduakan Tuhan. Dalam kondisi menderita, banyak orang memilih untuk berdoa dengan cara meratapi nasib, mengasihani diri atau mengharapkan pembelaan Tuhan dan pembalasan Tuhan atas orang yang menjadi musuh kita. Tetapi rasul Paulus menuliskan surat kepada Timotius agar selalu mendoakan mereka yang ada di sekitar kita; mendoakan agar setiap orang diselamatkan. Continue reading

DIUTUS KEPADA YANG HINA DAN BERDOSA

Bacaan: Lukas 15:1-10

“Tuhan memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia …. semua telah menyeleweng, semuanya telah bejat, tidak ada yang berbuat baik, seorang pun tidak. ” (Mazmur 14:2,3)

Miris..! Itulah yang bisa dikatakan saat menyaksikan kejahatan di sekitar kita. Di tengah kesesakan beratnya beban hidup akibat tekanan ekonomi, masih saja terjadi praktik korupsi. Triliunan rupiah uang rakyat untuk membangun dan memajukan ekonomi negeri ini menjadi bancakan para oknum. Sementara narkoba yang omzetnya miliaran rupiah, yang merusak anak-anak negeri ini, juga marak beredar. Belum lagi mudahnya anak-anak mengakses situs pornografi melalui internet yang memicu tindakan kekerasan. Continue reading

DIBENTUK DALAM KEMERDEKAAN, DIUTUS UNTUK MEMERDEKAKAN

Bacaan: Filemon 1: 1-21

Ketika mendengar kata “budak”, pikiran kita langsung mengarah kepada orang yang tersiksa, tidak memiliki hak, dan hidup dalam tekanan seorang tuan. Bayangan tentang perbudakan yang paling mudah kita pahami adalah perbudakan pada zaman penjajahan. Alkitab justru memberikan gambaran yang berbeda tentang budak. Mari kita melihatnya dalam perspektif Perjanjian Baru. Pada saat itu, budak adalah status sosial. Seseorang menjadi budak karena berbagai penyebab, antara lain adalah ia lahir sebagai keturunan budak, tidak bisa membayar hutang, atau untuk menyediakan nafkah bagi keluarga. Sekalipun demikian, kita tidak boleh lupa bahwa Allah juga menentang perbudakan yang menginjak-injak harga diri manusia. Continue reading