Jalan Damai


Photo by Syd Sujuaan on Unsplash

Minggu Pra Paska ke-6, seminggu sebelum Paska disebut sebagai Minggu Palma yang merujuk pada peristiwa dalam Injil Lukas 19: 28-44, Markus 11: 1-11, Matius 21: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19. Dalam tradisi Yahudi, daun palma adalah simbol kemenangan atas musim semi dan dingin, simbol kemenangan atas kehidupan dari kematian. Minggu Palma juga menjadi pembuka minggu sengsara untuk mengingatkan bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya pada kebangkitan-Nya saja, namun perjalanan penderitaan-Nya menunjukkan kemuliaan-Nya sehingga Ia layak dipuji dan dimuliakan.

Continue reading

Kasih Kristus Menggerakkan Solidaritas


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Dalam masa Pra Paska kita diajak untuk mengingat dan menghayati kembali tentang masa sengsara Tuhan Yesus sebagai wujud nyata cinta kasih-Nya kepada dunia. Cinta kasih Tuhan itu dinyatakan dengan wujud solidaritas-Nya, yaitu dengan menjadi sama dengan manusia. Bahkan ikut merasakan apa yang dialami oleh seorang manusia dari lahir, belajar, bekerja, bersama rakyat berada di bawah pemerintahan yang tidak adil, rela menjalani jalan penderitaan yang membuat-Nya dihina, dicela, dianiaya, dan mati di kayu salib.

Continue reading

MENGIKUT JALAN KEMULIAAN YESUS

Photo by Fabian Irsara on unsplash

Bacaan: Yohanes 12 : 20 – 33

Menempatkan dan mengejar kekayaan, jabatan, dan penampilan sebagai sesuatu yang utama dalam hidup adalah nilai-nilai dunia yang tanpa disadari telah merasuk ke dalam kehidupan sebagian anak-anak Tuhan. Hampir setiap saat dunia menawarkan kegembiraan dan kepuasan melalui media cetak dan elektronik. Banyak orang tidak lagi mau hidup dalam penderitaan, tidak mau hidup susah, tidak mau ketinggalan jaman. Mereka mengejar apa yang disebut oleh dunia sebagai “kemuliaan hidup”; bisa memakai barang-barang bermerek terkenal, dipuja banyak orang bagaikan selebriti, bisa masuk dalam kalangan sosialita menjadi impian banyak orang. Bahkan dalam berita di media cetak ataupun elektronik di sana dikatakan beberapa remaja yang masih dibawah umur rela menjual diri demi untuk mendapatkan handphone merk terbaru. Mereka rela mengorbankan dan melakukan apapun juga demi mendapatkan yang mereka sebut sebagai “kemuliaan hidup”. Sungguh ironis. Kenyataan di atas sungguh bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Yesus. Continue reading

YESUS, BAIT ALLAH YANG SEJATI

Bacaan: Yohanes 2 : 13-22

Seperti biasanya, masa raya Paska diperingati dan dirayakan secara khusus di setiap gereja. Panitia Paska, tentunya menjadi pihak yang paling banyak disibukkan untuk mempersiapkan segala sesuatunya dan jemaat diberikan banyak kesempatan untuk bisa menghayati Paska dengan lebih baik lagi dalam serangkaian kegiatan yang telah disusun. Sungguh suatu kesempatan yang sangat baik yang diberikan Tuhan bagi setiap kita. Continue reading

BERBUAT, TAK SEKADAR BERTOBAT

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6)

 

Suatu hari seorang pemilik toko merasakan ada yang tidak beres dengan persediaan barang-barang yang dijualnya. Sebagian barang tidak ada padahal tidak ada catatan penjualan untuk barang tersebut. Dia menduga ada pekerjanya yang mencuri barang-barang tersebut, namun belum ada bukti siapa yang melakukannya. Setelah mengamat-amati beberapa hari, kecurigaannya terfokus pada dua orang.

Akhirnya, dua orang ini dipanggil dan pemilik toko bercerita bahwa toko itu dibangun dengan susah payah. Banyak orang yang menyandarkan hidupnya pada toko itu, karena banyak pekerja dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari toko itu. Tetapi akhir-akhir ini sering ada barang-barang yang hilang. Kalau hal ini terjadi terus menerus maka toko bisa tutup dan puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan. Kasihan keluarganya. “Apakah kalian tahu, siapa kira-kira yang mencuri?” tanya pemilik toko.

Dengan tertunduk, dua pekerja ini mengakui perbuatannya dan mohon bisa tetap bekerja di toko itu. Dan, pemilik toko memaafkannya. Tapi suatu ketika masih ada barang yang hilang. Akhirnya pemilik toko memecat satu pekerja yang pernah dipanggilnya. Sedangkan yang satunya lagi tetap bekerja bahkan menjadi kepercayaan pemilik toko. Mengapa? Karena dia telah bertobat dan menjadi lebih rajin bekerja serta menjaga barang-barang milik majikannya dengan baik, termasuk melaporkan pencurian yang dilakukan temannya. Sedangkan yang dipecat, walaupun sudah bertobat tapi perilakunya tidak berubah, bahkan dia terbukti masih mencuri.

Perilaku kita kadang sama dengan pencuri di toko itu. Kita telah berbuat dosa, mengakui dosa kita, dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, tetapi hidup kita tidak menunjukkan perubahan, bahkan masih berbuat dosa. Pengorbanan Yesus, siksaan, hinaan, cacian, bahkan penyaliban-Nya seolah tidak ada artinya sehingga manusia masih terus berbuat dosa. Maka, akan ada saatnya bagi mereka yang tidak berbuah untuk dicampakkan, seperti dalam perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9).

Masih ada waktu bagi kita untuk mencari dan berseru kepada Tuhan selama Ia bisa ditemui: untuk bertobat, mohon ampun dan hidup baru dengan meninggalkan hidup lama yang tidak berkenan kepada-Nya. Pertobatan harus dinyatakan dengan perubahan hidup, hidup yang mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita. Buah-buah roh harus terlihat untuk menunjukkan bahwa memang kita adalah anak-anak Allah, anak-anak terang. Barang siapa yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, akan diselamatkan. Iman percaya itu harus dinyatakan melalui perbuatan yang baik, seperti yang Allah kehendaki. (ss)