Ikut Yesus di Jalan Derita


Photo by Jose Cortés on Unsplash

Lukas 13 : 31–35

Yerusalem merupakan kota yang Allah perkenankan, namun kota itu juga terkenal sebagai kota pemberontak pada Allah karena sejarah mencatat kota ini terkenal sebagai pembunuh para nabi-Nya. Sekumpulan orang Farisi yang datang pada Yesus, mereka memberitahukan rencana pembunuhan Herodes atas diri-Nya. Kata mereka: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Bagaimana jawaban Tuhan kepada mereka? Alih- alih pergi, Yesus justru bertahan. Apa yang bisa kita teladani dari sikap Tuhan Yesus?

Yesus tidak takut menghadapi ancaman.
Mengenai Herodes, si serigala licik, maupun para pemuka agama Yahudi yang memusuhi Dia, bahkan penduduk kota Yerusalem yang pada akhirnya menyerukan, “Salibkan Dia, salibkan Dia!”, mereka sama sekali bukan penentu kematian Yesus dan mereka tidak dapat menghentikan langkah Yesus menuju rencana keselamatan Allah. Maka terhadap ancaman dari Herodes, Yesus mengingatkannya bahwa ia tidak memiliki kuasa apa pun atas diri-Nya. Yesus berani menghadapi ancaman itu sebab ada kuasa ilahi yang menaungi-Nya. Bagaimana dengan kita? jangan kuatir, sebab ada perlindungan Allah bagi umat-Nya.

Yesus taat menjalani panggilan.
Yerusalem, seperti yang telah dinubuatkan nabi-nabi, adalah tempat Yesus untuk menderita sampai mati di sana. Panggilan derita adalah bagian dari konsekuensi dari ketaatan. Tidak ada ketaatan yang nyaman. Ketaatan membutuhkan pengorbanan dan perjuangan.

Integritas Yesus di jalan derita.
Meskipun Yesus tahu bahwa nyawa-Nya terancam di Yerusalem, Ia tetap setia menjalankan misi-Nya, meski harus melalui jalan derita. Ini menunjukkan integritas Yesus dalam menjalankan panggilan-Nya. Integritas tidak dibuktikan dalam jalan yang aman, justru dalam jalan derita itu akan terwujud. Mari kita setia untuk mengikut Tuhan apapun jalan yang harus kita hadapi. Jangan takut, sebab Tuhan yang telah melalui jalan itu bersama kita. (JM)

Kasih Menyempurnakan Panggilan Kita


Photo by Benjamin Davies on Unsplash

Yeremia 1 : 4-10; 1 Korintus 13 : 1-13

Bagi kebanyakan orang, merespon panggilan Tuhan biasanya menjadi pergumulan tersendiri. Di satu sisi sebagai orang percaya kita merindukan untuk turut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan di dunia ini. Di sisi lain, kita menilai diri tidak sempurna dan tidak mampu sehingga menjadi ragu, atau merasa tidak memiliki banyak kesempatan karena disibukkan oleh kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Situasi seperti ini seringkali menjadi hambatan kita mengambil bagian dalam pelayanan.

Continue reading

Lakukan Bagian Pelayananmu!

Photo by Ben White on Unsplash

Bicara tentang bagian pelayanan berarti bicara tentang panggilan juga. Dan bicara tentang panggilan, tidak mudah bagi seseorang untuk tetap setia pada panggilan itu. Ada banyak godaan yang menghampiri, baik dalam diri sendiri maupun dari orang lain.

Continue reading

Bertekun Dalam Panggilan

Photo by Tomasz Woźniak on Unsplash

Seorang pelari dalam lomba Olimpiade cabang Marathon pada musim panas tahun 1968 di Mexico City; dia memasuki garis finish pada urutan terakhir ketika para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku yang sudah kosong, tetapi tiba-tiba para penonton yang masih tinggal di situ mendengar pengumuman bahwa masih ada pelari yang akan masuk ke garis finish di stadion itu.

Penonton dikejutkan oleh seorang pelari yang memasuki stadion dengan terpincang-pincang karena kakinya terluka; dengan pakaian lari serta nomor peserta di dadanya, dia berlari tertatih menahan sakitnya. Pada kilometer ke 19 ia terjatuh mendapatkan cedera pada betis dan lututnya. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut seadanya. dan tetap melanjutkan larinya sejauh sejauh 23 km.

Dari 75 peserta tersisa sampai pada garis finish sebanyak 57 orang, dan John Stephen Akhwari, perwakilan Tanzania yang kakinya terluka itu salah satunya. Dalam sebuah wawancara seorang wartawan bertanya kepadanya “Mengapa anda tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang ?!”, dia menjawab dengan sangat sederhana, “My country didn’t sent me to start the race, but they sent me to finish the race.” (Negaraku tidak mengutus aku untuk memulai
pertandingan, tetapi menyelesaikan pertandingan).

Kesadaran akan panggilannya sebagai perwakilan negara membuat John Stepehen Akhwari bertekun untuk menyelesaikan perlombaan sekalipun dia harus tertatih dan berlari dengan langkah-langkah kecilnya sampai garis finish. Dan ketekunannya itu membuahkan pujian dan kekaguman banyak orang sekalipun dia hanyalah seorang peserta terakhir yang memasuki garis finish.

Demikian halnya memenuhi panggilan kita sebagai murid Kristus, diperlukan ketekunan dan kesadaran penuh bahwa kita ini adalah utusan-utusan Tuhan yang sedang mengikuti perlombaan iman, yaitu untuk terus melakukan segala sesuatu dengan mengenakan KASIH sebagai dasar dan pengikat setiap perbuatan kita terhadap sesama.

Memang tidak mudah, terkadang kita tersakiti, terjatuh karena kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain. Tetapi bertekunlah terus untuk tetap mengasihi dan hidup dalam kasih Kristus sampai perlombaan kita berakhir mencapai garis finish. Maka pujian bukan datang dari manusia, tetapi dari Tuhan. Selamat bertekun, Tuhan Yesus memberkati. Amin (LAAS)

DIPANGGIL UNTUK INDONESIA

Baru saja kita memperingati hari ulang tahun ke–29 penyatuan Gereja Kristen Indonesia. Dari gereja suku menjadi gereja Indonesia. Dari tiga gereja menjadi satu gereja. Dari keberagaman menjadi satu dengan semangat Tubuh Kristus. Ada hal yang menarik dari sejarah panjang GKI ini yaitu perubahan nama dari Tiong Hoa Ki Tok Kauw Hwee menjadi Gereja Kristen Indonesia. Konon katanya sempat ada usulan menambahkan imbuhan ‘di’ sehingga menjadi Gereja Kristen di Indonesia. Setelah dipikirkan maka kata ‘di’ dihapuskan dengan memaknai bahwa GKI bukan hanya berpijak di Indonesia, tetapi mau menjadi kontekstual. Sederhananya GKI menyadari panggilannya untuk menyatakan damai sejahtera, kasih, keadilan, dan kebenaran bagi Indonesia. Continue reading