Berhenti Meragu, Percayalah Pada-Nya!

Akhir-akhir ini keadaan negara kita membuat masyarakat sulit percaya tentang sebuah berita. Kebenaran dan kebohongan campur aduk menjadi hal yang sulit dibedakan. Kebenaran terasa terlihat begitu sulit dicari. Namun disamping itu kita pun melihat bahwa masih banyak orang yang berusaha mencari berita benar dengan sumber yang dapat dipercaya. Melakukan konfirmasi, memastikan sumber berita dan mengecek kesana- kemari demi memastikan apa yang sesungguhnya menjadi kebenaran.

Continue reading

Kasih Kristus Menggerakkan Solidaritas


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Dalam masa Pra Paska kita diajak untuk mengingat dan menghayati kembali tentang masa sengsara Tuhan Yesus sebagai wujud nyata cinta kasih-Nya kepada dunia. Cinta kasih Tuhan itu dinyatakan dengan wujud solidaritas-Nya, yaitu dengan menjadi sama dengan manusia. Bahkan ikut merasakan apa yang dialami oleh seorang manusia dari lahir, belajar, bekerja, bersama rakyat berada di bawah pemerintahan yang tidak adil, rela menjalani jalan penderitaan yang membuat-Nya dihina, dicela, dianiaya, dan mati di kayu salib.

Continue reading

Kerajaan-Ku Bukan Dari Dunia Ini

“Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran.”

Yohanes 18: 37b

Saat berhadapan dengan Pilatus, kesaksian Tuhan Yesus mengenai siapa diri-Nya sangat jelas. Yesus mengatakan, “Kerajaan-Ku bukan dari dunia ini; jika KerajaanKu dari dunia ini, pasti hamba-hambaKu telah melawan, supaya Aku jangan diserahkan kepada orang Yahudi, akan tetapi Kerajaan-Ku bukan dari sini.”

Yesus bukanlah raja dunia seperti yang dimengerti oleh Pilatus. Kerajaan Yesus adalah kerajaan kebenaran. Kerajaan kekal yang tidak akan lenyap. Barangsiapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan binasa karena ia akan memperoleh hidup yang kekal. Dan, setiap orang yang berasal dari kebenaran, mendengar suara Yesus.

Apa perbedaan kerajaan yang dimaksudkan oleh Pilatus (dunia) dan yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus (kebenaran)? Kerajaan kebenaran seperti yang dikatakan Tuhan Yesus memiliki nilai-nilai yang berbeda dari dunia. Apabila dunia menjalankan pemerintahan dengan nilai-nilai tangan besi, kekerasan, dan kekuasaan, maka kerajaan kebenaran berisi nilai-nilai kasih, pelayanan, dan kerendahan hati. Nilai-nilai kerajaan inilah yang ditaburkan di dalam dunia seperti sebuah benih, melalui kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus.

Barangsiapa yang percaya dan mengimani Yesus adalah Raja, maka benih (firman Allah) yang ditaburkan dalam hidupnya akan tumbuh subur dan menghasilkan buah berlipat-lipat. Hidupnya akan penuh dengan kasih seperti yang telah diteladankan Sang Raja, yaitu Yesus Kristus. Setiap orang yang mengaku Yesus adalah Raja, maka dia harus hidup dalam kebenaran Allah. Dia harus menempatkan Yesus sebagai Raja dalam seluruh aspek kehidupannya.

Minggu ini adalah Minggu Kristus Raja. Kita diingatkan akan kasih Allah melalui Yesus Kristus yang bertahta atas seluruh kehidupan kita. Yesus yang telah mengurbankan diri-Nya sebagai tebusan dosa-dosa kita. Yesus yang telah menyucikan kita dari segala kejahatan sehingga kita menjadi orang-orang yang dibenarkan karena iman percaya kita.

Oleh karena itulah, hidup kita harus memperlihatkan bahwa kita adalah orang-orang yang hidup dalam kebenaran. Orang-orang yang selalu mendengar suara-Nya. Kita bukan warga kerajaan dunia, tetapi warga Kerajaan Allah, yang bukan dari dunia ini. Karena raja kita adalah Yesus Kristus. Mari, persiapkan hati kita untuk menyambut peringatan akan kelahiran-Nya di bumi ini. Selamat menghayati Minggu Kristus Raja.
Selamat menyambut Minggu Adven. Amin. (SS)

KEBANGKITAN YESUS MENGUBAH KETAKUTAN MENJADI DAMAI SEJAHTERA

Photo by Simon Alibert on unsplash

Manusia memiliki rasa takut yang bisa mengancam kehidupan manusia. Takut kehilangan sesuatu dan seseorang yang selama ini dikasihi adalah contoh ketakutan manusia. Seperti para murid kala itu, mereka sedang dilanda ketakutan. Pasca peristiwa salib, rasa takut membuat mereka terancam oleh pemerintahan Romawi dan orang-orang pembenci Yesus kala itu. Itulah kenapa mereka memilih mengunci pintu tempat mereka bersembunyi.

Yesus tahu bahwa murid-muridNya ketakutan. Ia datang ke dalam ruangan yang terkunci itu dan memberi salam damai sejahtera. Salam ini diberikan agar ketakutan mereka diganti oleh damai sejahtera kebangkitan Yesus. Yesus kembali meyakinkan mereka bahwa diri-Nya adalah Yesus yang bangkit dengan menunjukkan bekas paku dan tombak. Continue reading

KEBANGKITAN KRISTUS MENGATASI KECEMASAN

Image by Mohamed Nohassi on unsplash

Bacaan: Markus 16: 1-8

Kecemasan adalah suatu perasaan yang penuh dengan kekuatiran dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi. Rasa cemas biasa dihadapi semua orang dan merupakan respon manusiawi dalam menghadapi situasi sulit. Ada empat tingkat kecemasan dan pada tingkat yang terberat dapat terjadi kehilangan pengharapan, kendali diri, atau hilangnya pikiran rasional dan lain sebagainya. Pada 246 – 210 SM, saking cemasnya, kaisar yang bernama Qin Shi Huang membuat patung berbentuk manusia dan kereta kuda sejumlah 8.099 buah, yang terkenal sebagai tentara/pasukan Terakota untuk menemaninya setelah kematian. Kecemasan yang sangat besar juga pernah dialami oleh Petrus ketika Tuhan Yesus ditangkap dan diadili. Petrus hanya berani mengikuti Yesus dari jauh dan bahkan dia menyangkal dengan mengatakan tidak mengenal Tuhan Yesus yang adalah Guru yang dikasihinya. Continue reading