Perintah-Nya Mengasihi, Bukan Menghakimi


Photo by Charles Koh on Unsplash

Seorang yang bernama Deddy Dismas mengisahkan pengalamannya di sebuah kedai mie. Kala itu dia ditraktir makan oleh temannya dan di sebelah mereka ada empat pengunjung yang lain sedang makan. Tidak lama kemudian datanglah sepasang suami istri bersama kedua anaknya memesan makanan. Dari penampilan mereka terlihat seperti keluarga yang jauh dari kata sederhana. Pakaiannya kusam dan bau. Salah satu anaknya baru sembuh dari sakit tetapi rasanya belum sempurna, terlihat dari hidungnya masih keluar cairan kental. Meski begitu mereka terlihat bahagia bersama.

Makanan yang dipesan akhirnya datang tetapi Deddy tidak bisa menikmati makan karena aroma tidak sedap dan pemandangan anak yang tidak enak dilihat itu. Empat pengunjung di samping Deddy dan temannya akhirnya memilih pergi meninggalkan meja tanpa menghabiskan makanan. Mendadak senyum bahagia redup dari keluarga itu. Mereka mulai gelisah dan merasa mengganggu pengunjung di kedai itu. Berbeda dengan temannya, Deddy melihat ia asyik menghabiskan makanan seolah sama sekali tidak terganggu dengan aroma tidak sedap dan pemandangan yang tidak enak dilihat.

Apa boleh buat, Deddy akhirnya berusaha mengabaikan aroma dan pemandangan itu dan menghabiskan mie pesanannya dengan cepat. Setelah selesai makan, Deddy heran sebab temannya masih tahan duduk berlama-lama sambil menghabiskan minumannya. Ketika keluar dari kedai, temannya baru mengaku bahwa dia juga mencium bau yang tidak sedap dan melihat pemandangan yang tidak enak itu. Tetapi, ia berpikir jika meninggalkan keluarga tersebut sama seperti pengunjung lain disaat mereka bergembira, tentu menjadi pukulan bagi keluarga itu. Mungkin mereka sedang merayakan sesuatu yang bahagia atau jadi juga sang bapak sedang membahagiakan keluarga dengan kerja kerasnya.

Peristiwa itu memberikan Deddy sebuah pelajaran yang sangat berharga. Ternyata mengasihi sesama tanpa berkata-kata itu sangat mungkin dilakukan. Ia ingat waktu keluarga itu melihat teman dan dirinya tetap makan, mereka kembali bersemangat dan makan dengan bahagia. Dengan sikap diam tanpa katapun, ternyata kita bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain terhakimi. Dengan sikap diam pun kita juga bisa menjadikan orang lain merasa dihargai. Tuhan Yesus berkata: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu dengan demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yohanes 13 : 34). Biarlah kita menjadi orang-orang yang
melaksanakan perintah-Nya yaitu untuk mengasihi dan bukan untuk menghakimi. (MS)

Kasih Menyempurnakan Panggilan Kita


Photo by Benjamin Davies on Unsplash

Yeremia 1 : 4-10; 1 Korintus 13 : 1-13

Bagi kebanyakan orang, merespon panggilan Tuhan biasanya menjadi pergumulan tersendiri. Di satu sisi sebagai orang percaya kita merindukan untuk turut mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan di dunia ini. Di sisi lain, kita menilai diri tidak sempurna dan tidak mampu sehingga menjadi ragu, atau merasa tidak memiliki banyak kesempatan karena disibukkan oleh kebutuhan-kebutuhan kita sendiri. Situasi seperti ini seringkali menjadi hambatan kita mengambil bagian dalam pelayanan.

Continue reading

Nyatakan Kasihmu Pada yang Lemah


Photo by Ali Arif Soydaş on Unsplash

Pada suatu hari Sabat, Yesus berada di Nazaret. Seperti biasa Yesus masuk ke rumah ibadat, lalu berdiri hendak membaca dari Alkitab. Kepada-Nya diberikan kitab nabi Yesaya dan setelah dibuka-Nya, Ia menemukan nas yang tertulis: “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Kemudian Ia berkata, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu
kamu mendengarnya.”
(Lukas 4 : 18-21).

Continue reading

SAYA AKAN BAHAGIA JIKA …

ULANGAN 6: 1-9

Saya akan bahagia jika sudah punya rumah sendiri.
Saya akan bahagia jika sudah punya gaji yang banyak.
Saya akan bahagia jika seluruh keluarga sudah memiliki asuransi.
Saya akan bahagia jika saya punya mobil.
Saya akan bahagia jika sudah memiliki pasangan hidup.
Saya akan bahagia jika …

Masih banyak daftar yang bisa kita pikirkan dan tuliskan, hal-hal apa yang sekiranya akan membuat kita bahagia. Sekarang pertanyaannya, apa sumber utama kebahagiaan kita? Jika kita tidak mengalami kesenangan, tidak merasakan cinta, tidak sedang hidup dalam kegembiraan. Mungkinkah kita mampu berbahagia? Bacaan kita di Ulangan pasal 6 mengandung Janji Tuhan : “… supaya baik keadaanmu, dan supaya kamu menjadi sangat banyak, seperti yang dijanjikan TUHAN, Allah nenek moyangmu, kepadamu di suatu negeri yang berlmpah-limpah susu dan madunya.” (ayat 3) Sekaligus juga syarat untuk mengalami Janji Tuhan tersebut, yaitu: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (ayat 4).

Di ayat-ayat selanjutnya, jelas sekali bahwa Tuhan menjanjikan “supaya baik keadaanmu” apabila kita melakukan apa yang Dia perintahkan kepada kita. Perintah-perintah-Nya ada di seluruh bagian Alkitab. Tapi perintah atau hukum yang terutama sekali lagi diingatkan di dalam Injil Markus pasal 12: 29-31, yaitu agar kita mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan dengan segenap kekuatan kita. Serta untuk kita mengasihi sesama kita seperti diri sendiri.

Hukum yang utama dan terutama tersebut sudah begitu ‘familiar’ bagi kita. Sudah sering kita dengar, baca, hafal, bahkan sampai kutip ayat Alkitabnya. Kita bahkan fasih menceritakan kepada sesama kita. Semua itu baik. Yang perlu kita lakukan adalah menghidupinya, secara sadar, hari lepas hari, setiap saat setiap waktu. Kita terus periksa diri : “Sudahkah aku mencintai Tuhan melalui tindakanku? Lewat perkataanku? Melalui pemikiranku? Sudahkah aku mencintai sesama melalui tindakanku? Lewat perkataanku?Melalui pemikiranku?” (NOV)

Kebahagiaan yang sejati hadir ketika kasih Kristus kita alami dan ketika kasih Kristus kita amali.

DITOLONG UNTUK MENOLONG

Image by Rémi Walle on unsplash

“Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan, dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.” (2 Kor 8 : 15)

Ada pepatah mengatakan, “Orang tidak akan jatuh miskin karena menolong orang lain.” Pepatah itu ingin mengungkapkan bahwa menolong orang lain merupakan perbuatan baik yang tidak akan merugikan. Justru menolong memberikan dampak positif, baik bagi si penolong maupun yang ditolongnya. Seseorang yang suka menolong, biasanya pada saat dia mengalami kesulitan juga akan ditolong oleh orang lain. Continue reading