Meja yang Tergores


Photo by John Mark Arnold on Unsplash

Mazmur 37: 1-11

Di kamar tidur kami terdapat sebuah meja putih yang selalu dipakai istri saya untuk bekerja. Saya ingat betul ketika saya mulai merakitnya (saat itu kami belum menikah), meja tersebut masih dalam kondisi mulus, putih bersih. Tahun-tahun berlalu, goresan demi goresan mulai muncul, bercak cat lukis di beberapa titik terlihat jelas. Di sudut lain, terlihat lapisan debu tipis. Meskipun rutin dibersihkan, akan selalu muncul hal baru yang kadang bisa dihapus, kadang juga tidak. Kini, meja itu sudah berubah banyak. Ia tak pernah sama lagi.

Continue reading

Jaga Hati Agar Tetap Damai

Image from Nerdist

Inside Out adalah sebuah film animasi yang unik buatan Disney-Pixar. Film ini berkisah tentang lima emosi yaitu Joy (Sukacita), Sadness (kesedihan), Anger (kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan) dalam diri seorang perempuan bernama Riley. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana gejolak hidup Riley yang berasal dari dialog lima emosi itu. Jika si Joy yang memegang kendali maka Riley akan tersenyum. Tetapi jika si Anger yang mengambil alih, Riley akan segera marah. Begitu pula jika semua emosi saling berebut kendali maka Riley akan gundah gulana.

Gambaran fantasi dari film itu mengingatkan tentang hati (nurani) kita yang sering mengendalikan kita untuk ikut larut dalam emosi di hati. Kitab Amsal beberapa kali menyebut hati sebagai pusat kehidupan manusia. Beberapa diantaranya: “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan” (Ams 4:23); “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”(Ams 15:13); “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu” (Ams 27:19); “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30). Semua merujuk bahwa hati adalah pusat kehidupan manusia dan harus dijaga. Kenapa dijaga? Sebab hati terkait dengan reaksi kita dalam kehidupan ini.

Kadang memori dan pengalaman hidup yang tidak baik dapat membuat hati bergejolak menjadi takut, cemas, iri, bahkan marah. Ada kalanya kita membiarkan hati kita larut dalam gejolak itu dan kita membiarkan dikendalikan olehnya. Karena itulah menjaga hati sebuah panggilan kita dalam perjalanan iman ini. Hati yang kacau akan membuat kita kehilangan arah. Dalam masa penantian adven ketiga ini, kita kembali diingatkan tentang hati. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita dapat memperjuangkan hati ini dalam posisi yang benar, sehingga hati kita tetap dalam damai sejahtera Allah. (DKG)

KEMURAHAN HATI MENGALAHKAN EGO DIRI

Bacaan: Matius 15:10-28

“Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19)

Seorang rekan saya pernah membuat ilustrasi yang menarik dalam sebuah acara di komisi pemuda. Ia menyiapkan dua baskom berisi air dengan ukuran yang satu lebih besar daripada yang lain. Kemudian ia mengambil garam dengan takaran yang sama persis dan memasukkannya ke baskom. Garam kemudian diaduk sampai larut. Saat itu, ia meminta seorang teman untuk mencicipi air garam di kedua baskom itu. Teman ini pun berkomentar bahwa di baskom yang kecil, air terasa asin, namun tawar di baskom yang kedua. Hal ini terjadi karena volume air di baskom besar lebih banyak sehingga garam yang terlarut di dalamnya hampir tak terasa. Continue reading

HIDUP DALAM PEMULIHAN

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah ” (Kolose 3:2-3)

Kadang kita tidak habis pikir dengan jalan hidup orang yang bertubuh pendek ini. Dia kaya raya dan memiliki jabatan tinggi di kota Yerikho. Sebagai seorang kepala pemungut cukai, dia bisa digolongkan koruptor karena memanfaatkan jabatannya untuk memperkaya diri sendiri dengan menarik pajak yang besar kepada orang-orang di Kota Yeriko. Dia dibenci dan disingkiri orang-orang Yahudi. Dia dianggap sebagai orang berdosa yang tidak layak untuk hidup bersama-sama dengan mereka. Continue reading

TELINGA MENDENGAR, MATA MELIHAT, TETAPI HATI MENEBAL

16Bacaan: KISAH PARA RASUL 28:23-31

Pernahkah anda mendengarkan khotbah dan merasa tersindir dengan isinya? Pernahkah ada membaca renungan harian dan merasa ditelanjangi keburukan-keburukan anda? Atau pernahkah anda mendengar kesaksian seseorang yang berdosa dan kesalahannya sangat mirip dengan anda? Jika iya, kira-kira apa yang akan anda lakukan setelahnya? Apakah anda tidak lagi mau mendengarkan khotbah pendeta tersebut? Apakah anda akan meletakkan renungan harian itu dan membuangnya kemudian? Apakah anda akan menganggap bahwa orang yang sedang bersaksi tadi pastilah secara sengaja sedang menyindir dan mempermalukan saudara? Continue reading