Berbuah, di Dalam Anugerah

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Lukas 13 : 1–9

Pada saat saya berkesempatan mengikuti salah satu KKR, pemimpin pujian mengatakan kepada jemaat yang beribadah di sana bahwa bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Selatan karena Tuhan sedang menghukum mereka. Sungguh disayangkan pernyataan itu. Apalagi jemaat yang hadir baru saja mengenal Tuhan. Perkataan itu jelas penghakiman bagi korban bencana alam dan memberi kesan seolah-olah Allah adalah Tuhan yang pemarah dan seenaknya menghukum pendosa dengan bencana alam.

Continue reading

BERBALIK DALAM DAMAI

Photo by Ben White on Unsplash

LUKAS 3: 1-6

Menanti atau menunggu adalah suatu keadaan yang bisa dimaknai dengan berbagai cara dan melibatkan perasaan yang berbeda-beda, tergantung dari apa atau siapa yang dinantikan. Dalam masa-masa penantian ada orang yang berusaha mempersiapkan diri dan segala sesuatunya dengan sebaik-baiknya. Tetapi ada pula yang bersantai ria dan tidak terlalu peduli tentang siapa yang akan datang atau apa yang akan terjadi. Ada yang hanya berdiam diri saja dan tidak tahu mau melakukan apa. Bahkan juga ada yang terlalu bersukacita hingga sangat sibuk menyiapkan ini dan itu tetapi lupa menyiapkan diri sendiri.

Continue reading

HIDUP KARENA ANUGERAH ALLAH

Photo by Marvin Meyer on unsplash

“Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah.”

(Efesus 2 : 8, 9)

Beberapa waktu lalu beredar di media sosial, ada seekor anjing yang dibuang di gorong-gorong kemudian lubangnya ditutup papan. Anjing itu dibiarkan tidak bisa keluar dan dibiarkan pelan-pelan mati. Hingga ada orang yang membuka papan itu, dan tampaklah seekor anjing kurus, terluka, menjijikkan, menatap keluar. Segera anjing tersebut ditolong dan dirawatnya hingga sembuh. Kini, anjing itu menunjukkan kesetiaannya kepada penolongnya yang telah menyelamatkannya dari kematian. Continue reading

KESETIAAN YANG TERLUPAKAN

27Bacaan: II TAWARIKH 24:17-24

Bagai kacang lupa kulitnya” tentu kita sudah tak asing lagi dengan pepatah ini. Pepatah ini adalah sebuah ungkapan bagi seseorang yang tidak tahu diri dan lupa akan asal-usulnya. Ungkapan ini sering kita temukan dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan jangan jangan kita sendiri berperilaku seperti itu, ketika kita asik dengan sebuah keberhasilan dan melupakan orang-orang yang telah berjasa juga dalam pencapaian tersebut. Continue reading