UNDANGAN HIKMAT
Amsal 9:1-6
Waktu kecil, saya paling sebel jika harus disuruh belajar oleh orangtua. Menghapal nama kota, mengapal perkalian, nama nama ibukota, menghapal rumus, belum lagi harus mengerjakan PR. Jika ulangan jelek, maka bisa terbayang bagaimana marahnya mereka. Kenapa belajar menjadi hal yang sangat memuakan? Karena saya menjalaninya secara terpaksa, belum muncul kesadaran tentang apa pentingnya belajar pelajaran sekolah. Beranjak dewasa, saya menjadi sadar, bahwa belajar itu menjadi sangat berguna untuk perkembangan diri dan menjadi bekal dalam kehidupan ini. Ketika muncul kesadaran itu, maka belajar bukan lagi menjadi hal yang menjenuhkan, tapi menjadi hal yang sangat penting untuk dijalani. Belajar bukan sesuatu yang terpaksa.
Hikmat juga tidak pernah memaksa, demikian ungkap penulis Amsal. Dalam bacaan tadi, hikmat digambarkan sebagai sosok yang baik hati membuka pintu rumahnya dan mengundang kita untuk makan di rumahnya. Sebuah undangan yang menyenangkan. Siapa yang diundang? siapa saja yang tak berpengalaman dan yang tidak berakal budi, makanlah rotiku, dan minumlah anggur yang telah kucampur - buanglah kebodohan maka kamu akan hidup.
Hikmat itu akan mengajari kita jika kita mau membuka pikiran dan mengisinya dengan hikmat itu sendiri. Dan permulaan hikmat itu adalah takut akan Tuhan. Takut disini bukan ngeri, tetapi Takut dalam Hormat terhadap Tuhan yang Maha Kudus. Kita mengenal Siapa Tuhan dan Karya yang Ia lakukan bagi dunia ini, dari Sabda-Nya. Kita tahu apa pesan dan pengajaran Kristus dari sabda-Nya juga. Berkali kali kita diundang dari Sang Empunya Hikmat, untuk belajar dan membuang kebodohan kita, kebodohan manusia lama kita.
Namun, apa yang kita lakukan? Sering pula,kita mengabaikan undangan hikmat. Kita merasa malas atau mungkin saja malas mendengarkan sabda-Nya. Atau kita dengarkan namun segera kita abikan. Marilah kita buka telinga, hati, dan pikiran untuk memperhatikan setiap pesan dari Firman Tuhan agar kita memperoleh kehidupan.
Doa pribadi:
“Tuhan tuntunlah kami dengan hikmatMu. Biarlah kami bersedia untuk diajar bijak dalam hidup ini”
Pdt Daniel K.Gunawan