ALLAH BERKENAN PADA PERTOBATAN

  •  Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi
  •  

Lukas 15:1-7

Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik dan tidak sehat! Misalkan makan terlalu banyak garam! Tanpa garam masakan pasti rasanya tidak enak, tetapi kalau terlalu banyak bisa bahaya untuk kesehatan; atau contoh lain yaitu ketika seorang terlalu banyak olahraga!  Memang di satu sisi olahraga itu baik untuk menjaga kesehatan tubuh, tetapi jika terlalu keras dan di luar batas tentu juga dapat berakibat fatal.

Demikian juga halnya dalam hal ke-iman-an! Ketika seorang menyadari bahwa hidupnya telah dikuduskan dan disucikan oleh Darah Yesus itu adalah hal yang baik, tetapi jika kemudian merasa diri benar-benar suci, kudus dan tidak bercacat sehingga merasa layak di hadapan Tuhan dan memandang rendah serta menghakimi sesamanya itu tidak sehat dan tidak baik. 

Itulah yang terjadi dalam diri orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat pada masa Yesus! Melalui ritual keagamaan yang mereka lakukan, mereka merasa diri suci dan kudus di hadapan Allah sehingga berlaku seolah berhak menentukan siapa yang layak diperkenan Allah dan siapa yang tidak. Dan kesombongan mereka inilah yang menjadi alasan mereka mempertanyakan tindakan Yesus yang bersedia menerima kehadiran para pemungut cukai dan orang-orang berdosa!

Mereka kecewa dan bersungut-sungut atas kesediaan Yesus untuk menerima orang-orang berdosa dan para pemungut cukai yang mau mendengarkan pengajaran Yesus dan mau hidup dalam pertobatan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka menginginkan Tuhan hanya berkenan kepada mereka saja yang sudah bersusah payah melakukan Hukum Taurat dan menolak mereka yang tidak dapat hidup taat seperti mereka; mereka ingin memonopoli Tuhan.

Padahal keselamatan adalah hak mutlak Allah untuk diberikan-Nya kepada siapapun yang Allah mau berikan dan tidak ada seorangpun yang dapat mengatur Allah untuk menentukan siapa yang IA harus selamatkan dan siapa yang tidak diselamatkan ! Demikianlah halnya dengan umat Tuhan di masa kini seringkali jatuh pada kesalahan yang sama, yaitu merasa diri layak sehingga merendahkan orang lain yang melakukan kesalahan atau yang jatuh dalam dosa. 

Padahal satu hal mendasar antara orang yang hidup keagamaannya baik dengan mereka yang “berdosa” (yang hidup keagamaannya dipandang kurang), semuanya sama-sama membutuhkan kasih dan anugerah Allah untuk keselamatan jiwanya. Demikianlah sesungguhnya orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat perlu menanggapi anugerah Allah dengan cara menghidupi iman mereka dengan pertobatan, sama seperti para pemungut cukai dan orang berdosa yang mendapatkan anugerah Allah karena mereka mau hidup dalam pertobatan.

Sebab sesungguhnya Tuhan berkenan pada pertobatan orang-orang yang menyadari dosa dan kesalahannya lebih daripada orang-orang yang merasa benar dan suci tetapi tidak hidup dalam pertobatan. Karena itu marilah kita rendahkan diri kita di hadapan Allah, akui kelemahan dan kekurangan kita di hadapan-Nya dan hiduplah dalam pertobatan hari demi hari. Amin.

Pokok Doa :
1.    Berdoa untuk kesehatian jemaat GKI Coyudan Solo.
2.    Berdoa untuk anak-anak yang akan menghadapi ujian kenaikan/kelulusan.