“ONAK” DAN “JERUJU”

  •  Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi
  •  

Amsal 24:30-34

Amsal 24:30-34 mencatatkan bahwa kemalasan akan mendatangkan kemiskinan dan kekurangan dalam kehidupan; hal ini tentu benar, meskipun kemalasan bukan satu-satunya penyebab kemiskinan dan kekurangan, bisa juga karena ketidak adilan dan hal lainnya. Tetapi dalam hal ini penulis Amsal ingin menyampaikan pesan firman Tuhan yang menggambarkan bahwa datangnya kemiskinan dan kekurangan itu tidak tiba-tiba dan seketika, melainkan dari kemalasan seseorang yang menunda dan tidak mau menyelesaikan persoalan-persoalan yang kecil. 

Hal ini digambarkan seperti sebuah ladang yang tidak dirawat setiap harinya, diabaikan dan tidak diurus dengan baik sehingga tiba-tiba ladang itu sudah ditumbuhi dengan onak (rotan yang berduri bengkok seperti kait; simbol tentang kesukaran dan kesulitan yang menyakitkan) dan tanahnya tertutup jeruju (tumbuhan semak yang batang dan daunnya berduri-duri melengkung dan tajam) , bahkan temboknya sudah roboh karena tidak terawat dan tidak terawasi dengan baik.

Seandainya sebuah ladang selalu diawasi dan dirawat tentu selagi onak dan jeruju itu masih benih akan dapat segera dicabut dan dibersihkan dengan mudah. Hal ini sama dengan jalan kehidupan seseorang di mata Tuhan ! Apabila seorang tidak mengawasi dan merawat hidupnya dengan bijak maka jalan hidupnya akan dipenuhi dengan hal-hal buruk yang mempengaruhi pikiran dan tindakannya tanpa ia sadari ! Begitu tersadar, ”onak” dan ”jeruju” (sebagai simbol penderitaan dan kesukaran) itu sudah memenuhi hidupnya. 

Kehidupannya dipenuhi dengan kesukaran dan penderitaan oleh karena persoalan-persoalan kecil yang terabaikan dan sudah menjadi persoalan besar ! Orangtua yang tidak pernah meminta maaf kepada anaknya ketika melakukan kesalahan (membekas luka hati anaknya selama bertahun-tahun dalam pertumbuhannya) , seorang suami yang sering berkata-kata tanpa memikirkan perasaan isterinya atau seorang isteri yang mengabaikan suaminya (sehingga memunculkan potensi terjadinya perselingkuhan ketika ada orang lain yang memberikan perhatian dan pujian) , seorang siswa yang menunda-nunda untuk belajar (ketika mendekati ujian baru mulai mempelajari bahan yang sedemikian banyaknya sehingga terlambat untuk dapat menguasainya) , dsb.

Teguran keras dari firman Tuhan ini menunjukkan betapa Tuhan menghendaki umat-Nya untuk menjadi umat yang rajin dan giat dalam bekerja; yaitu melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan. Sebab Allah memberkati orang-orang yang membersihkan dan menyelesaikan pekerjaannya dengan tekun. Demikian juga halnya diterapkan dalam kehidupan iman dan keseharian kita sebagai umat Tuhan hendaknya tidak menunda-nunda untuk menyelesaikan persoalan atau pergumulan yang ada. Sekecil dan sesederhana apapun masalah itu, hendaknya jangan ditunda-tunda untuk segera diselesaikan, jangan diabaikan agar tidak menjadi ”onak” dan ”jeruju” yang merusakkan tembok perlindungan dalam kehidupan kita.

Kemalasan kita untuk menyelesaikan masalah-masalah kecil akan membawa kita pada kemiskinan dan kekurangan, baik dalam hal keuangan maupun dalam hal mentalitas hidup kita. Sebab kehidupan kita akan dipenuhi dengan persoalan dan masalah kehidupan yang menyakitkan dan membuat kita sulit bertumbuh. Karena itu kerjakanlah segala sesuatu dengan sungguh-sungguh, seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Amin.

Pokok Doa :
1.    Berdoa untuk Kebaktian Penutupan Bulan Keluarga – Minggu, 29 Oktober 2023.
2.    Berdoa untuk perdamaian di Gaza.
3.    Berdoa untuk hikmat Tuhan bagi Jemaat dan kelurga.

Pdt. Lucas Adhitya Aryanto Sudarmadi