Jalan Damai


Photo by Syd Sujuaan on Unsplash

Minggu Pra Paska ke-6, seminggu sebelum Paska disebut sebagai Minggu Palma yang merujuk pada peristiwa dalam Injil Lukas 19: 28-44, Markus 11: 1-11, Matius 21: 1-11, dan Yohanes 12: 12-19. Dalam tradisi Yahudi, daun palma adalah simbol kemenangan atas musim semi dan dingin, simbol kemenangan atas kehidupan dari kematian. Minggu Palma juga menjadi pembuka minggu sengsara untuk mengingatkan bahwa kemuliaan Yesus bukan hanya pada kebangkitan-Nya saja, namun perjalanan penderitaan-Nya menunjukkan kemuliaan-Nya sehingga Ia layak dipuji dan dimuliakan.

Continue reading

Kasih Kristus Menggerakkan Solidaritas


Photo by Aaron Burden on Unsplash

Dalam masa Pra Paska kita diajak untuk mengingat dan menghayati kembali tentang masa sengsara Tuhan Yesus sebagai wujud nyata cinta kasih-Nya kepada dunia. Cinta kasih Tuhan itu dinyatakan dengan wujud solidaritas-Nya, yaitu dengan menjadi sama dengan manusia. Bahkan ikut merasakan apa yang dialami oleh seorang manusia dari lahir, belajar, bekerja, bersama rakyat berada di bawah pemerintahan yang tidak adil, rela menjalani jalan penderitaan yang membuat-Nya dihina, dicela, dianiaya, dan mati di kayu salib.

Continue reading

Berbuah, di Dalam Anugerah

Photo by Nik Shuliahin on Unsplash

Lukas 13 : 1–9

Pada saat saya berkesempatan mengikuti salah satu KKR, pemimpin pujian mengatakan kepada jemaat yang beribadah di sana bahwa bencana gempa bumi dan tsunami yang menimpa saudara-saudara kita di Palu, Donggala, dan Sigi, Sulawesi Selatan karena Tuhan sedang menghukum mereka. Sungguh disayangkan pernyataan itu. Apalagi jemaat yang hadir baru saja mengenal Tuhan. Perkataan itu jelas penghakiman bagi korban bencana alam dan memberi kesan seolah-olah Allah adalah Tuhan yang pemarah dan seenaknya menghukum pendosa dengan bencana alam.

Continue reading

Ikut Yesus di Jalan Derita


Photo by Jose Cortés on Unsplash

Lukas 13 : 31–35

Yerusalem merupakan kota yang Allah perkenankan, namun kota itu juga terkenal sebagai kota pemberontak pada Allah karena sejarah mencatat kota ini terkenal sebagai pembunuh para nabi-Nya. Sekumpulan orang Farisi yang datang pada Yesus, mereka memberitahukan rencana pembunuhan Herodes atas diri-Nya. Kata mereka: “Pergilah, tinggalkanlah tempat ini, karena Herodes hendak membunuh Engkau.” Bagaimana jawaban Tuhan kepada mereka? Alih- alih pergi, Yesus justru bertahan. Apa yang bisa kita teladani dari sikap Tuhan Yesus?

Yesus tidak takut menghadapi ancaman.
Mengenai Herodes, si serigala licik, maupun para pemuka agama Yahudi yang memusuhi Dia, bahkan penduduk kota Yerusalem yang pada akhirnya menyerukan, “Salibkan Dia, salibkan Dia!”, mereka sama sekali bukan penentu kematian Yesus dan mereka tidak dapat menghentikan langkah Yesus menuju rencana keselamatan Allah. Maka terhadap ancaman dari Herodes, Yesus mengingatkannya bahwa ia tidak memiliki kuasa apa pun atas diri-Nya. Yesus berani menghadapi ancaman itu sebab ada kuasa ilahi yang menaungi-Nya. Bagaimana dengan kita? jangan kuatir, sebab ada perlindungan Allah bagi umat-Nya.

Yesus taat menjalani panggilan.
Yerusalem, seperti yang telah dinubuatkan nabi-nabi, adalah tempat Yesus untuk menderita sampai mati di sana. Panggilan derita adalah bagian dari konsekuensi dari ketaatan. Tidak ada ketaatan yang nyaman. Ketaatan membutuhkan pengorbanan dan perjuangan.

Integritas Yesus di jalan derita.
Meskipun Yesus tahu bahwa nyawa-Nya terancam di Yerusalem, Ia tetap setia menjalankan misi-Nya, meski harus melalui jalan derita. Ini menunjukkan integritas Yesus dalam menjalankan panggilan-Nya. Integritas tidak dibuktikan dalam jalan yang aman, justru dalam jalan derita itu akan terwujud. Mari kita setia untuk mengikut Tuhan apapun jalan yang harus kita hadapi. Jangan takut, sebab Tuhan yang telah melalui jalan itu bersama kita. (JM)