Tabita Davinia Utomo

Terlahir pada 4 Juni 1997, Tabita mulai jatuh cinta pada bidang literatur saat kelas 5 SD. Selain sebagai mahasiswa psikologi, Tabita juga terlibat dalam pelayanan pemuridan di KTB Remaja-Pemuda, serta pelayanan literatur di Majalah Ebenhaezer, Majalah Pearl, dan Ignite GKI. Penikmat musik, "devotional book" dan coklat ini juga telah menerbitkan sebuah novel, Singing in the Echo and the Shadow. Cita-citanya adalah menjadi seorang konselor anak dan remaja, sekaligus ibu rumah tangga yang mendedikasikan hidupnya pada Tuhan melalui bidang literatur.

Keluarga Yang Tetap Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Photo by Victoria Borodinova from Pexels

Seorang teman saya pernah bercerita bahwa salah satu penyebab dirinya sulit untuk mengampuni orang tuanya adalah karena dia sering dibanding-bandingkan dengan saudaranya. Akibatnya, dia merasa dirinya tidak sehebat saudaranya. Cerita tersebut hanyalah secuil dari banyaknya keluhan anak-anak karena merasa porsi kasih yang ditunjukkan oleh orang tua berbeda dari saudara mereka. Padahal firman Tuhan—dengan jelas—menyatakan bahwa setiap orang percaya (termasuk kita) “dituntut” untuk saling mengasihi (tentunya dengan adil), seperti Tuhan yang telah mengasihi kita (Yohanes 13 : 34-35). Di belakang pernyataan tersebut, Tuhan tidak memberikan anak kalimat seperti “kecuali kalau nilai sekolah anakmu buruk” atau “kecuali kalau orang tuamu bercerai.” Tuhan menghendaki kita untuk tetap mengasihi keluarga kita, itu berarti kita harus menundukkan ego kita di bawah salib Kristus.

Read More »Keluarga Yang Tetap Mengasihi Tanpa Pilih Kasih

Pondasi Kejujuran: Hormat Pada Allah

Photo by Erik Witsoe on Unsplash

Mazmur 119 : 1-8, Kejadian 39 : 1-23

Beberapa hari yang lalu, saya menonton sebuah film yang menceritakan tentang tokoh utama yang terus diingatkan untuk mendengarkan suara hati nuraninya sebelum mengambil keputusan—yang seringkali di luar pikiran teman-temannya. Meski demikian, di akhir tindakannya, dia tahu bahwa apa yang dilakukannya benar. Sekalipun orang-orang tidak memahami jalan pikirannya, dia percaya hati nuraninya mengatakan hal yang tepat untuk dilakukan. Tentunya ini karena berbagai pengalaman yang telah dialami sang tokoh sebelumnya yang membentuknya menjadi pribadi yang berbesar hati danmemilih untuk tidak egois.

Read More »Pondasi Kejujuran: Hormat Pada Allah

Sambut Kebangkitan-Nya: Hadirkan Kehidupan

Image from canadianmennonite.org

Dalam buku Death and Dying, Elisabeth Kübler-Ross menerangkan bahwa ada 5 fase saat seseorang menghadapi kematian; yaitu denial (penolakan), anger (kemarahan), bargaining (penawaran), depression (depresi), dan acceptance (penerimaan). Kelimanya bisa tidak berurutan dan fase-fase tersebut juga dapat dialami oleh keluarga yang ditinggalkan. Kalaupun bukan karena sakit, kematian yang mendadak dari orang yang dikasihi juga bisa membuat seseorang mengalami fase-fase sulit tersebut—bahkan cenderung lebih sulit menerima kematiannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dia akan merasa hidupnya tidak akan sama lagi, bahkan bisa sampai kehilangan gairah untuk hidup.

Read More »Sambut Kebangkitan-Nya: Hadirkan Kehidupan