DIMULIAKAN DALAM KEMULIAAN KRISTUS

Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. (2 Korintus: 4:6)

 

Dimuliakan dalam Kemuliaan KristusKemuliaan mengandung arti sesuatu yang ditinggikan, dihormati, dan sangat berharga. Hidup dalam kemuliaan adalah dambaan setiap orang, walaupun barangkali definisi kemuliaan satu orang dengan yang lain belum tentu sama. Ada orang yang menganggap kemuliaan itu datang dari kekuasaan sehingga seluruh hidupnya selalu mengejar kekuasaan. Ada orang yang menganggap kemuliaan datang dari kekayaan, karena dengan kekayaan dapat membeli berbagai macam simbol kemuliaan duniawi. Mungkin kita melihat hal tersebut di sekitar kita. Sebagai pengikut Kristus, dari manakah kemuliaan kita?

Ketika Yesus dimuliakan di atas gunung (Markus 9:2-9), tampaklah Dia berpakaian putih berkilat-kilat, dan ada bersama Elia dan Musa. Di balik awan, terdengarlah suara Allah "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." Kemuliaan Kristus, adalah cahaya kemuliaan Allah yang memancar bagi dunia, yaitu tempat dimana manusia berdosa dan berada di dalam kegelapan. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Akan tetapi, karya keselamatan Kristus membawa terang ke dalam hati manusia yang gelap karena dosa.

Ketika terang kemuliaan Allah menyinari hati, terang itu menuntun kita kepada Kristus, karya penebusan dan panggilan-Nya. Terang yang memancar di hati kita, mempersekutukan kita dengan kemuliaan Kristus. Kita sudah hidup dalam kemuliaan Kristus ketika kita menanggapi panggilan-Nya. Oleh karena itu, hidup dalam kemuliaan Kristus adalah hidup dalam kemuliaan sejati, yang jauh melebihi segala kemuliaan yang dapat diperoleh dari dunia ini.

Sebagai umat yang dipersekutukan dalam kemuliaan Kristus, kita memiliki panggilan untuk memancarkan kemuliaan Kristus bagi dunia. Melalui perkataan kita, orang lain dapat menerima kabar keselamatan. Melalui hidup kita, orang lain dapat melihat Kristus dan karya-Nya. Marilah kita menyediakan diri untuk setia sebagai “teater kemuliaan Allah.” (ES)

KONSISTEN DAN SETIA

Banyak orang bahkan para kaum rohaniwan dari berbagai kalangan agama mengalami kejatuhan dalam kehidupannya ketika ia sedang berada di puncak karier atau di tingkat atas kehidupannya. Secara umum biasanya itu disebabkan oleh popularitas dan harta kekayaan atau singkatnya berbagai hawa nafsu dunia. Pada awalnya motivasi dalam kehidupannya berorientasi pada hal-hal yang mulia dan baik, tetapi oleh karena godaan harta kekayaan, popularitas akhirnya orang kehilangan “kasih” yang mula-mula dan beralih pada orientasi harta dan popularitas; bahkan ada juga yang karena perselingkuhan atau tindakan amoral lainnya.

Dalam bacaan Injil, kita melihat bahwa setelah Yesus menyembuhkan ibu mertua Simon, tanpa diduga ternyata kabar itu menyebar sehingga banyak orang sakit dan kerasukan setan berbondong untuk disembuhkan (Markus 1:33-34).  Dan semua orang di Kapernaum terus mencari Yesus hingga menjelang malam (Markus 1:37). Popularitas dalam pelayanan ini tidak membuat Yesus kemudian memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan materi untuk alasan apapun, sebaliknya Yesus mengambil sikap untuk meninggalkan orang banyak sekalipun para murid tetap mendorong-Nya untuk tetap tinggal (Markus 1:38). Padahal Kapernaum adalah kota terbesar dan terpenting di Galilea, merupakan sebuah kesempatan bagi Yesus untuk dapat dikenal dan menjadi terkenal. Tetapi Yesus ingin meneladankan sikap rendah hati, konsistensi dan setia terhadap sebuah panggilan. Sebab memang Kristus dipanggil bukan untuk menjadi terkenal, bukan untuk menjadi kaya tetapi untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah.

Bagaimana dengan kehidupan kita sebagai umat Tuhan atau sebagai gereja Tuhan ? Adakah kita ada di dunia untuk mencari keuntungan ? ataukah untuk mengejar popularitas ? ataukah pujian dan kemegahan ? Tidak ! Sebagai umat Tuhan dan gereja Tuhan, kita dipanggil untuk menyatakan kasih Kristus kepada semua orang yang tersisih, terpinggirkan, terabaikan, menderita dan dalam dukacita. Kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia sehingga kehadiran kita membawa arti dan bukti nyata kasih Tuhan untuk semua orang. Karena itu marilah kita konsisten dan setia pada satu tujuan : memuliakan Tuhan dengan segenap hidup kita. Amin. (-LAAS-)

 

MOZAIK KEBAIKAN TUHAN

Sejenak aku menoleh pada jalan yang telah kau tempuh
Kasih Tuhan kuperoleh, membuatku tertegun
Jalan itu penuh liku, kadang-kadang tanpa trang
Tapi Tuhan membimbingku hingga aku tercengang
Kasih Tuhan membimbingku dan hatikupun tenang
 
Bukan karna aku baik dipegangNya tanganku erat
Bukan pula orang laik, hingga aku didekap
O, betapa aku heran, dilimpahkan yang terbaik
Dengan apa kunyatakan kasih Tuhan yang ajaib?
Kulakukan, kusebarkan kasih Tuhan yang ajaib
 
                Begitulah syair dari lagu PKJ 244 yang mau mengingatkan kepada kita untuk tidak melupakan karya Allah di masa lalu.  Dalam perjalanan hidup kita, selayaknyalah kita menoleh ke belakang dan mengingat kembali bagaimana perjalanan hidup kita senantiasa disertai oleh Allah, dipimpin Allah dan diberkati oleh Allah.  Perjalanan hidup kita memang tidak selamanya mudah, kadang-kadang kita juga melewati jalan yang berliku-liku, bahkan seolah-olah gelap tanpa terang, tetapi nyatanya kita selamat.
 
                Bukan oleh karena kita mampu dan kuat, tetapi oleh karena tangan Tuhan yang memegang dan menyelamatkan.  Semua oleh karena karya kasih Allah dalam hidup kita.  Bukan karena kita baik tetapi karena kebaikan Tuhan kepada kita.
Saat kita mengingat karya-karya Allah di waktu yang lalu membuat kita diteguhkan untuk menghadapi dan menjalani kehidupan ke depan, walaupun juga dengan segala persoalan dan tantangan, walaupun melewati jalan yang penuh dengan liku, walaupun terkadang terasa berat tetapi tangan Tuhan yang kuat yang berkary dalam hidup kita di masa lalu akan berkarya dalam hidup kita di masa yang akan akan datang.
 
                Yosua 3:7-17, mengisahkan tentang penyertaan Allah kepada bangsa Israel ketika mereka akan menyeberangi sungai Yordan.  Allah berfirman kepada Yosua, bahwa sebagaimana Allah dulu menyertai Musa, demikianpun sekarang Allah akan menyertai Yosua.  Apa yang dulu pernah Allah lakukan kepada bangsa Israel ketika bangsa Israel menyeberangi laut Teberau, demikianlah sekarang Allah akan menyertai bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan.  Sebagaimana Allah memakai Musa, demikianpun Allah memakai Yosua dan memperlengkapinya untuk memimpin bangsa Israel memasuki negeri Kanaan.  Tantangan dan persoalan memang masih dihadapi oleh bangsa Israel tetapi Allah yang sudah memimpin mereka keluar dari negeri perbudakan, yang sudah menolong mereka ketika melewati perjalanan hidup yang sukar dan rumit, Allah itu juga yang akan terus menyertai dan membawa mereka masuk ke negeri perjanjian itu.
Allah menolong bangsa Israel menyeberangi sungan Yordan seperti di jalan yang kering.  Masalah itu bisa diatasi karena Allah yang berkarya bagi mereka.
 
                Sebagaimana Allah menyertai, menuntun dan membimbing bangsa Israel di masa lalu dalam kepemimpinan Musa, demikianpun Allah menyertai di masa kepemimpinan Yosua.
Demikian juga Allah menyertai kehidupan kita di masa lalu, masa kini dan masa depan.  Kebaikan Allah, karya-karya Allah di masa lalu senantiasa kita ingat dan membuat kita mantap melangkahkan kaki menjalani hari ini, esok dan seterusnya.
 
JANGAN LUPAKAN KEBAIKAN TUHAN !!

Di Manakah Tuhan Saat Aku Berduka?

Matius 5 : 4
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”

Beberapa tahun yang lalu, terbit sebuah buku berjudul “When Bad Things Happen To Good People” yang ditulis oleh seorang Rabi Yahudi, Harold S. Kushner. Buku ini berusaha menjelaskan mengapa hal yang buruk bisa terjadi kepada orang yang baik. Tidak dapat kita pungkiri bahwa orang yang baik, yang jujur, yang saleh, yang setia tidak dapat terlepas dari yang namanya penderitaan, dan seringkali justru kita menjumpai orang yang jahat malah hidupnya lebih baik. Memang lebih mudah bagi kita untuk mengerti dan menerima bahwa sepantasnya “When Bad Things Happen to Bad People” atau kita sangat setuju bahwa seharusnya “When Good Things Happen to Good People”. Namun faktanya, kita semua berpeluang yang sama untuk mengalami penderitaan, baik Good People maupun Bad People.

Yang terpenting yang harus kita pelajari adalah : Sekalipun penderitaan yang kita alami dan hadapi dapat membuat kita berdukacita namun jangan biarkan berlalu dengan sia-sia melainkan nyatakanlah kasih Tuhan di dalamnya. Orang yang percaya kepada Kristus seharusnya tidak membiarkan dukacita yang ia alami berlalu dengan sia-sia, namun justru melaluinya ia dapat merasakan dan menyatakan kasih Tuhan di dalam penderitaan yang ia alami.

Ada sebuah kesaksian dari seorang pemudi yang bernama Gloria yang tengah menghadapi penderitaan di dalam keluarganya, dimana satu-persatu masalah datang melanda keluarga tersebut. Dimulai dari papanya yang suka mengeluhkan punggung dan tangannya yang sakit, hingga mengalami pembengkakan. Ketika diperiksakan di sebuah Rumah Sakit, sungguh mengejutkan bahwa papanya didiagnosa mengidap kanker darah berjenis myeloma ganas. Bersyukur bahwa dokter yang menangani adalah tetangganya sendiri, sehingga tidak perlu opname untuk dapat dirawat guna menekan biaya pengobatan. Namun tak lama setelah itu, mamanya mengalami kecelakaan dan cedera di pangkal lengan kanan dan harus dioperasi. Sungguh sangat membingungkan dan mengkuatirkan karena kedua orangtua mengalami sakit pada saat yang bersamaan. Keluarga hanya dapat berserah dan berdoa kepada Tuhan. Di awal tahun, musibah menimpa lagi. Otte, adik Gloria, mengalami kecelakaan motor juga, namun bersyukur hanya luka ringan di hidung, pipi, bibir, tangan, serta kaki. Sorenya Otte masih bisa terlibat pelayanan di Natal Pemuda di gerejanya. Dari serangkaian musibah ini, justru mereka belajar bagaimana Tuhan membentuk keluarga mereka untuk bisa berserah dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan.

Mari kita lihat apa yang sebenarnya dimaksud dengan dukacita. Menurut KBBI dukacita berarti kesedihan atau kesusahan hati. Dukacita tidak selalu harus dikaitkan dengan kehilangan, namun ketika kita sedang mengalami kondisi hati yang sangat sedih itu bisa dikatakan dukacita. Jadi dapat kita katakan bahwa dukacita adalah “Ekspresi lahiriah dari kesedihan yang batiniah yang sangat dalam karena sesuatu hal”.

Penyebab dukacita antara lain :
1. Penyesalan Diri
Suatu kesalahan yang dilakukan yang tidak dapat diperbaiki dapat mengakibatkan dukacita

2. Perbuatan Orang Lain
Tekanan dari orang lain dapat menyebabkan dukacita dan stress

3. Harta Benda / Fana
Kehilangan harta benda juga dapat menyebabkan orang berdukacita

4. Orang yang Dikasihi
Kehilangan orang yang dikasihi juga menyebabkan orang berdukacita

Karena semua orang tidak mungkin dapat terhindar dari dukacita, dukacita dapat datang tanpa diundang jadi seharusnya yang kita pikirkan adalah bagaimana cara menyikapinya.
Kata kunci yang pertama :
Seharusnya kita bukan bertanya “mengapa?” tapi “apa tujuannya?”.
Jika kita hanya bertanya mengapa dan mengapa, maka sesungguhnya iman yang kita miliki adalah iman yang rapuh karena selalu mencari jawaban dan jika jawaban yang kita dapat tidak sesuai dengan yg kita harapkan maka kita akan cenderung menyalahkan Tuhan.
Kata kunci yang kedua :
Seharusnya bukan “dicari-cari” tapi “panggilan”.
Dukacita itu bukan merupakan hobby ataupun sesuatu yang dicari-cari, namun sebagai orang Kristen tidak mungkin tidak pernah mengalami dukacita ataupun penderitaan. Ketika Tuhan Yesus berkata “Berbahagialah orang yang berdukacita …” maka sesungguhnya Tuhan Yesus sedang menyatakan bahwa orang yang mengikut Dia pun dapat mengalami dukacita. Yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai dukacita disini adalah “dukacita rohani”. Di dalam segala dukacita kita bisa merasakan kehadiran dan penyertaan Tuhan. Melalui dukacita yang kita alami kita bisa merasakan penghiburan Tuhan. Itulah yang disebut “dukacita rohani”.

Di dalam bukunya yang berjudul “Pengudusan Emosi”, Pdt. Stephen Tong menyebutnya sebagai “Dukacita yang Kudus”, yaitu dukacita yang sesuai dengan kesedihan Tuhan.
1. Dukacita karena membenci dosa
2. Dukacita karena ketaatan / menuruti kehendak Allah
3. Dukacita karena melihat dunia
4. Dukacita karena jiwa yang terhilang

Louisa M.R. Stead menuliskan sebuah lagu di dalam dukacitanya karena kehilangan suaminya. Lagu tersebut berjudul “Tis So Sweet To Trust In Jesus”. Jika kita mendengarkan lagu ini, kita tidak akan menyangka bahwa penciptanya saat itu sedang dalam kondisi dukacita karena lagu ini penuh dengan nuansa sukacita dan pengharapan.

Dukacita seperti apa yang saat ini sedang kita alami? Di dalam dukacita yang sedang engkau alami, masihkah engkau melihat penyertaan Tuhan. Jika dukacita yang kita alami karena dosa, bersediakah engkau meninggalkan dosa tersebut?

“Tuhan tidak menjanjikan
langit selalu biru
dan bunga bertebaran
di sepanjang jalan kehidupan kita!

Tuhan tidak menjanjikan
matahari tanpa hujan,
kesukaan tanpa kesusahan,
damai tanpa kesakitan!

Tapi Tuhan menjanjikan …
Kecukupan di dalam kehidupan kita.
Kedamaian bagi jiwa yang letih.
Terang di jalan,
Kasih karunia dalam kesukaran …

Pertolongan
di sepanjang kehidupan kita,
Kasih yang tak pernah gagal
dan tak pernah padam
menyertai kehidupan kita!”

(Annie Johnson Flint)

Ringkasan Kotbah Pdt. Lukman Halim “Dimanakah Tuhan Saat Aku Berduka” di Persekutuan Pemuda tgl 7 Sept 2014

Kekeringan Rohani

Apa itu kekeringan rohani? Apakah saudara pernah mengalaminya?

Kekeringan rohani, Malam gelap jiwa, Padang gurun rohani, atau apapun istilahnya, adalah sebuah kondisi dimana seseorang mengalami hampa dalam hidupnya. Ia melakukan saat teduh, berdoa, dan pelayanan secara rutin namun tetap merasa hampa dan menjadi rutinitas belaka. Ia merasa seakan Tuhan memalingkan muka darinya, membiarkannya didalam kesendirian. Saat-saat seperti ini tentunya adalah saat yang paling tidak menyenangkan di dalam diri orang Kristen. Semua orang bahkan penginjil dan pendeta sekalipun pasti pernah mengalaminya.

St. Yohanes Salib (John of the Cross) menggunakan istilah “Dark Night of the Soul” (Malam gelap jiwa) di dalam puisinya untuk menggambarkan kekeringan rohani. Ia justru mengalami dan merasakan hadirat Allah ketika berada di dalam penjara. Ini membuktikan bahwa kehadiran Allah tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, bahkan di dalam penjara sekalipun Allah tetap hadir. Lantas apa yang menyebabkan manusia tidak merasakan kehadiran Allah? Apa yang membuat manusia mencari-cari Allah tetapi tidak mendapatkan-Nya?

Kristus sendiri pernah mengalaminya ketika diatas kayu salib. Bukan salib yang membuat dia tersiksa, bukan paku, bukan mahkota duri, namun siksaan yang sebenarnya ditunjukkan dengan teriakan-Nya “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Saat itu Bapa memalingkan muka dari-Nya karena Kristus sedang menanggung dosa seluruh umat manusia. Siksaan fisik tidak cukup berarti jika dibandingkan dengan perasaan ketika Allah memalingkan muka. Hal yang paling mengerikan yang dapat dialami manusia adalah ditinggalkan Allah.

Jika ditelusuri, ada beberapa penyebab dari kekeringan rohani :

1. Dosa (Yesaya 1 : 15)

Dosa inilah akar mula manusia mengalami kekeringan rohani. Di dalam dosa, manusia bukan hanya jauh dari Allah tetapi manusia sedang dalam kondisi terpisah dari Allah. Segala dosa memiliki kenikmatan dan manusia yang sedang jatuh didalamnya dapat diibaratkan seperti seekor serigala yang sedang menjilati makanan lezat, padahal di dalam makanan itu ada belati yang sangat tajam. Bahkan ketika lidahnya terkena belati itu, ia tidak sadar karena sudah terbuai dalam kenikmatan makanan yang bercampur darah itu dan pada akhirnya mati karena kehabisan darah. Seperti itulah bahaya kenikmatan dosa yang sedang menjerat kita.

2. Mencintai Dunia (1 Yohanes 2 : 15 – 17)

Yang dimaksud mencintai dunia adalah mencintai hal-hal lain melebihi rasa cinta kepada Allah. Ketika seseorang sedang jatuh cinta, maka perasaan itu akan mengendalikannya dengan hebat. Rasa cinta dapat diibaratkan seperti nakhoda yang mengendalikan sebuah kapal. Ketika cinta tidak ditujukan kepada Allah, maka dapat dipastikan manusia akan mengalami kekeringan rohani.

3. Kehilangan fokus (Lukas 10 : 38 – 42)

Kisah Maria dan Marta ini digunakan untuk menggambarkan dua orang yang sebenarnya memilih bagian yang baik. Marta memilih menyibukkan diri untuk melayani Tuhan, sedangkan Maria memilih duduk dan diam di bawah kaki Yesus dan mendengarkan setiap perkataan-Nya. Tidak dikatakan bahwa Marta melakukan hal yang salah. Melayani Tuhan adalah bagian yang baik, namun dikatakan bahwa Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya (ay. 42). Seringkali kita seperti Marta, menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan dan melakukan berbagai pelayanan sehingga kita justru kehilangan fokus. Kesibukkan diri kita dapat menghilangkan fokus kepada Tuhan. Setiap kegiatan yang kita lakukan harus didasari fokus terhadap Tuhan supaya kita tidak kehilangan arah.

4. Disiplin rohani berubah menjadi rutinitas (1 Korintus 9 : 24 – 27)

Disiplin dan rutinitas adalah dua hal yang tampaknya dari luar sama, namun sebenarnya sangat berbeda. Rutinitas adalah hal-hal yang dikerjakan hanya sekedar mengisi waktu luang, tidak mengubah apapun dari diri manusia, dan tidak membutuhkan usaha dan pikiran yang berat untuk melakukannya. Sedangkan disiplin adalah hal yang dapat mengubah hidup manusia menjadi lebih baik dan membutuhkan usaha dan pikiran yang berat untuk melakukannya.

Rasul Paulus menggambarkan disiplin rohani dan pengejaran akan pertumbuhan seperti orang yang mengikuti pertandingan lari. Setiap orang pasti berlari dengan semaksimal mungkin sampai di garis finish. Pelari tidak akan bersantai-santai sebelum ia mencapai garis finish. Demikian juga seharusnya kita dalam melakukan disiplin rohani. Kita seharusnya berjuang semaksimal mungkin dalam pertumbuhan dan pengenalan akan Kristus sampai pada garis finish, yaitu pada saat kita mati. Marilah kita terus berjuang untuk menjaga relasi dan keintiman dengan Allah sehingga kita dapat mengatasi kekeringan rohani. Amin.

Ringkasan khotbah Ev. Natanael DBJP, S.Th. “Dark Night of the Soul” pada Persekutuan Pemuda GKI Coyudan, Sabtu, 6 Agustus 2011 dengan perubahan dan penyesuaian

Sumber