Jalan Orang Benar atau Fasik?

Photo by Hayden Walker on Unsplash

“Di dalam dunia ada dua jalan
lebar dan sempit, mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati
tapi yang sempit hidup bahagia”

Demikian lirik lagu yang pernah kita nyanyikan dulu waktu sekolah minggu atau mungkin sampai sekarang masih kita dendangkan. Syair lagu ini mengingatkan bahwa kepada setiap orang diperhadapkan pilihan jalan hidup. Setiap pilihan tentu memiliki konsekuensi masing-masing. Apa yang dikatakan oleh lagu itu tidak jauh berbeda dengan apa yang tertulis di Mazmur 1 : 1-6.

Continue reading

LAKUKAN BAGIAN PELAYANANMU!

Photo by Ben White on Unsplash

Bicara tentang bagian pelayanan berarti bicara tentang panggilan juga. Dan bicara tentang panggilan, tidak mudah bagi seseorang untuk tetap setia pada panggilan itu. Ada banyak godaan yang menghampiri, baik dalam diri sendiri maupun dari orang lain.

Continue reading

TUNTUNAN ALLAH

Photo by Tegan Mierle on Unsplash

Setiap manusia mengalami tuntunan Allah dalam hidupnya. Tuntunan Allah melalui semua pengalaman dan perjalanan hidup manusia. Suka dan duka datang silih berganti untuk membuat semakin merasakan tuntunan Allah yang selalu ada. Bagaimana dengan perjalanan hidup saudara hingga hari ke-6 di tahun 2019 Ini? Mungkin ada sebagian kita yang merasakan senang, sedih, kecewa, ragu, atau gamang memasuki tahun 2019. Ada begitu banyak pengalaman yang sedang mewarnai hari-hari perjalanan hidup kita. Namun apakah kita tetap merasakan tuntunan Tuhan hingga saat ini?

Continue reading

BERTEKUN DALAM PANGGILAN

Photo by Tomasz Woźniak on Unsplash

Seorang pelari dalam lomba Olimpiade cabang Marathon pada musim panas tahun 1968 di Mexico City; dia memasuki garis finish pada urutan terakhir ketika para penonton sudah mulai beranjak pulang dari stadion. Banyak bangku yang sudah kosong, tetapi tiba-tiba para penonton yang masih tinggal di situ mendengar pengumuman bahwa masih ada pelari yang akan masuk ke garis finish di stadion itu.

Penonton dikejutkan oleh seorang pelari yang memasuki stadion dengan terpincang-pincang karena kakinya terluka; dengan pakaian lari serta nomor peserta di dadanya, dia berlari tertatih menahan sakitnya. Pada kilometer ke 19 ia terjatuh mendapatkan cedera pada betis dan lututnya. Akan tetapi, dia melanjutkannya dengan keadaan lutut dan betis kanan yang dibalut seadanya. dan tetap melanjutkan larinya sejauh sejauh 23 km.

Dari 75 peserta tersisa sampai pada garis finish sebanyak 57 orang, dan John Stephen Akhwari, perwakilan Tanzania yang kakinya terluka itu salah satunya. Dalam sebuah wawancara seorang wartawan bertanya kepadanya “Mengapa anda tidak mengundurkan diri saja karena kakinya yang cedera dan sudah tidak mungkin untuk menang ?!”, dia menjawab dengan sangat sederhana, “My country didn’t sent me to start the race, but they sent me to finish the race.” (Negaraku tidak mengutus aku untuk memulai
pertandingan, tetapi menyelesaikan pertandingan).

Kesadaran akan panggilannya sebagai perwakilan negara membuat John Stepehen Akhwari bertekun untuk menyelesaikan perlombaan sekalipun dia harus tertatih dan berlari dengan langkah-langkah kecilnya sampai garis finish. Dan ketekunannya itu membuahkan pujian dan kekaguman banyak orang sekalipun dia hanyalah seorang peserta terakhir yang memasuki garis finish.

Demikian halnya memenuhi panggilan kita sebagai murid Kristus, diperlukan ketekunan dan kesadaran penuh bahwa kita ini adalah utusan-utusan Tuhan yang sedang mengikuti perlombaan iman, yaitu untuk terus melakukan segala sesuatu dengan mengenakan KASIH sebagai dasar dan pengikat setiap perbuatan kita terhadap sesama.

Memang tidak mudah, terkadang kita tersakiti, terjatuh karena kemarahan, kekecewaan, dan lain-lain. Tetapi bertekunlah terus untuk tetap mengasihi dan hidup dalam kasih Kristus sampai perlombaan kita berakhir mencapai garis finish. Maka pujian bukan datang dari manusia, tetapi dari Tuhan. Selamat bertekun, Tuhan Yesus memberkati. Amin (LAAS)