Hidup Jujur: Saat Kata dan Laku Adalah Sama

Photo by Ales Krivec on Unsplash

Kisah Para Rasul 5: 1–11

Seorang peternak muda merasa bosan saat menggembalakan kambing-kambingnya di ladang. Ia kemudian mendapat ide untuk mengatasi kebosanannya. Apa yang ia lakukan? Ia naik ke pohon dan berteriak ke arah kampung “Kebakaran… kebakaran.. ada kebakaran di ladang!” Seketika itu, warga sekampung segera datang membawa ember berisi air untuk memadamkan api itu. Sampai di ladang, mereka semua bingung sebab tidak ada api sama sekali. Sang peternak itu terkikik menahan tawa di atas pohon melihat tampang bodoh orang-orang itu.

Ia melanjutkan aksinya kembali. Setelah warga kembali ke kampung, ia merobek bajunya dan berlari ke arah kampung sambil berteriak “Tolong.. tolong ada anjing gila menyerangku.. ia berlari ke arah sini..!” Warga kampung segera panik dan berlarian menyelamatkan diri masuk ke dalam rumah, sebagian lagi mengambil balok kayu dan jaring, bersiap untuk menangkap anjing itu. Sang peternak itu terus bersembunyi dan tertawa terbahak-bahak.

Merasa puas, ia kemudian kembali ke ladang untuk memeriksa kambing-kambingnya. Sesampainya di ladang, alangkah terkejutnya dia. Kambing-kambingnya tergeletak berdarah dan tercabik-cabik. Tak jauh dari sana, seekor harimau mengunyah salah satu kambingnya dengan lahap. Karena takut, sang peternak itu segera naik ke atas pohon sambil berteriak meminta pertolongan pada warga kampung. Tapi mereka tidak pernah datang lagi, sebab mereka tidak mau tertipu untuk ketiga kalinya.

Dalam bacaan kita, Ananias dan Safira telah berbohong kepada Petrus mengenai jumlah hasil persembahan mereka. Padahal mereka sendiri yang mau memberikan semua hasil penjualan tanah mereka sebagai persembahan di hadapan para rasul. mereka mengatakan semua hasil penjualan, padahal hanya sebagian. Bukan soal jumlah yang menjadi masalah mereka, tetapi kebohongan mereka terhadap para rasul, terlebih lagi kepada Tuhan. Kebohongan pada akhirnya akan mendatangkan kemalangan bagi orang yang melakukannya. (DKG)

Mengenal Yesus dalam Selebrasi

Image from themarysue.com

Yohanes 10 : 22-30

Sherlock Holmes adalah tokoh novel detektif terkenal yang selalu ditemani oleh rekan sekerjanya dr. John Watson. Suatu kali saat mereka tengah menyelidiki sebuah kasus pembunuhan di sebuah hutan, dr. John terbangun di tengah malam dan merasa ada yang tidak beres. Ia kemudian membangunkan Holmes yang masih tertidur pulas “Holmes bangun!” Dengan masih mengantuk Holmes membuka mata dan berguman “Ada apa?” “Apa yang kau lihat?” tanya Watson. “Hmm..langit yang penuh bintang” jawab Holmes. “Apa artinya?” tanya Watson lagi. “Langit malam yang cerah” jawab Holmes. Watson segera menyikut Holmes seraya berteriak “Tenda kita dicuri Holmes! Cepat bangun dan kejar pencuri itu!”

Continue reading

Jaga Hati Agar Tetap Damai

Image from Nerdist

Inside Out adalah sebuah film animasi yang unik buatan Disney-Pixar. Film ini berkisah tentang lima emosi yaitu Joy (Sukacita), Sadness (kesedihan), Anger (kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan) dalam diri seorang perempuan bernama Riley. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana gejolak hidup Riley yang berasal dari dialog lima emosi itu. Jika si Joy yang memegang kendali maka Riley akan tersenyum. Tetapi jika si Anger yang mengambil alih, Riley akan segera marah. Begitu pula jika semua emosi saling berebut kendali maka Riley akan gundah gulana.

Gambaran fantasi dari film itu mengingatkan tentang hati (nurani) kita yang sering mengendalikan kita untuk ikut larut dalam emosi di hati. Kitab Amsal beberapa kali menyebut hati sebagai pusat kehidupan manusia. Beberapa diantaranya: “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan” (Ams 4:23); “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”(Ams 15:13); “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu” (Ams 27:19); “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30). Semua merujuk bahwa hati adalah pusat kehidupan manusia dan harus dijaga. Kenapa dijaga? Sebab hati terkait dengan reaksi kita dalam kehidupan ini.

Kadang memori dan pengalaman hidup yang tidak baik dapat membuat hati bergejolak menjadi takut, cemas, iri, bahkan marah. Ada kalanya kita membiarkan hati kita larut dalam gejolak itu dan kita membiarkan dikendalikan olehnya. Karena itulah menjaga hati sebuah panggilan kita dalam perjalanan iman ini. Hati yang kacau akan membuat kita kehilangan arah. Dalam masa penantian adven ketiga ini, kita kembali diingatkan tentang hati. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita dapat memperjuangkan hati ini dalam posisi yang benar, sehingga hati kita tetap dalam damai sejahtera Allah. (DKG)

Tulus atau Munafik?

Photo by Patrick Fore on Unsplash

MARKUS 12 : 38-44

Waktu saya pertama kali datang ke tempat pekerjaan baru, saya disambut oleh seorang yang menawarkan dirinya untuk membantu saya mengenal kondisi sebagai kawan. Sebagai orang baru dan belum mengenal situasi di tempat itu, saya sangat senang akan bantuan itu. Sikapnya dan tutur katanya baik. Tak disangka dibalik uluran tangannya, ternyata ada agenda tersembunyi. Dia berpura-pura berkawan untuk mencari kelemahan saya dan membicarakannya di belakang. Dengan begitu ia berusaha menjatuhkan nama baik saya di kalangan rekan-rekan yang lain. Mengecewakan, ternyata dibalik kata ‘kawan’ ada ‘lawan.’ Sikap yang munafik.

Munafik berarti berpura-pura. Yesus sangat tidak suka dengan sikap munafik. Berulang kali dia mengkritik ahli-ahli Taurat yang menunjukkan sikap itu. Dalam bacaan Injil Markus 12 : 38-44, Yesus mengkritik kembali sikap ahli Taurat yang suka menunjukkan simbol kehormatan sebagai orang ‘suci’ dengan berjubah panjang dan doa-doa di depan umum, seolah semua dilakukan tulus untuk Tuhan, tetapi dibalik itu mereka melakukan demi nama baik mereka. Ahli Taurat berpura-pura baik dan tulus demi nama Tuhan padahal dilakukan demi nama mereka sendiri.

Yesus kemudian membandingkan mereka dengan seorang janda miskin. Yesus memperhatikan ia yang sedang memberikan dua peser atau satu duit sebagai persembahan. Itu jumlah yang sangat sedikit bagi orang yang mampu, tapi tidak dengan si janda itu yang sehari-sehari hidup berkekurangan. Janda itu bisa saja memberikan satu daripada dua peser, tetapi ia memilih memberikan dua peser, sebab ia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Tidak ada agenda lain selain ingin menunjukkan rasa syukurnya.

Hati yang tulus akan terlihat dari tindakan yang baik dan itu akan memberikan dampak yang baik. Sebaliknya, jika kita berbuat dengan hati yang munafik, maka sebaik apapun yang kita lakukan akan berdampak tidak baik. (DKG)

ANAKKU BERKARYA DALAM KETAATAN

Bacaan: Kejadian 22 : 1-19

Berbicara ketaatan tidaklah sukar, tetapi hidup di dalam ketaatan itu sukar. Menaati Allah seringkali menjadi pergumulan karena dalam proses itu dibutuhkan pengorbanan yaitu menyerahkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan, sesuatu yang sangat kita banggakan, atau seseorang yang sangat kita kasihi.

Bagi Abraham, Ishak adalah anak yang sangat diinginkannya. Berpuluh-puluh tahun dia dinanti dan dikasihi tentu bukan perkara yang gampang untuk menyerahkannya sebagai kurban. Namun, dalam pergumulannya yang tidak sederhanan itu, Abraham memutuskan untuk bersikap taat kepada Allah. Abraham mengajak Ishak dan membawa semua perlengkapan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Abraham berjalan ke Gunung Mori. Keputusan untuk taat kepada perintah Allah, sekalipun tentu tidak mudah bagi Abraham. Continue reading