Mengenal Yesus dalam Selebrasi

Image from themarysue.com

Yohanes 10 : 22-30

Sherlock Holmes adalah tokoh novel detektif terkenal yang selalu ditemani oleh rekan sekerjanya dr. John Watson. Suatu kali saat mereka tengah menyelidiki sebuah kasus pembunuhan di sebuah hutan, dr. John terbangun di tengah malam dan merasa ada yang tidak beres. Ia kemudian membangunkan Holmes yang masih tertidur pulas “Holmes bangun!” Dengan masih mengantuk Holmes membuka mata dan berguman “Ada apa?” “Apa yang kau lihat?” tanya Watson. “Hmm..langit yang penuh bintang” jawab Holmes. “Apa artinya?” tanya Watson lagi. “Langit malam yang cerah” jawab Holmes. Watson segera menyikut Holmes seraya berteriak “Tenda kita dicuri Holmes! Cepat bangun dan kejar pencuri itu!”

Continue reading

Jaga Hati Agar Tetap Damai

Image from Nerdist

Inside Out adalah sebuah film animasi yang unik buatan Disney-Pixar. Film ini berkisah tentang lima emosi yaitu Joy (Sukacita), Sadness (kesedihan), Anger (kemarahan), Fear (Ketakutan), dan Disgust (Kejijikan) dalam diri seorang perempuan bernama Riley. Sepanjang film, kita akan melihat bagaimana gejolak hidup Riley yang berasal dari dialog lima emosi itu. Jika si Joy yang memegang kendali maka Riley akan tersenyum. Tetapi jika si Anger yang mengambil alih, Riley akan segera marah. Begitu pula jika semua emosi saling berebut kendali maka Riley akan gundah gulana.

Gambaran fantasi dari film itu mengingatkan tentang hati (nurani) kita yang sering mengendalikan kita untuk ikut larut dalam emosi di hati. Kitab Amsal beberapa kali menyebut hati sebagai pusat kehidupan manusia. Beberapa diantaranya: “jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan karena dari sanalah terpancar kehidupan” (Ams 4:23); “Hati yang gembira membuat muka berseri-seri,tetapi kepedihan hati mematahkan semangat”(Ams 15:13); “Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu” (Ams 27:19); “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang” (Ams 14:30). Semua merujuk bahwa hati adalah pusat kehidupan manusia dan harus dijaga. Kenapa dijaga? Sebab hati terkait dengan reaksi kita dalam kehidupan ini.

Kadang memori dan pengalaman hidup yang tidak baik dapat membuat hati bergejolak menjadi takut, cemas, iri, bahkan marah. Ada kalanya kita membiarkan hati kita larut dalam gejolak itu dan kita membiarkan dikendalikan olehnya. Karena itulah menjaga hati sebuah panggilan kita dalam perjalanan iman ini. Hati yang kacau akan membuat kita kehilangan arah. Dalam masa penantian adven ketiga ini, kita kembali diingatkan tentang hati. Mintalah kekuatan Roh Kudus agar kita dapat memperjuangkan hati ini dalam posisi yang benar, sehingga hati kita tetap dalam damai sejahtera Allah. (DKG)

Tulus atau Munafik?

Photo by Patrick Fore on Unsplash

MARKUS 12 : 38-44

Waktu saya pertama kali datang ke tempat pekerjaan baru, saya disambut oleh seorang yang menawarkan dirinya untuk membantu saya mengenal kondisi sebagai kawan. Sebagai orang baru dan belum mengenal situasi di tempat itu, saya sangat senang akan bantuan itu. Sikapnya dan tutur katanya baik. Tak disangka dibalik uluran tangannya, ternyata ada agenda tersembunyi. Dia berpura-pura berkawan untuk mencari kelemahan saya dan membicarakannya di belakang. Dengan begitu ia berusaha menjatuhkan nama baik saya di kalangan rekan-rekan yang lain. Mengecewakan, ternyata dibalik kata ‘kawan’ ada ‘lawan.’ Sikap yang munafik.

Munafik berarti berpura-pura. Yesus sangat tidak suka dengan sikap munafik. Berulang kali dia mengkritik ahli-ahli Taurat yang menunjukkan sikap itu. Dalam bacaan Injil Markus 12 : 38-44, Yesus mengkritik kembali sikap ahli Taurat yang suka menunjukkan simbol kehormatan sebagai orang ‘suci’ dengan berjubah panjang dan doa-doa di depan umum, seolah semua dilakukan tulus untuk Tuhan, tetapi dibalik itu mereka melakukan demi nama baik mereka. Ahli Taurat berpura-pura baik dan tulus demi nama Tuhan padahal dilakukan demi nama mereka sendiri.

Yesus kemudian membandingkan mereka dengan seorang janda miskin. Yesus memperhatikan ia yang sedang memberikan dua peser atau satu duit sebagai persembahan. Itu jumlah yang sangat sedikit bagi orang yang mampu, tapi tidak dengan si janda itu yang sehari-sehari hidup berkekurangan. Janda itu bisa saja memberikan satu daripada dua peser, tetapi ia memilih memberikan dua peser, sebab ia ingin mempersembahkan yang terbaik bagi Tuhan. Tidak ada agenda lain selain ingin menunjukkan rasa syukurnya.

Hati yang tulus akan terlihat dari tindakan yang baik dan itu akan memberikan dampak yang baik. Sebaliknya, jika kita berbuat dengan hati yang munafik, maka sebaik apapun yang kita lakukan akan berdampak tidak baik. (DKG)

ANAKKU BERKARYA DALAM KETAATAN

Bacaan: Kejadian 22 : 1-19

Berbicara ketaatan tidaklah sukar, tetapi hidup di dalam ketaatan itu sukar. Menaati Allah seringkali menjadi pergumulan karena dalam proses itu dibutuhkan pengorbanan yaitu menyerahkan sesuatu yang benar-benar kita inginkan, sesuatu yang sangat kita banggakan, atau seseorang yang sangat kita kasihi.

Bagi Abraham, Ishak adalah anak yang sangat diinginkannya. Berpuluh-puluh tahun dia dinanti dan dikasihi tentu bukan perkara yang gampang untuk menyerahkannya sebagai kurban. Namun, dalam pergumulannya yang tidak sederhanan itu, Abraham memutuskan untuk bersikap taat kepada Allah. Abraham mengajak Ishak dan membawa semua perlengkapan untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan. Abraham berjalan ke Gunung Mori. Keputusan untuk taat kepada perintah Allah, sekalipun tentu tidak mudah bagi Abraham. Continue reading

BERBUAT, TAK SEKADAR BERTOBAT

“Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yesaya 55:6)

 

Suatu hari seorang pemilik toko merasakan ada yang tidak beres dengan persediaan barang-barang yang dijualnya. Sebagian barang tidak ada padahal tidak ada catatan penjualan untuk barang tersebut. Dia menduga ada pekerjanya yang mencuri barang-barang tersebut, namun belum ada bukti siapa yang melakukannya. Setelah mengamat-amati beberapa hari, kecurigaannya terfokus pada dua orang.

Akhirnya, dua orang ini dipanggil dan pemilik toko bercerita bahwa toko itu dibangun dengan susah payah. Banyak orang yang menyandarkan hidupnya pada toko itu, karena banyak pekerja dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari toko itu. Tetapi akhir-akhir ini sering ada barang-barang yang hilang. Kalau hal ini terjadi terus menerus maka toko bisa tutup dan puluhan orang bisa kehilangan pekerjaan. Kasihan keluarganya. “Apakah kalian tahu, siapa kira-kira yang mencuri?” tanya pemilik toko.

Dengan tertunduk, dua pekerja ini mengakui perbuatannya dan mohon bisa tetap bekerja di toko itu. Dan, pemilik toko memaafkannya. Tapi suatu ketika masih ada barang yang hilang. Akhirnya pemilik toko memecat satu pekerja yang pernah dipanggilnya. Sedangkan yang satunya lagi tetap bekerja bahkan menjadi kepercayaan pemilik toko. Mengapa? Karena dia telah bertobat dan menjadi lebih rajin bekerja serta menjaga barang-barang milik majikannya dengan baik, termasuk melaporkan pencurian yang dilakukan temannya. Sedangkan yang dipecat, walaupun sudah bertobat tapi perilakunya tidak berubah, bahkan dia terbukti masih mencuri.

Perilaku kita kadang sama dengan pencuri di toko itu. Kita telah berbuat dosa, mengakui dosa kita, dan percaya kepada Yesus Kristus sebagai Juruselamat, tetapi hidup kita tidak menunjukkan perubahan, bahkan masih berbuat dosa. Pengorbanan Yesus, siksaan, hinaan, cacian, bahkan penyaliban-Nya seolah tidak ada artinya sehingga manusia masih terus berbuat dosa. Maka, akan ada saatnya bagi mereka yang tidak berbuah untuk dicampakkan, seperti dalam perumpamaan pohon ara yang tidak berbuah (Lukas 13:6-9).

Masih ada waktu bagi kita untuk mencari dan berseru kepada Tuhan selama Ia bisa ditemui: untuk bertobat, mohon ampun dan hidup baru dengan meninggalkan hidup lama yang tidak berkenan kepada-Nya. Pertobatan harus dinyatakan dengan perubahan hidup, hidup yang mengasihi, seperti Kristus telah mengasihi kita. Buah-buah roh harus terlihat untuk menunjukkan bahwa memang kita adalah anak-anak Allah, anak-anak terang. Barang siapa yang bertobat dan percaya kepada Yesus Kristus, akan diselamatkan. Iman percaya itu harus dinyatakan melalui perbuatan yang baik, seperti yang Allah kehendaki. (ss)