Bobby Widya Ardianto

Bobby Widya Ardianto, atau akrab disapa Bobby, adalah salah seorang anggota jemaat di GKI Coyudan. Ia lahir di Solo, 2 April 1989. Pria yang bekerja sebagai staff IT di salah satu sekolah di kota Solo ini sangat menyukai dunia literasi sejak mahasiswa. Saat ini, Bobby aktif di beberapa pelayanan di lingkup GKI Coyudan seperti penulis renungan dan majalah Ebenhaezer, anggota tim Family Ministry, dan membina kelompok pemuridan KTB di Remaja Pemuda GKI Coyudan.

Dari Seorang Utusan Menjadi Seorang Penghambat

Image from flickr.com

Lukas 13: 10–17

Apa yang ada dalam bayangan kita jika berjumpa dengan seseorang yang hidupnya mengalami sakit penyakit berat selama 18 tahun? Hal ini masih diperparah dengan faktor penyebab kesakitannya bertahun-tahun itu, roh jahat. Saya menduga orang itu akan mengalami depresi yang amat besar. Ia dijauhi, dipinggirkan, tak banyak orang mau bersentuhan dengan orang tersebut. Alhasil, dirinya semakin jauh dari cahaya pengharapan. Entah, apakah harapannya sudah sirna atau masih ada meskipun hanya setitik.Read More »Dari Seorang Utusan Menjadi Seorang Penghambat

Karena Daging itu Enak …

Photo by Ismail Hamzah on Unsplash

Roh memang penurut, tetapi daging…?” Sebuah pertanyaan terlontar ketika pengkhotbah sedang memimpin renungan. Serentak kami menjawab, “Lemah!

Bukan”, jawabnya. “Roh memang penurut, tetapi daging enak!

Sesaat itu pula seluruh pendengar di dalam ruangan tertawa terbahak-bahak mendengar apa yang disampaikan pengkhotbah. Saya dan beberapa kawan masih mengingatnya hingga hari ini. Sebuah satire yang hendak menyinggung manusia bahwa kedagingan itu begitu menggoda setiap waktu. Nikmatnya bukan main dan bisa mempengaruhi siapa saja. Tak peduli seorang yang sering berkhotbah KKR, memegang jabatan prestisius di gereja, dikenal dermawan di masyarakat, hingga orang biasa-biasa saja.Read More »Karena Daging itu Enak …

Meja yang Tergores

Photo by John Mark Arnold on Unsplash

Mazmur 37: 1-11

Di kamar tidur kami terdapat sebuah meja putih yang selalu dipakai istri saya untuk bekerja. Saya ingat betul ketika saya mulai merakitnya (saat itu kami belum menikah), meja tersebut masih dalam kondisi mulus, putih bersih. Tahun-tahun berlalu, goresan demi goresan mulai muncul, bercak cat lukis di beberapa titik terlihat jelas. Di sudut lain, terlihat lapisan debu tipis. Meskipun rutin dibersihkan, akan selalu muncul hal baru yang kadang bisa dihapus, kadang juga tidak. Kini, meja itu sudah berubah banyak. Ia tak pernah sama lagi.

Read More »Meja yang Tergores