Categories
BLOG Renungan Warta

Tuntutan Tanggung Jawab

1 Tesalonika 5: 1-11

Sebagai seorang ayah yang memiliki anak berusia 2 tahun dan sedang masa kencangnya beraktivitas, saya terus belajar untuk tidak mengutamakan diri sendiri. Mata saya terus mengawasi kemana anak saya berjalan atau bergerak, meskipun badan saya begitu lelah. Jika sedang berjalan-jalan di komplek sekitar rumah, maka kami harus terus memastikan dia tidak mendekati kendaraan yang melintas. Hal ini saya (dan istri) lakukan untuk memastikan bahwa anak kami tetap dalam kondisi aman. Kami berusaha memastikan agar ia tidak celaka. Kami berjaga-jaga terhadap anak kami, itu berarti mata ini tetap harus awas, tidak boleh lengah, dan selalu siap untuk menolong.

Kita berada di penghujung tahun gerejawi. 2 minggu lagi kita akan memasuki masa adven, masa penantian akan kedatangan Kristus yang kedua. Alkitab berulangkali menyampaikan perihal hari Tuhan yang tak pernah kita ketahui kapan waktunya. Di masa penuh misteri ini, bagian kita adalah setia untuk berjaga-jaga. Kita diminta untuk hidup dengan benar, bukan lagi hidup di dalam dosa. Bagaimana langkah praktisnya? Satu kunci utama: Menjalani hidup serupa dengan Kristus, melakukan segala sesuatu dari sudut pandang Kristus.

Sebagai contoh, saya sedang terus belajar bagaimana menanggapi kritik dengan bijak. Tidak mudah. Ada kalanya saya ingin membela diri dan menyatakan bahwa kritikan orang lain itu salah, karena mereka tidak mengetahuinya secara utuh. Disinilah Kristus membentuk saya untuk belajar menanggapinya dengan bijak.

Setiap kita sedang berjuang di medan yang berbeda-beda. Ada yang sedang dibentuk dalam hal karakter, pemulihan dari dosa, teguran untuk bertobat, dilatih Tuhan mengelola keuangan dan waktu, diarahkan kembali oleh Tuhan karena memiliki motivasi yang salah dalam melayani, diingatkan untuk kembali membaca Alkitab dan berdoa. Apapun yang sedang kita jalani dan hadapi, lakukanlah itu dengan hati yang terus berjaga-jaga, jangan sampai kita jatuh dan lengah. Supaya, ketika hari-Nya datang, kita sudah siap. Bukan dengan tujuan mendapat keselamatan (karena keselamatan kita terima oleh anugerah-Nya, dengan beriman dan percaya pada penebusan Kristus), namun agar kita siap bertemu dengan Kristus dalam kondisi yang paling baik. Selamat menyongsong hari kembali-Nya. (BWA)

By Bobby Widya Ardianto

Bobby Widya Ardianto, atau akrab disapa Bobby, adalah salah seorang anggota jemaat di GKI Coyudan. Ia lahir di Solo, 2 April 1989. Pria yang bekerja sebagai staff IT di salah satu sekolah di kota Solo ini sangat menyukai dunia literasi sejak mahasiswa. Saat ini, Bobby aktif di beberapa pelayanan di lingkup GKI Coyudan seperti penulis renungan dan majalah Ebenhaezer, anggota tim Family Ministry, dan membina kelompok pemuridan KTB di Remaja Pemuda GKI Coyudan.