Categories
BLOG Renungan Warta

Trinitas: Kesatuan Dalam Penyertaan

Image from christianity.com

Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? (Mazmur 8 : 4)

Pada minggu Trinitas ini, kita diajak untuk mengingat akan Allah Tritunggal yang berkarya bagi kehidupan manusia. Allah Bapa sang pencipta langit dan bumi beserta isinya, yang menjadikannya sungguh amat baik. Kitapun mengingat kejatuhan manusia ke dalam dosa. Namun dalam kondisi berdosa dan terpisah dari Allah, manusia tidak pernah jauh dari kasih Allah. Rangkaian peristiwa Paska hingga Pentakosta yang baru saja kita rayakan mengingatkan kita akan karya keselamatan Kristus. Pengorbanan Kristus menjadi anugerah yang membenarkan manusia berdosa di hadapan Allah. Saat Kristus naik ke Surga, Roh Kudus dicurahkan bagi orang percaya untuk menolong, membimbing kehidupan manusia supaya menjalani hidup dalam pengharapan akan hari Tuhan.

Allah sang Pencipta, Kristus sang Penebus dan Roh Kudus sang Penolong, ketiga pribadi Allah yang Esa, menyatakan kasih-Nya bagi seluruh ciptaan. Perenungan terhadap karya kasih Allah Tritunggal dalam kehidupan manusia, menyadarkan kita bahwa tak sedetikpun penyertaan Allah Tritunggal lepas dari manusia. Karena kita patut merefleksikan kemanusiaan kita yang rapuh namun dipandang sebagai ciptaan yang mulia oleh Allah, kemanusiaan kita yang berdosa dan patut dihukum namun menerima kasih karunia-Nya. Seperti pemazmur yang berseru, ”Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” Itulah kita, manusia berdosa yang telah dimahkotai-Nya dengan kemuliaan dan hormat.

Dengan memperingati minggu Trinitas, kita disadarkan bahwa kasih penyertaan Allah Trinitas nyata dalam kehidupan kita. Persekutuan kasih Bapa – Putera – Roh Kudus terarah kepada seluruh ciptaan melalui karya penciptaan, penyelamatan, dan pemeliharaan-Nya yang berlangsung sejak dunia diciptakan sampai dengan akhir zaman. Karya kasih itu tidak berhenti sebagai karunia yang patut disyukuri sebagai pengakuan iman kita kepada-Nya. Selagi kita hidup di dunia ini, marilah kita turut berpartisipasi dengan menyambut panggilan-Nya untuk mengambil bagian dalam karya kasih Allah. (ES)

By Edhi Setiawan

Edhi Setiawan, lahir di Yogyakarta, 29 September 1972, adalah salah seorang aktivis di Pos Jemaat Solo Baru dan juga penatua GKI Coyudan. Pria yang tinggal di Solo ini memiliki segudang ide-ide baik bagi perkembangan gereja. Tulisan-tulisannya juga sangat memberkati banyak orang. Di kesehariannya, Edhi juga bekerja sebagai Praktisi Marketing di sebuah perusahaan FMCG. Saat ini, Edhi dan istri telah dikarunia 2 orang anak.