Categories
BLOG Renungan Warta

Menyatu Dengan Allah Dalam Doa dan Karya

Image from crosswalk.com

Yohanes 17: 1-11

Dalam pelayanan-Nya, Tuhan Yesus selalu berdoa saat selesai mengajar, mengadakan mujizat, menghadapi pergumulan di taman Getsemani, dan sebagainya. Doa menjadi suatu cara Yesus membangun hubungan-Nya yang mesra dengan Allah Bapa dan sekaligus cara untuk memperoleh kekuatan dan kuasa. Tentu, bukan saja bagi diri-Nya Ia berdoa, tetapi juga bagi para murid-Nya.

Bacaan ini, mengajak kita melihat lebih jelas kesungguhan Yesus berdoa pada Allah Bapa, demi masa depan para murid. Tuhan Yesus mengungkapkan doa-Nya yang panjang dan sarat makna di tengah situasi pergumulan berat dan karena telah tiba saatnya, Yesus dipermuliakan.

Pada ayat 2–4, muncul pernyataan Yesus, bahwa Ia sudah menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan Allah, Bapa-Nya. Bahwa Ia bekerja bukan berdasarkan keinginan dan kehendak-Nya sendiri, tetapi berdasarkan apa yang dikehendaki oleh Bapa-Nya. Yesus menjadi teladan kepada para murid untuk tetap setia dan percaya bahwa Allah mahakuasa dan peduli akan kehidupan umat-Nya. Dia ingin para murid juga melakukan apa yang telah mereka lihat dari diri-Nya.

Mengapa Yesus berdoa untuk para murid-Nya? Pertama, karena Ia akan berpisah dengan mereka. Kedua, Ia ingin agar Bapa-Nya menjadikan para murid sebagai milik kepunyaan-Nya yang akan selalu dijaga untuk meneruskan pekerjaan-Nya bagi dunia, sehingga dunia percaya.

Kesetiaan Yesus berdoa, menyadarkan kita agar kita juga terus menyatu dengan Allah. Oleh karena doa merupakan cara kita berhubungan akrab dan intim dengan Allah. Kita juga diarahkan untuk mendoakan anggota keluarga, bahkan orang-orang yang percaya kepada Yesus, agar melaluinya, dunia berjumpa dan percaya kepada Yesus. (JM)