Categories
BLOG Renungan Warta

Tetap Tekun Berbuat Baik

Photo by Gustavo Fring from Pexels

*)Tulisan ini terinspirasi dari uraian Pdt. Rena Sesaria Yuditha, Dosen Perjanjian Baru, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Duta Wacana, 1 Mei 2020.

Saya percaya banyak dari kita yang sudah sangat lelah membaca tulisan, mendengar berita, dan melihat konten-konten seputar pandemi yang saat ini sedang kita alami. Saya akan mencoba memposisikan pandemi ini dalam konteks krisis hidup yang dialami oleh umat manusia, yang sedikit banyak berpengaruh terhadap sikap iman kita. Mari kita tarik pengetahuan kita ke belakang. Apakah bangsa Israel pernah mengalami krisis seperti ini? Krisis yang tidak hanya membuat mereka jauh dari Allah dalam ranah iman, tetapi juga krisis yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari mereka. Kerajaan Israel mengalami puncak kejayaan pada waktu mereka dipimpin oleh Raja Salomo, dengan karunia hikmat dan kekayaan tiada tara yang dianugerahkan oleh Tuhan. Setelah itu? Kerajaan Israel mengalami perpecahan demi perpecahan, perang saudara, kelaparan, dan berbagai kesulitan yang harus mereka alami.

Apa yang terjadi dalam masa-masa sulit itu? Kita ingat bahwa Tuhan mengirimkan nabi-nabi untuk menjadi penasihat dan hakim umat Israel yang saat itu berperilaku “melenceng” dari jalan Tuhan. Apa yang disampaikan oleh nabi-nabi utusan Tuhan? Nubuat. Nubuat tentang juruselamat yang akan membebaskan mereka semua dari belenggu dan nubuat tentang harapan yang diwujudkan dalam citra Mesias. Namun demikian, apakah para nabi hanya menyampaikan kata-kata manis yang berisi harapan akan masa depan yang mudah dan cerah? Tentu tidak. Mereka tidak segan dengan keras menegur bangsa Israel dan memaparkan tentang konsekuensi penghukuman bagi mereka yang membiarkan dirinya larut dalam dosa. Lalu apakah citra Mesias itu menjadi semu dan kontradiktif?

Nubuatan yang disampaikan para nabi adalah salah satu cara Tuhan untuk mendidik bangsa Israel. Ada hardikan tajam yang disampaikan dalam kerangka pengharapan. Ada masa-masa krisis yang kelak berperan penting dalam sebuah proses pemulihan. Nubuatan para nabi juga merupakan sebuah respon atas keadaan bangsa Israel yang saat itu terpuruk. Hardikan para nabi merupakan cara mereka memberi tahu umat Israel bahwa mereka harus tetap menjaga diri mereka setia, taat, tekun, di saat kondisi tidak mudah, karena jika mereka berhasil melewati ini semua, ada janji Tuhan yang indah di masa depan. Oleh karena itu, mari kita melewati masa krisis ini dengan tekun, karena masa krisis ini terjadi dalam sebuah kerangka besar pengharapan dan pemulihan. Pemulihan apa? Pemulihan yang saya sendiri tidak bisa mendefinisikannya, karena masing-masing dari kita dapat merefleksikannya dengan dewasa dalam berbagai bidang kehidupan yang bersinggungan dengan kita. Bukan ranah kita untuk menghitung dan menuntut, kapan Tuhan menyudahi semua ini. Akan tetapi, tugas kita adalah bertekun dan bertahan, supaya kita semakin paham bahwa hidup ini bukan melulu aku dan masalahku, tetapi juga kita dan masalah kita bersama.

Ingatlah pada perkataan Yesus yang tercatat pada injil Yohanes 14 : 15-17, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.” (RC)