Categories
BLOG Renungan Warta

Ia Memilih Berjalan Dan Bukan Berlari

Image from aleteia.org

Sebuah Pengakuan dari Kleopas dan Seorang Temannya, di Masa Kini

“Pada hari itu juga dua orang dari murid-murid Yesus pergi ke sebuah kampung bernama Emaus, yang terletak kira-kira tujuh mil jauhnya dari Yerusalem, dan mereka bercakap-cakap tentang segala sesuatu yang telah terjadi. Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka.” (Lukas 24 : 13-15)

Kebangkitan-Mu adalah bukti bahwa Dikau memilih berjalan bersama kami.
Dikau, yang mempunyai kuasa untuk berlari, memilih untuk berjalan bersama kami.
Berjalan dalam ketidakmengertian kami
Berjalan dalam ketidaktahuan kami
Berjalan dalam pertanyaan-pertanyaan kami
Berjalan dalam kesedihan kami
Bagaimana bisa itu dapat terjadi? Padahal Dikau bisa saja meninggalkan kami
dengan semua kebodohan dan ketidakberdayaan kami.
Kami lalai mengenali kehadiran-Mu
Kami sibuk dengan kesedihan dan penderitaan kami
Kami tidak peka pada wajah-Mu

Bahkan, kami terlalu lemah untuk mengerti
apa yang sebenarnya sudah Dikau katakan dan lakukan.
Dikau masih saja memilih untuk berjalan bersama kami.
Dikau memilih melambatkan langkah
demi menyamai langkah kaki kami yang kecil ini.
Dikau memilih melambatkan langkah demi membuat kami, lagi dan lagi,
belajar percaya pada-Mu
Mengapa Dikau tak bosan menghadapi kami?
Mengapa Dikau tak jera berelasi, mengajari dan duduk bersama kami.
Hingga, di suatu perjumpaan yang singkat itu, seketika kami sadar
siapa yang sedang berjalan bersama kami selama ini.
Terhenyak dan tersentak kami menyadari, bahwa Dikau-lah yang sesungguhnya
berjalan bersama kami.
Sungguh, karena Dikau berjalan bersama dengan kami, kami dapat berlari
pada dunia mengabarkan betapa indahnya perjalanan kami bersama-Mu…

Hingga, saat ini, kami sedang diutus untuk menjadi sahabat
yang rela berjalan melambat.
Melambat agar cinta-Mu semakin tertambat.
Melambat agar cinta-Mu semakin membuat keegoisan kami terhambat.
Inilah waktunya, kami, dunia ini, sedang belajar melambat…
(KHS)