Skip to content
Photo by Thought Catalog from Pexels

Iya, untuk apa membuat renungan warta kalau tidak ada yang membacanya? Padahal tanpa mereka ketahui, kami bergumul untuk menuliskan tentang apa yang Tuhan titipkan kepada kami.

Malas ah kalau tulisan kami hanya teronggok di gawai mereka. Mereka aja tidak peduli, kami yang menulis juga jadi bersungut-sungut… bukannya membawa damai sejahtera melalui tulisan yang kami bagikan.

Ah, mungkin kalau para murid Yesus masih tetap ngotot mengurung diri dalam ketakutan setelah kematian Sang Guru, sampai saat ini dunia tidak akan pernah mendengar tentang kebangkitan-Nya yang memerdekakan. Jangankan bersaksi, untuk keluar dari rumah yang terkunci itupun Yesus rela menampakkan diri-Nya dua kali di sana—agar mereka percaya bahwa Dia benar-benar bangkit! Tapi kenapa Yesus harus sampai melakukannya, bahkan dengan kesabaran yang ekstra agar para murid-Nya sungguh-sungguh diyakinkan mengenai hal ini? Kenapa Yesus tidak menegur kedegilan hati mereka?

Karena Yesus tahu bahwa para murid-Nya membutuhkan peneguhan iman, sebelum mereka menjadi saksi-Nya yang akan menghadapi penderitaan di kemudian hari.

Kelak, setelah kenaikan Kristus, Roh Kudus yang dijanjikan-Nya menguatkan para murid untuk memberitakan Injil ke segala penjuru bumi. Dengan berani dan iman yang teguh, mereka menyaksikan bahwa Yesus Kristuslah satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup. Injil yang mereka bawakan membuat orang-orang memiliki damai sejahtera yang tidak bisa ditukar dengan apapun, meski itu artinya nyawa para pemberita Injil inilah yang jadi taruhannya.

Lalu, siapakah kami, jemaat yang merasa bisa hidup di luar Injil Siapa pulakah kami, sehingga merasa layak untuk memperoleh pujian dari pelayanan tulisan kami? Bukannya menyaksikan damai sejahtera yang Tuhan kehendaki, justru kebencian dan iri hatilah yang kami tebarkan.

Kyrie eleison. Tuhan, kasihanilah kami yang rapuh dan berdosa ini. (TDU)