Skip to content
Photo by Pixabay from Pexels

Keluaran 17 : 1 – 7

“Jangan batu lah, nanti kamu rugi sendiri!” demikian ungkap seorang teman saat kita sedang berdiskusi. Saya tertegun dengan kata itu, selain berpikir apa iya saya sekeras itu, saya juga merenung menarik juga kata ‘batu’ ini. Batu memang keras sih, sakit juga kalau sampai terinjak atau terlempar dan mengenai kepala. Batu memang sangat menjengkelkan jika diasosiakan dengan sifat keras kepala, ditambah lagi keras hati.

Saya bisa bayangkan bagaimana rasanya Musa kesal setengah mati melihat ulah bangsa Israel yang baru saja keluar dari tanah Mesir. Tidak mudah mengatur jutaan umat yang baru saja lepas dari perbudakan dan tentu banyak maunya. Dari diperbudak, kini bebas mau apa saja. Baru saja sampai dari perjalanan panjang, mereka berkemah di Rafidim. Ternyata di sana tidak ada air. Musa tentu tahu bahwa masalah air menjadi penting, tetapi yang mengesalkan adalah mereka menuntut Musa dan bahkan bersungut-sungut menyalahkan. Tidak bisakah mereka mengerti tidak semua keadaan sesuai dengan keinginan mereka? Tidak bisakah mereka memahami bahwa Musa juga lelah dan butuh istirahat sejenak? Rasanya tidak, mereka ingin air dan itu harus dituruti.

Sikap Musa berbeda dengan Tuhan kala itu, Tuhan menuruti keinginan bangsa yang sedang bersungut-sungut itu. Tongkat dipukul ke gunung batu dan keluarlah air untuk diminum bangsa itu. Tempat itu kemudian dinamakan Masa dan Meriba, oleh karena orang Israel telah bertengkar dan oleh karena mereka telah mencobai TUHAN dengan mengatakan: “Adakah TUHAN di tengah-tengah kita atau tidak?”

Kembali soal batu tadi, sikap bangsa Israel bisa dikatakan sangat batu, keras kepala, semaunya sendiri. Tapi menariknya, Tuhan tidak menggubrisnya tetapi memberikan air. Orang yang keras kepala itu memang sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah dan dikasihi. Tuhan menunjukkan itu kepada bangsa tegar tengkuk itu. Air yang keluar dari gunung itu, menyiratkan bahwa sekeras batu akan dapat ditaklukkan dengan tetesan air terus-menerus.

Tetesan air itu adalah cinta Allah kepada kita semua. Seberapa keras hati kita, Allah terus memberikan cinta-Nya kepada kita. Kelak tetesan itu akan merembes dalam hati kita. Maka salami cinta-Nya, lunakkan hatimu. Biarlah kasih itu mengubah kehidupanmu. (DKG)