Skip to content
Photo by Kelly Lacy from Pexels

Mazmur 51 : 1 – 17

Selalu ada yang khas dalam setiap razia kendaraan bermotor yang terjadi di Indonesia. Ketika seorang pengendara kedapatan melakukan pelanggaran atau tidak membawa dokumen lengkap, ia selalu berkilah dengan berbagai alasan, seperti: jaraknya dekat, tidak tahu ada rambu, hingga menyalahkan orang lain. Hampir kebanyakan mereka (atau bisa jadi kita) sulit untuk mengakui kesalahan. Dalam keberdosaan, kita memiliki kecenderungan menyalahkan faktor lain di luar kita. Singkatnya, “Pokoknya, bagaimana pun caranya, bukan saya yang salah.”

Hari ini kita memasuki minggu transfigurasi dan bersama-sama melihat kisah Raja Daud. Satu kisah Daud yang terkenal adalah hubungan terlarang dengan seorang wanita, Batsyeba. Tentu, kisahnya sudah kita ketahui secara detail. Pria yang disebut-sebut orang yang berkenan di hati Allah ini juga bisa jatuh ke dalam dosa. Dan, dosa yang ia lakukan memberikan dampak besar bagi dirinya, keluarga, hingga seluruh rakyat Israel. Allah yang tahu akan hal itu mengutus nabi Natan untuk menegur Daud dengan tegas. Pertemuan keduanya menjadi pertemuan yang mendebarkan sekaligus mengubahkan hidup Daud.

Daud setidaknya memiliki 2 pilihan, menolak teguran dan menyalahkan pihak lain, atau menyerah dan mengakui segalanya di hadapan Tuhan. Ia tahu bahwa melarikan diri dari Allah tidak ada gunanya. Daud memilih mengakui semua dosa yang telah ia perbuat dan memohon pengampunan Allah. Keputusan ini memberikan perubahan besar dalam hidup Daud, meskipun ada konsekuensi yang harus ditanggungnya. Pertobatannya inilah yang membawa Daud menuliskan nyanyian pengakuan dosa dalam Mazmur 51. Nyanyian yang juga menjadi nyanyian kita, manusia yang rapuh ini.

Di minggu transfigurasi, kita melihat Kristus yang mulia itu, akan memasuki jalan
penderitaan untuk membereskan masalah terbesar umat manusia dan seluruh ciptaan, dosa. Sebuah jalan yang tak seharusnya Ia lalui. Namun Kristus memilihnya karena cinta-Nya kepada kita. Oleh karena itu, mari menjadi seperti Daud yang tidak melarikan diri dari teguran Allah dan berhenti menyalahkan faktor lain. Sikap ini adalah respons yang benar atas jalan salib Kristus. Allah menginginkan kita untuk kembali pada-Nya agar tidak terjerumus semakin dalam di jurang dosa. Allah mencari kita bukan untuk menghukum, namun memulihkan. Sekalipun perih, pemulihan itu menyegarkan jiwa, mengisi hati yang kosong, dan menyembuhkan hidup. Jangan berlari menjauh karena kita akan semakin menderita, namun melangkah dan mendekatlah pada Allah Sang Maha Pengampun. Kristus yang dimuliakan di atas gunung itu kini datang kepada kita. Anugerah-Nya sangat cukup untuk menyatakan pengampunan, tanpa menghitung-hitung seberapa besar dosa yang kita lakukan. Kasih-Nya sangat cukup untuk memeluk kita dan mengatakan, “Engkau diampuni.” Selamat memasuki masa pra paska. (BWA)