Categories
BLOG Renungan Warta

Kebahagiaan Hidup Dalam Tuhan

Photo by Sebastian Sørensen from Pexels

Matius 5 : 1–12

Semua orang ingin bahagia, memiliki hidup yang senang, tenteram dan sejahtera. Namun apa daya seringkali yang namanya bahagia itu sulit diwujudkan, apalagi saat mengukurnya dari rumput tetangga yang selalu lebih hijau. Hidup semakin tidak bahagia ketika melihat rumah tetangga lebih besar, mobil tetangga lebih baru, handphone tetangga lebih kekinian, jabatan tetangga lebih tinggi, anak tetangga lebih pintar, keluarga tetangga tampak lebih harmonis dan seterusnya. Itulah yang dirasakan oleh orang yang mengukur kebahagiaannya dengan ukuran kemelekatan pada hal-hal yang duniawi. Mengejar bahagia selama ini ibarat meneguk air laut, semakin diteguk semakin haus, tak ada habisnya. Pemahaman arti kebahagiaan yang mensyaratkan harus adanya sesuatu yang memenuhi keinginan manusia, seringkali menjadi kebahagiaan sementara, karena yang disebut bahagia sebenarnya adalah kepuasan, yang berjalannya waktu akan menuntut kepuasan yang lebih tinggi.

Ucapan bahagia Tuhan Yesus dalam khotbah di bukit, mengajak kita untuk memaknai bahagia dari sudut pandang Allah. Kebahagiaan itu tidak didasarkan pada apa yang ada di luar kita, namun lebih kepada terbentuknya karakter Kristus di dalam diri kita. Karena itu yang berbahagia adalah mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, yang lemah lembut, yang lapar dan haus akan kebenaran, yang murah hati dan suci hatinya, yang membawa damai, bahkan yang dicela dan dianiaya dan difitnah. Bahagia itu bukan karena kita memiliki dunia ini, namun karena hidup kita sudah menjadi milik Kristus.

Bahagia itu sederhana yaitu saat kita memilih untuk hidup bersyukur dan melekat pada Kristus. Sederhana, tapi bukan berarti remeh. Hidup bersyukur mengajarkan kepada kita bahwa jalan bahagia yang sejati telah dibukakan saat Kristus menyelamatkan kita. Karenanya cukuplah apa yang Kristus sediakan bagi kita di dunia ini untuk melewati jalan kebenaran, di mana sesulit apapun jalan itu selalu ada Kristus yang menggandeng dan menggendong kita melaluinya, seperti Allah menuntun Israel menuju tanah perjanjian-Nya. Berbahagialah! (ES)

By Edhi Setiawan

Edhi Setiawan, lahir di Yogyakarta, 29 September 1972, adalah salah seorang aktivis di Pos Jemaat Solo Baru dan juga penatua GKI Coyudan. Pria yang tinggal di Solo ini memiliki segudang ide-ide baik bagi perkembangan gereja. Tulisan-tulisannya juga sangat memberkati banyak orang. Di kesehariannya, Edhi juga bekerja sebagai Praktisi Marketing di sebuah perusahaan FMCG. Saat ini, Edhi dan istri telah dikarunia 2 orang anak.