Skip to content
Image from stpaulcenter.com

Yohanes 1 : 29–42

Tanda seseorang merespons sesuatu adalah menanggapinya dengan aksi. Misalnya, jika orang itu dipanggil, maka respons yang wajar adalah menjawab atau setidaknya menoleh kepada suara yang memanggil itu. Orang yang diberi tugas maka akan mengerjakan sebagai responnya. Respons yang ditunjukkan juga dapat dinilai dari kualitas yang diberikan. Respons itu akan dinilai baik, jika orang yang dipanggil akan menoleh dan menjawab atau mengerjakan tugas sesuai dengan yang diarahkan kepadanya.

Injil pada minggu ini masih berbicara mengenai Yohanes Pembaptis, Sang penyiap jalan bagi Mesias. Pasca peristiwa pembaptisan Yesus, Yohanes semakin mengenal siapa Yesus yang adalah Anak domba Allah, Sang Mesias. Ia mengatakan kepada para muridnya sendiri “lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia!” (ay. 29) – “Lihatlah Anak domba Allah!” (ay. 36). Bahkan Yohanes sendiri melepaskan kedua muridnya untuk mengikut Yesus. Apa yang Yohanes lakukan adalah sebuah proses penghayatannya akan panggilannya sebagai penyiap jalan bagi Tuhan. Yohanes merelakan apa yang melekat dalam dirinya untuk diberikan kepada Tuhan. “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil” (Yoh. 3 : 30) menjadi respons panggilan Yohanes sebagai penyiap jalan bagi Mesias.

Bagaimana dengan respons panggilan kita sebagai anak Tuhan? Panggilan kita untuk menjadi pembawa kasih dan damai di sekitar kita. Panggilan untuk hidup berintegritas dan responsif terhadap sekitar kita. Apakah kita merespons dengan baik, ala kadarnya, atau malah mengabaikannya?

Mari kita kembali menghayati panggilan kita selayaknya Yohanes yang menghayati panggilannya. Tanda semakin dalam orang hidup dalam panggilannya adalah hidup yang bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Tuhan dan sesama. (DKG)