Hidup yang Patut

Photo by Jakob Scholz from Pexels

Seorang anak muda sedang duduk di dalam bus ekonomi antara kota dari Yogyakarta ke Semarang untuk berjumpa dengan kekasih hatinya, tiba-tiba melihat seorang nenek tua membawa tas yang agar besar naik bus tersebut. Karena dilihatnya bahwa tidak ada tempat lagi bagi si nenek, berdirilah anak muda itu dan memberikan tempat duduknya kepada si nenek itu. Itulah tindakan yang patut, yang sudah sepantasnya dilakukan seorang yang masih muda untuk menghormati dan menolong seorang yang sudah usia lanjut.

Demikian Yesus mengajarkan kehidupan yang patut di hadapan Tuhan; bukan patut menurut ukuran dan pikiran manusia, tetapi apa yang patut menurut kehendak Bapa-Nya di Sorga; menurut Yohanes yang patut adalah dirinya dibaptis Yesus, tetapi tidak demikian bagi Yesus. Yesus memilih untuk menjalankan ke-patut-an Bapa-Nya yaitu bahwa Yesus harus menerima baptisan dari Yohanes Pembaptis. Dan keduanya melakukan yang patut bagi kehendak Allah (Matius 3 : 15).

Bagi manusia, setiap orang berdosa patutnya dihukum. Tetapi tidak bagi Allah, setiap manusia patut mendapatkan kasih dan kesempatan untuk bertobat. Bagi manusia, yang patut dihargai dan diangkat yaitu mereka yang lebih tinggi dan lebih kuat. Bagi Allah, yang patut dihargai dan diangkat adalah mereka yang lemah dan tertindas, memerlukan pertolongan dan kasih Tuhan.

Bagaimanakah dengan kita sebagai umat Tuhan dalam menyikapi kehidupan kita bersama dengan orang lain di sekitar kita? Ke-patut-an menurut pandangan, ukuran dan pikiran kita selaku manusia ataukah ke-patut-an menurut pandangan Tuhan yang menjadi pilihan hidup kita?! (LAAS)

Tags: