Categories
BLOG Renungan Warta

Natal dan “Nubuatan Kelam”

Image from google art project via wikimedia

Bacaan: Matius 2: 13-23

Kisah Kelahiran Yesus Kristus yang tercatat dalam tiga Injil kanonik bukanlah sebuah kisah yang tiba-tiba terjadi begitu saja. Ada sekian banyak nubuatan akan hadirnya Anak Manusia yang telah dirangkaikan Allah dengan begitu rapi dan cermat, lewat perantaraan para nabi. Di antara nubuatan yang telah diutarakan, ada satu nubuatan yang tidak mengandung nilai sukacita, melainkan sebaliknya, yaitu kisah diungsikannya bayi Yesus ke Mesir dan pembantaian bayi-bayi di Betlehem.

Injil Matius mencatat bahwa kelahiran Kristus memberi dampak besar bagi dunia, termasuk bagi Herodes Agung, raja boneka Romawi saat itu. Ia adalah seorang raja kecil yang sangat haus kekuasaan dan mempertahankan jabatannya habis-habisan. Dalam buku Antiquities of the Jews yang ditulis sekitar tahun 93-94 AD, sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, menulis bahwa Herodes “tidak pernah berhenti setiap hari membalas dendam dan menghukum siapa yang dianggapnya musuh.” Hal ini berlaku juga untuk istri, anak, maupun keluarganya. Dalam catatan sejarah, kaisar Agustus pernah berkata, “Lebih baik menjadi babi peliharaan Herodes daripada menjadi putranya.” Tak heran jika perangai bengisnya membawa Herodes Agung menjadi aktor utama peristiwa ini.

Kita tidak bisa memandang peristiwa berdarah di Betlehem adalah “dampak buruk” dari kelahiran Yesus. Kisah ini harus dilihat melalui kacamata nubuatan. Apa yang terjadi di kota mungil itu telah disampaikan beratus-ratus tahun sebelumnya. Dunia yang jatuh dalam dosa membuat segala sesuatu di dalamnya hidup di bawah kuasa dosa. Herodes pun demikian. Justru dalam kondisi seperti inilah, rencana Allah yang menyelamatkan dunia harus terlaksana.

Apa dampak peristiwa ini bagi hidup kita di masa sekarang? Herodes adalah cerminan dari manusia terhilang, yang hidup di bawah kuasa dosa. Kita pun dahulu demikian. Panggilan kita masih tetap sama dan terus bergema: membawa orang-orang terhilang untuk melangkah mendekat pada Kristus. Bagi Allah, keselamatan dunia, pembebasan dari kuasa dosa dan penderitaan, serta kembalinya seluruh ciptaan menjadi milik Allah dan hidup bersama dalam kerajaan Allah adalah hal utama yang tidak bisa ditawar. Apakah kita sedang terus mewujudkannya hingga hari ini?  (BWA)

By Bobby Widya Ardianto

Bobby Widya Ardianto, atau akrab disapa Bobby, adalah salah seorang anggota jemaat di GKI Coyudan. Ia lahir di Solo, 2 April 1989. Pria yang bekerja sebagai staff IT di salah satu sekolah di kota Solo ini sangat menyukai dunia literasi sejak mahasiswa. Saat ini, Bobby aktif di beberapa pelayanan di lingkup GKI Coyudan seperti penulis renungan dan majalah Ebenhaezer, anggota tim Family Ministry, dan membina kelompok pemuridan KTB di Remaja Pemuda GKI Coyudan.