Categories
BLOG Renungan Warta

Musim Penantian

Image from christianity.com

Bacaan: Yakobus 5 : 7–10

Salah satu bacaan minggu ini terambil dari surat Yakobus, surat yang sangat kental dengan pencobaan dan penderitaan, karena surat ini ditujukan untuk orang Kristen Yahudi abad pertama yang tinggal dalam komunitas bangsa lain di luar Palestina. Surat ini ditulis oleh Yakobus, saudara Yesus yang tidak termasuk dalam 12 murid Yesus, tetapi diakui sebagai rasul, hidup dekat dengan Yesus dan kemudian menjabat sebagai pemimpin gereja mula-mula. Menurut para ahli sejarah, surat ini ditulis pada 47-48, tidak lama setelah kematian Stefanus sebagai martir karena menyampaikan suara Tuhan (7:54-60) yaitu 34-35 M. Yakobus sendiri juga mati syahid dengan dirajam karena dianggap melanggar hukum.

Latar belakang ini penting untuk diketahui agar seruan Yakobus untuk bertekun dalam penderitaan menjadi bernas, punya makna, karena Yakobus sendiri bertekun dalam penderitaan. Pembuka surat ini langsung berisi seruan, “anggaplah sebagai suatu kebahagiaan apabila kamu jatuh dalam berbagai-bagai pencobaan.” Yakobus mengajak pembacanya untuk melihat pencobaan dari sudut pandang yang berbeda, yaitu sudut pandang yang lebih luas, utuh, dan menyeluruh. Kenapa bisa dengan sudut pandang yang lebih luas penderitaan justru mendatangkan kebahagiaan? Karena melihatnya tidak lagi sepenggal-sepenggal, melainkan melihatnya dalam rancangan Allah yang sempurna.

Apa contohnya melihat secara sepenggal-sepenggal? Pernah mengalami hidup yang sangat menderita dan menyimpulkan Allah itu jahat? Pernah merasa hidup ini begitu indah dan penuh mujizat dan menyimpulkan Allah itu baik? Begitulah manusia, menyimpulkan saat belum melihat cerita sampai selesai. Baru satu kejadian, sudah disimpulkan. Padahal baik penderitaan maupun bahagia adalah siklus hidup yang akan terus dilewati, seperti tanaman yang melewati musim gugur maupun musim semi. Sampai kapan siklus itu akan terus berputar? Sampai kepada kedatangan Tuhan (5 : 7). Inilah bagian kesimpulannya.

Pesan Yakobus kepada kedua belas suku yang ada di perantauan secara tersurat mengatakan “Jangan menyerah di tengah jalan. Tetaplah bertahan sampai Tuhan datang.” Yakobus bukan berbicara soal musim, bukan soal menderita atau tidak, karena semua itu akan datang dan pergi silih berganti. Yakobus berbicara tentang alasan orang Kristen Yahudi di perantauan untuk terus berproses sambil menanti Kedatangan Tuhan. Dengan demikian, kita menyadari bahwa musim demi musim dalam hidup memiliki cerita dan makna yang akan berarti pada saat Tuhan datang. Pada saat kedatangan Tuhan itulah, baru segala sesuatu akan jelas, barulah kita akan melihat secara utuh seluruh rangkaian musim hidup kita dan bagaimana iman kita bertumbuh. Ia yang akan datang sebagai Hakim yang adil, dan juga Tuhan yang penyayang dan penuh belas kasih akan menyatakan kesimpulan-Nya, kesempurnaan-Nya. Amin. (IYS)

By Irmanda Yosefien Saroinsong

"Kak Manda!" Demikian anak-anak remaja pemuda memanggilnya. Irmanda memang sosok yang sangat erat dengan anak-anak muda di gereja karena Ia pengerja kategorial Remaja Pemuda GKI Coyudan Solo. Lahir di Jayapura 13 September 1987, Irmanda adalah seorang wanita yang ceria dan selalu berusaha membuat siapapun yang berjumpa dengannya bersukacita. Ia menyelesaikan pendidikan Teologi di STFT Jakarta. Selain menjadi pengerja, Irmanda juga tergabung dalam beberapa pelayanan lain seperti tim pembinaan dan tim kurikulum.