Tetap Teguh Meski Tekanan Mendera

Ada seorang wanita yang buta sejak bayi, meski ditengah keadaannya yang sulit itu, dia tetap teguh di dalam Tuhan. Dia bahkan menyusun berbagai hymn indah seperti “Ku Berbahagia” (KJ no. 392) dan “Mampirlah Dengar Doaku” (KJ no. 26). Orang tersebut adalah komposer lagu hymn yang terkenal bernama Fanny Crosby. Dia bahkan berkata, “Jika aku punya sebuah pilihan, aku akan tetap memilih untuk tetap buta‚Ķ karena ketika aku mati, wajah pertama yang akan kulihat adalah wajah Juruselamatku.”

Fanny Crosby tetap teguh memuliakan Tuhan meski diterpa tekanan kehidupan. Hal ini serupa dengan apa yang tertulis dalam Lukas 21 : 5-19. Tuhan Yesus menjelaskan bahwa hari Tuhan akan tiba. Namun sebelum itu akan ada peperangan, pemberontakan, gempa bumi, dan tanda-tanda lainnya. Orang Kristen dianiaya oleh karena nama Yesus. Namun di dalam kesempatan seperti itulah orang Kristen dipanggil untuk bersaksi dan tetap memuji Allah.

Lalu bagaimana dengan kita? Apakah kita selama ini sudah teguh menghadapi tekanan? Atau apakah kita sudah menyerah dan menjadi tidak setia? Tentu sulit untuk berjuang sendiri. Menyakitkan untuk mengakui bahwa kita lemah. Namun karena Allah tahu hal itu, maka Kristus datang ke dunia. Dia menjadi manusia, disalibkan, dan menebus dosa kita. Tuhan Yesus tetap teguh di tengah penderitaan. Kekuatan itu yang memampukan kita bertahan. Kita tidak sendiri dalam perjuangan ini. Ada Tuhan Yesus, keluarga, saudara, dan teman-teman kita yang menjadi anugerah Tuhan di tengah nestapa hidup. Ibarat seorang tukang pos yang tetap menyampaikan sepucuk surat meskipun diterpa badai salju. Meskipun ribuan tekanan menerpa, sudahkah kita bersaksi akan penebusan Kristus kepada dunia?

Ibarat seorang musisi yang buta namun tetap memuji Tuhan, sudahkah kita memuji Tuhan walaupun berbagai tekanan mendera? (RA)