Kehidupan Setelah Kematian

Photo by Pixabay from Pexels

Bacaan: Yohanes 20 : 27–28

Kalau mau dipikir-pikir, memang tidak mudah membayangkan kehidupan
setelah mati. Seperti apa kehidupan di sana? Apa betul langsung ke surga? Surga itu seperti apa ya? Apa betul lantainya dari emas dan gerbangnya bertaburan permata? Di sana apa selalu terang ya? Apa betul di sana nanti kita bernyanyi terus buat Tuhan? Kapan latihannya? Apa tidak habis suara kita? lha saya ga’ bisa nyanyi gimana donk? Disana makan minumnya gimana ya? rumah kita seperti apa ya? Apa nanti ketemu orang-orang kudus, siapa saja ya mereka? Nanti bisa selfie sama Yesus tidak ya? Apa harus antri dulu? Apa nanti betul akan berjumpa dengan malaikat Gabriel di gerbang surga lalu diperiksa nama kita di buku kehidupan dan akan ditentukan masuk surga atau tidak? Seperti apa bukunya? Pakai tinta apa ya nulisnya? Eh iya, nanti kalau ketemu mantan di sana harus bilang apa ya?

Orang -orang Saduki pernah meributkan soal ini. Mereka bersepakat untuk tidak percaya akan kehidupan setelah kematian. Alasannya? Ya karena tidak masuk logika. Seperti yang mereka lontarkan pada Yesus mengenai suami mana yang sah bagi seorang istri yang pernah menikah dengan tujuh laki-laki bersaudara. Yesus menjawab dengan satu inti kalimat yang tegas “Ia bukan Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup” sebuah penegasan mengenai Allah dan kehidupan.

Yesus ingin mengajar kita untuk jangan memusingkan soal apa yang akan terjadi setelah kematian, sehingga mengabaikan kehidupan yang masih dikaruniakan Allah untuk kita jalani dengan baik dan memuliakan nama-Nya. Allah orang hidup adalah Allah yang peduli pada kehidupan. Allah yang hadir memberi dan memelihara kehidupan umat-Nya baik masa kini dan tentu pada kehidupan yang akan datang. Ini menegaskan berita Injil bahwa Allah yang mengaruniakan kehidupan kekal melalui salib Kristus.

Yesus juga mengingatkan bahwa Allah sangat begitu besar dan dalam untuk bisa
terselami oleh logika kita. Oleh sebab itu jangan lupa akan misteri-Nya. Maka, berdamailah dengan misteri ilahi itu. Tidak semua pertanyaan logika kita harus ada jawabannya. Termasuk logika kehidupan setelah kematian. Sabarlah, semua akan tiba pada waktu-Nya dan kelak kita akan mengalami dan menemukan jawabannya sendiri. (DKG)