Mengalami Pengampunan, Melihat Wajah Allah

Photo by Emma Bauso from Pexels

Bacaan: Kejadian 33: 1–10

Tidak ada keluarga yang sempurna. Ketidaksempurnaan itu membuat kita menyadari bahwa setiap orang bisa saja berbuat salah. Entah kesalahan yang sederhana maupun juga kesalahan yang fatal. Meski demikian, tiap kesalahan -apapun jenis dan akibatnya- akan selalu mampu diatasi dengan satu kata: pengampunan. Apa arti kata pengampunan itu sendiri? Pengampunan adalah tindakan sadar yang diambil oleh seseorang yang telah disakiti oleh kesalahan orang lain. Dengan kesadaran itu, ia tidak dipaksa oleh siapapun dan oleh keadaan apapun. Pengampunan bukanlah melupakan kesalahan orang lain. Pengampunan adalah kesadaran untuk mengakui bahwa kita pernah terluka namun kita mau memberi kesempatan kepada orang lain untuk berubah menjadi lebih baik. Pengampunan adalah senjata terkuat dalam resep menjaga kelanggengan dan keabadian nilai dari sebuah relasi. Allah juga memberi manusia pengampunan-Nya melalui pengorbanan-Nya di kayu Salib. Itulah sebab mengapa pengampunan adalah daya pulih dan daya ubah yang begitu kuat bagi semua relasi. Baik relasi Allah dengan manusia maupun relasi dengan sesama manusia.

Pengampunan sejati dialami oleh Yakub. Ia yang dahulu adalah seseorang yang tega menipu kakaknya sendiri, kini datang bersujud sebanyak 7 kali sebagai tanda permohonan maaf yang sungguh-sungguh. Melihat adiknya yang datang dengan penyesalan dan permohonan maaf, hati Esau luluh. Esau segera berlari dan berusaha segera mendekati adiknya yang masih bersujud. Esau memeluk leher adiknya dan menciumnya. Sambil bertangis-tangisan, tanda kesedihan dan kerinduan kedua saudara ini lebih besar dari rasa sakit hati dan marah yang mereka rasakan. Pemandangan seperti ini bagai hujan di tengah kekeringan dan kegersangan hati keduanya. Semua kesalahan yang sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu serta dendam yang membara, kini luluh dengan pengampunan. Pengampunan yang diberikan Esau kepada Yakub membuat Yakub mengatakan “… karena memang melihat mukamu adalah bagiku serasa melihat wajah Allah …” (Ayat 10). Bagi Yakub wajah Allah yang penuh dengan belas kasihan adalah tanda bahwa semua kesalahannya telah diampuni. Allah mengampuni Yakub, Esau menerima dan kembali mengasihi Yakub.

Perasaan lega dan haru begitu menyelimuti hati Yakub. Pengalaman seperti ini yang juga pernah kita alami ketika pengampunan dialami. Pengampunan yang tulus akan mampu mengubah seseorang yang telah berbuat salah, menjadi seseorang yang lebih baik. Pengampunan yang tulus akan membuat orang yang telah berbuat kesalahan, kini yakin bahwa di dalam dirinya ada banyak sekali potensi baik yang masih Allah titipkan pada dirinya. Pengampunan yang tulus membuat seseorang yang dulu tidak lagi bisa melihat wajah Allah, kini mampu bertemu wajah Allah dalam diri sesama yang mau menerimanya kembali. Sungguh pengampunan seperti itulah yang mampu mengubah luka menjadi suka, mengubah duka menjadi sukacita yang besar!

Kini, maukah kita menjadi wajah-wajah Allah yang memancarkan kasih dan pengampunan bagi sesama kita? Ingatlah selalu bahwa anugerah pengampunan Allah telah begitu besar diberikan bagi kita. Selamat mengampuni, selamat memancarkan wajah Allah. (KHS)